Senang Beda dengan Bahagia

Banyak orang yang enggak nyadar kalau senang itu beda dengan bahagia.

Dipuji, diakui, diterima, disanjung itu senang. Melihat bunga bermekaran, matahari terbenam, dan indahnya alam raya itu bahagia.
Sukses berhasil meraih, menjadi juara, itu senang. Melakukan sesuatu yang memang benar-benar suka itu bahagia.
Memimpin, berkuasa, mengendalikan orang, itu senang. Ngobrol akrab dengan teman itu bahagia.

Senang itu perasaan duniawi, dibuat oleh budaya dan masyarakat supaya manusia produktif dan dapat dikendalikan. Senang tidak menghasilkan kepenuhan. Berbeda dengan bahagia. Bahagia itu perasaan jiwa yang berasal dari kepenuhan diri. Senang itu sekadar menghasilkan percikan sesaat yang ujungnya kehampaan.

Satu-satunya jalan untuk berbahagia adalah dengan ikhlas melepaskan ketergantungan emosional, kemelekatan.
“Kalau enggak punya sesuatu, atau kalau enggak memiliki seseorang maka enggak bahagia” adalah contoh keyakinan palsu. Keyakinan-keyakinan semacam ini perlu diruntuhkan kalau memang benar-benar mau bahagia.

Selama seseorang terjerat anggapan “kalau enggak kaya, maka enggak bahagia”, “kalau enggak sama dia, maka enggak bahagia”, “kalau enggak cerai, maka enggak bahagia”, dan semacamnya, maka ia akan terus jadi budak, terpenjara, dan menderita.

|