Saat Dia Enggak Berubah, dan Kamu pun Kecewa

Kali ini, saya bakal cerita kisah nyata ya … Kisah seorang teman yang curhat ke saya. Kita kasih aja nama samaran: Mba Widya. Mba Widya, 29 tahun, sudah menikah dan punya 1 anak. Karirnya bagus di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Banyak orang mengidam-idamkan jalan cerita kehidupannya.

Jadi, sebenarnya masalah yang dialami Mba Widya ini boleh dibilang adalah gambaran masalah sebagian besar orang, anak muda juga dewasa, terkait menjalin hubungan dengan orang lain di sekitarnya, termasuk dengan pasangannya. Coba tengok kanan dan kirimu … tentu tengok juga dirimu sendiri … Pasti orang kayak gini banyak … apalagi di media sosial 🙂

Tapi kali ini, kita hanya akan ngobrolin soal kekecewaan Mba Widya saja ya … Soal yang lainnya, akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Mba Widya ini di berbagai kesempatan yang tak terhitung, dia merasa peduli dengan orang-orang di sekitarnya, terutama seseorang yang dia cinta, pasangan hidupnya. Lalu dengan alasan peduli itu, ia berharap pasangannya berubah menjadi lebih baik … menjadi manusia seperti yang dia inginkan. Tapi ternyata dia enggak berubah-berubah. Dia pun kecewa … Dia menyalahkan pasangannya karena telah bikin dia kecewa.

“Dia telah menyakiti hatiku, bersikap dan berbuat yang enggak sesuai keinginanku, enggak perhatian sama aku, mbosenin, enggak rapi, enggak begini, enggak begitu …”, begitu sebagian ungkapan kekecewaan mba Widya yang diceritakan ke saya.

Nah mba Widya tanpa sadar jadi terjebak dalam pola pikir yang selalu menyalahkan orang lain, selalu memposisikan diri sebagai korban … Dan apa akibatnya? Dia terus-terusan merasa kecewa, larut dalam kesedihan dan sakit hati, serta jadi gampang marah-marah.

Pelajaran yang kita dapatkan dari cerita ini adalah: Kalau kita terus sibuk menyalahkan orang lain, kita enggak akan bisa sembuh dari luka, kita enggak akan bisa bahagia. Sumber masalah yang sebenarnya bukanlah orang lain. Orang lain enggak akan pernah jadi sumber masalah dalam hidup kita.

Bocoran dikit ya … di cerita Mba Widya ini, karena kebiasaannya dikit-dikit menyalahkan orang lain, sampai bikin karirnya terganggu, sampe hubungannya dengan anak dan kedua orang tua serta mertuanya memburuk.

Faktanya, sikap kita yang terbiasa menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan … yang keliatannya sikap menyalahkan itu wajar-wajar saja menurut kita, juga menurut masyarakat … ternyata sikap terbiasa menyalahkan itu adalah pangkal dari banyak masalah emosi dan batin yang kita alami selama ini. Ternyata sikap itu menyeret dan menggulung kita ke masalah-masalah yang lain, bahkan sampai ke masalah kesehatan.

Tau nggak, apa penyebab sebenarnya hidup Mba Widya jadi rumit seperti itu?
Karena reaksinya terhadap kenyataan yang terjadi enggak tepat. Yang paling utama, karena dia ngotot berusaha mengendalikan orang lain supaya selalu sesuai dengan keinginannya.

Sudah saatnya kita mengoreksi diri … Masalah yang sesungguhnya adalah reaksi kita terhadap kenyataan yang terjadi. Hal-hal di luar diri yang enggak sama dengan yang kita harapkan (salah satu contohnya: sikap dan perbuatan pasangan yang enggak sesuai keinginan) bakal selalu terjadi, setiap hari, berulang kali.

Terus sebaiknya gimana?

Jadi, catet nih ya resepnya … Kita enggak bisa sepenuhnya mengendalikan kenyataan yang terjadi … Kita enggak punya kendali seutuhnya untuk mengubah orang lain supaya sesuai keinginan kita. Lhoh kok gitu? Iya, tapi kita bisa memilih bagaimana reaksi kita terhadap kenyataan yang kita alami.

Berdasarkan ilmu yang saya pelajari selama ini, terlalu ngotot berusaha mengubah orang lain dan berlebihan berharap orang lain berubah, itu salah satu sikap yang malah bikin hidup menderita. Sebenarnya, kalau kita bisa bereaksi dengan lebih tenang, lebih damai dan bijak, kita akan lebih bahagia. Dan kita akan mampu memilih cara-cara yang lebih ramah, bersikap berbekal welas asih, cinta, kasih dan sayang. Bahkan kekuatan cinta malah akan memperbesar kemungkinan orang itu untuk berubah.

Nah, balik ke kisah Mba Widya … bagaimana saran buat dirinya?
Mba Widya bertanya, “Eh gimana kalau pasanganku itu emang bersikap semena-mena, melakukan kesalahan, dan enggak bertanggung jawab? Bukankah itu berarti dia sumber masalahnya?”

Banyak sih temen-temennya yang malah ngomporin nyalahin pasangannya. Tapi saya tau persis itu akan menambah rumit masalah, dan semakin menambah penderitaan.

Saran saya, iya, pasangannya emang berbuat salah dan enggak bertanggung jawab. Itulah kenyataannya. Kenyataannya emang dia gitu. Mba Widya enggak bisa ubah. Tentu Mba Widya perlu membantu biar dia berubah. Boleh-boleh saja membantu, tapi sebaiknya kurangi berharap dia bakal berubah … kurangi memaksa dia untuk berubah.

Itu saja? Enggak … Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: Gimana mba Widya bereaksi atas kenyataan itu? Ada 2 pilihan: 1. Dia terus menyangkal kenyataan, kecewa dan marah-marah karena pasangannya enggak berubah-berubah sesuai keinginannya, atau 2. Dia ikhlaskan harapan, kurangi keinginan. Tenangkan diri, dan bereaksi sebijak mungkin. Mengikhlaskan harapan dan ikhlas menerima yang saya maksudkan bukan berarti terus diam aja ketika disakiti. Kalau emang udah enggak tahan dan udah kelewat batas, jaga jarak dari sumber “penyakit” adalah langkah yang bijak. Jaga jarak dan ikhlas menerima serta memaafkannya bisa dilakukan beriringan.

Untuk memulihkan luka dan berbahagia, kalau saya sih pilih yang ke 2. Kalau kamu pilih 1 atau 2?

Sebenarnya ada hal-hal lain yang saya sarankan untuk membantu Mba Widya memulihkan emosi dan menyembuhkan batinnya … Tapi karena di kesempatan ini, temanya cuma soal kekecewaan Mba Widya karena pasangannya enggak berubah … jadi sampe segini dulu aja ya ceritanya.

Lain waktu, saya cerita kisah nyata yang lain … Silakan bagikan cerita ini ke teman-teman terdekat, dan juga ke keluarga ya. Lagian, kasihan kan … kalau teman atau saudara kita enggak bahagia gara-gara enggak sadar dirinya terlalu sibuk nyalahin orang lain.

Begitu sebatas yang saya pelajari selama ini. Cerita ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat juga untukmu. Terima kasih ya udah baca cerita ini 🙏

Adjie Santosoputro | Emotional Healing & mindfulness

Saat Dia Enggak Berubah, dan Kamu pun Kecewa

Kali ini, saya bakal cerita kisah nyata ya … Kisah seorang teman yang curhat ke saya. Kita kasih aja nama samaran: Mba Widya. Mba Widya, 29 tahun, sudah menikah dan punya 1 anak. Karirnya bagus di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Banyak orang mengidam-idamkan jalan cerita kehidupannya.

Jadi, sebenarnya masalah yang dialami Mba Widya ini boleh dibilang adalah gambaran masalah sebagian besar orang, anak muda juga dewasa, terkait menjalin hubungan dengan orang lain di sekitarnya, termasuk dengan pasangannya. Coba tengok kanan dan kirimu … tentu tengok juga dirimu sendiri … Pasti orang kayak gini banyak … apalagi di media sosial 🙂

Tapi kali ini, kita hanya akan ngobrolin soal kekecewaan Mba Widya saja ya … Soal yang lainnya, akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Mba Widya ini di berbagai kesempatan yang tak terhitung, dia merasa peduli dengan orang-orang di sekitarnya, terutama seseorang yang dia cinta, pasangan hidupnya. Lalu dengan alasan peduli itu, ia berharap pasangannya berubah menjadi lebih baik … menjadi manusia seperti yang dia inginkan. Tapi ternyata dia enggak berubah-berubah. Dia pun kecewa … Dia menyalahkan pasangannya karena telah bikin dia kecewa.

“Dia telah menyakiti hatiku, bersikap dan berbuat yang enggak sesuai keinginanku, enggak perhatian sama aku, mbosenin, enggak rapi, enggak begini, enggak begitu …”, begitu sebagian ungkapan kekecewaan mba Widya yang diceritakan ke saya.

Nah mba Widya tanpa sadar jadi terjebak dalam pola pikir yang selalu menyalahkan orang lain, selalu memposisikan diri sebagai korban … Dan apa akibatnya? Dia terus-terusan merasa kecewa, larut dalam kesedihan dan sakit hati, serta jadi gampang marah-marah.

Pelajaran yang kita dapatkan dari cerita ini adalah: Kalau kita terus sibuk menyalahkan orang lain, kita enggak akan bisa sembuh dari luka, kita enggak akan bisa bahagia. Sumber masalah yang sebenarnya bukanlah orang lain. Orang lain enggak akan pernah jadi sumber masalah dalam hidup kita.

Bocoran dikit ya … di cerita Mba Widya ini, karena kebiasaannya dikit-dikit menyalahkan orang lain, sampai bikin karirnya terganggu, sampe hubungannya dengan anak dan kedua orang tua serta mertuanya memburuk.

Faktanya, sikap kita yang terbiasa menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan … yang keliatannya sikap menyalahkan itu wajar-wajar saja menurut kita, juga menurut masyarakat … ternyata sikap terbiasa menyalahkan itu adalah pangkal dari banyak masalah emosi dan batin yang kita alami selama ini. Ternyata sikap itu menyeret dan menggulung kita ke masalah-masalah yang lain, bahkan sampai ke masalah kesehatan.

Tau nggak, apa penyebab sebenarnya hidup Mba Widya jadi rumit seperti itu?
Karena reaksinya terhadap kenyataan yang terjadi enggak tepat. Yang paling utama, karena dia ngotot berusaha mengendalikan orang lain supaya selalu sesuai dengan keinginannya.

Sudah saatnya kita mengoreksi diri … Masalah yang sesungguhnya adalah reaksi kita terhadap kenyataan yang terjadi. Hal-hal di luar diri yang enggak sama dengan yang kita harapkan (salah satu contohnya: sikap dan perbuatan pasangan yang enggak sesuai keinginan) bakal selalu terjadi, setiap hari, berulang kali.

Terus sebaiknya gimana?

Jadi, catet nih ya resepnya … Kita enggak bisa sepenuhnya mengendalikan kenyataan yang terjadi … Kita enggak punya kendali seutuhnya untuk mengubah orang lain supaya sesuai keinginan kita. Lhoh kok gitu? Iya, tapi kita bisa memilih bagaimana reaksi kita terhadap kenyataan yang kita alami.

Berdasarkan ilmu yang saya pelajari selama ini, terlalu ngotot berusaha mengubah orang lain dan berlebihan berharap orang lain berubah, itu salah satu sikap yang malah bikin hidup menderita. Sebenarnya, kalau kita bisa bereaksi dengan lebih tenang, lebih damai dan bijak, kita akan lebih bahagia. Dan kita akan mampu memilih cara-cara yang lebih ramah, bersikap berbekal welas asih, cinta, kasih dan sayang. Bahkan kekuatan cinta malah akan memperbesar kemungkinan orang itu untuk berubah.

Nah, balik ke kisah Mba Widya … bagaimana saran buat dirinya?
Mba Widya bertanya, “Eh gimana kalau pasanganku itu emang bersikap semena-mena, melakukan kesalahan, dan enggak bertanggung jawab? Bukankah itu berarti dia sumber masalahnya?”

Banyak sih temen-temennya yang malah ngomporin nyalahin pasangannya. Tapi saya tau persis itu akan menambah rumit masalah, dan semakin menambah penderitaan.

Saran saya, iya, pasangannya emang berbuat salah dan enggak bertanggung jawab. Itulah kenyataannya. Kenyataannya emang dia gitu. Mba Widya enggak bisa ubah. Tentu Mba Widya perlu membantu biar dia berubah. Boleh-boleh saja membantu, tapi sebaiknya kurangi berharap dia bakal berubah … kurangi memaksa dia untuk berubah.

Itu saja? Enggak … Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: Gimana mba Widya bereaksi atas kenyataan itu? Ada 2 pilihan: 1. Dia terus menyangkal kenyataan, kecewa dan marah-marah karena pasangannya enggak berubah-berubah sesuai keinginannya, atau 2. Dia ikhlaskan harapan, kurangi keinginan. Tenangkan diri, dan bereaksi sebijak mungkin. Mengikhlaskan harapan dan ikhlas menerima yang saya maksudkan bukan berarti terus diam aja ketika disakiti. Kalau emang udah enggak tahan dan udah kelewat batas, jaga jarak dari sumber “penyakit” adalah langkah yang bijak. Jaga jarak dan ikhlas menerima serta memaafkannya bisa dilakukan beriringan.

Untuk memulihkan luka dan berbahagia, kalau saya sih pilih yang ke 2. Kalau kamu pilih 1 atau 2?

Sebenarnya ada hal-hal lain yang saya sarankan untuk membantu Mba Widya memulihkan emosi dan menyembuhkan batinnya … Tapi karena di kesempatan ini, temanya cuma soal kekecewaan Mba Widya karena pasangannya enggak berubah … jadi sampe segini dulu aja ya ceritanya.

Lain waktu, saya cerita kisah nyata yang lain … Silakan bagikan cerita ini ke teman-teman terdekat, dan juga ke keluarga ya. Lagian, kasihan kan … kalau teman atau saudara kita enggak bahagia gara-gara enggak sadar dirinya terlalu sibuk nyalahin orang lain.

Begitu sebatas yang saya pelajari selama ini. Cerita ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat juga untukmu. Terima kasih ya udah baca cerita ini 🙏

503 Service Unavailable

Service Unavailable

The server is temporarily unable to service your request due to maintenance downtime or capacity problems. Please try again later.

Additionally, a 503 Service Temporarily Unavailable error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.