Keheningan Selalu Menyembuhkan

Dulu saya beranggapan, untuk menyembuhkan sakit hati dan luka batin, saya harus mengalihkan perhatian, mengarahkannya pada hal-hal positif, dan ikut bergabung dalam keramaian-keramaian yang bikin hati ini gembira. Saya harus terus menghindari suasana sepi. Karena sepi membuat saya jadi bertemu dan berduaan dengan rasa sakit itu. Ngeri. Perih.
Jadi saya rajin jalan-jalan, dan ngobrol rame-rame sama temen. Buat saya itu adalah cara gampang buat menyembuhkan sakit. Pokoknya, semakin saya ikut serta dalam keramaian, semakin gaduh, maka semakin saya merasa baik-baik saja.

Tapi gimana kenyataannya?

Memang benar, dengan cara-cara itu rasa sakit saya cepet sembuhnya. Tapi ternyata itu hanya seolah-olah sembuh. Bahayanya, di lain waktu, di luar perkiraan, sakit itu bisa terasa lagi dan bahkan semakin perih. Bisa meluap jadi kemarahan yang meledak, bahkan marah pada diri saya sendiri, dan orang-orang tercinta yang enggak tahu-menahu duduk permasalahannya.

Mengalihkan perhatian, jalan-jalan, hore bersama temen-temen, dan ikut bergabung dalam keramaian yang bikin hati gembira itu ternyata bukan menyembuhkan sakit, tapi hanya menutupi sakit. Karena hanya menutupi, jadi ya hanya sebatas menutupi, bukan menyembuhkan. Sakitnya masih ada, enggak sembuh. Malahan saya jadi kecanduan melakukan hal-hal untuk menutupi rasa sakit. Dan keadaan ini, tanpa disadari, jadi melatih saya berpura-pura bahagia. Situasi bertambah rumit. Luka dan derita semakin parah. Bahkan saya pernah sampai pingin bunuh diri.

Saya jadi mudah marah-marah, ke orang-orang yang tinggal serumah, juga ke orang-orang yang saya enggak kenal sebelumnya. Muka saya sangat miskin senyum. Bahkan lama-lama tubuh saya mudah sakit-sakitan. Sisa-sisanya pun masih terasa sampai sekarang 🙂
Setelah mengalami itu semua, seolah saya ditampar dan sadar. Saya merenung bertanya, “Kenapa mengalihkan perhatian dan ikut bergabung dalam keramaian-keramaian yang bikin hati saya gembira ternyata enggak bikin luka batin saya sembuh, malahan bisa memperparah keadaan?”

“Di tengah perlombaan lari dari kenyataan, keikhlasan menemui dan menerima rasa sakit akan selalu menyembuhkan luka. Di tengah berlimpahnya suara dan keriuhan ada di mana-mana, meluangkan waktu untuk sendirian dan diam dalam keheningan akan selalu punya daya untuk menyembuhkan luka.”

Karena buat saya, hidup ini adalah perjalanan untuk menyembuhkan luka batin, maka saya berniat menyembuhkannya dengan cara yang tepat, yaitu dengan belajar hening dan berlatih mengistirahakan pikiran. Bukan dengan mengalihkan perhatian, tapi dengan ikhlas menerima setiap luka.
Belajar hening berarti belajar kehidupan lebih mendalam. Karena itu, yang saya butuhkan bukanlah guru yang cerdas, yang banyak ngomongnya. Tapi guru yang levelnya lebih tinggi lagi, yaitu guru yang bijaksana. Guru yang dengan diam saja, sudah mengajari banyak hal.
Meski kadang penampilannya enggak mewah, guru-guru seperti ini, kehadirannya saja sudah menyejukkan hati. Tarikan dan hembusan napasnya saja sudah memberikan banyak pelajaran.

DI kesempatan ini, saya sepenuh hati berterima kasih dan menunduk hormat kepada guru-guru yang sudah berada di level ini, di manapun para guru itu berada 🙏