8 Latihan Penting untuk Menerima Diri Sendiri Seutuhnya

Sebelum menuntut orang lain menerima diri kita apa adanya, sudahkah kita menerima diri kita sendiri seutuhnya?

Saat ingat kesalahan yang pernah kita perbuat, perasaan enggak karuan. Menolak dan melawan kenyataan, sebel, dan buat saya, ini membuat saya jadi membenci diri sendiri. Akibatnya, luka batin kita pun kerap bertambah parah. Padahal, inilah saat yang paling membutuhkan keikhlasan untuk menerima diri sendiri … baik dan buruknya, bagus dan jeleknya, kuat dan lemahnya … seutuhnya.

Sembuh dari luka batin dan bahagia sepenuhnya enggak selalu ditentukan oleh penerimaan yang kita dapatkan dari orang lain. Diterima banyak orang belum pasti akan bikin bahagia. Serta enggak semua penolakan pasti bakal bikin menderita.

Menerima diri sendiri atau membenci diri sendiri lebih merupakan urusan di dalam diri atau dialog batin. Menyadari gejolak pikiran dan perasaan sendiri. Ketimbang menuntut orang lain buat menerima kita. Terlebih sampai mengorbankan diri hanya untuk mendapatkan pengakuan. Iya. Penerimaan dari orang sekitar, terutama pasangan hidup, di kadar tertentu emang penting. Namun kita perlu sadar, yang benar-benar tau tentang diri kita ya kita sendiri kan? Enggak bisa diwakilkan orang lain. Dadi yo kowe dewe sing kudu isa nrima awakmu. Ora sah nganti ngemis-ngemis wong liya ben nrima awakmu.

Penting untuk dilakukan, tapi sering diabaikan dalam rangka menyembuhkan luka batin dan hidup bahagia, yakni menerima diri kita sendiri seutuhnya. Apa adanya. Sepenuhnya.

Saya ingat pertama kali bikin sesi terkait #EmotionalHealingBarengAdjie sekitar 3 tahun lalu. Sejak itu semakin bertambah orang yang merasakan manfaat ikut sesi tersebut. Jadi, wajar ketika banyak orang mengira saya diterima oleh khalayak ramai. Yang enggak mereka tahu adalah saya justru semakin merasa perlu menerima diri sendiri. Yang awalnya cuma sadar kalau menerima diri sendiri itu penting, perlahan berkembang jadi berusaha dan berlatih menerima diri sendiri.

Sampai kini latihan menerima diri saya sendiri itu masih berlangsung. Seringnya masih membenci diri sendiri. Namun, melihat kembali ke belakang, dengan semangat menggebu agar diterima orang lain dan jadinya malah membenci diri sendiri, saya melakukan 8 latihan penting ini:

1. Latihan bersantai dan hanya menyadari.
Terbiasa dituntut untuk serius, mengubah, melawan, tentu bakal membuat semakin membenci diri sendiri. Latih diri untuk bersantai dan hanya menyadari pikiran-perasaan yang datang. Hanya mengamatinya. Enggak perlu mengendalikannya …

2. Menerima apapun pikiran dan perasaan yang datang.
Enggak perlu berusaha mengubah pikiran negatif menjadi positif. Baik negatif, maupun positif … itu semua adalah bagian dari hidup ini. Enggak pa-pa. Kalau berusaha melarikan diri atau melawannya, malah bikin menderita.

3. Kurangi membandingkan diri dengan yang lainnya.
Terus membandingkan itu enggak ada manfaatnya. Sadari setiap kali mulai membandingkan. Setelah bener-benar sadar bahwa terus membandingkan akan bikin menderita, maka pelan-pelan kurangilah.

4. Luangkan waktu buat bersyukur.
Pagi bangun tidur, menyadari apa aja yang telah saya dapatkan dan saya perlu mensyukurinya. Kalau pernah melakukan kesalahan, hikmah apa yang bisa disyukuri dari kesalahan itu? Bisa juga tuliskan apa saja yang disyukuri setiap hari.

5. Bersikap ramah dan memaafkan diri sendiri.
Ketika membenci diri sendiri karena melakukan kesalahan … pelan-pelan saya belajar memahami, mengapa saya melakukannya? Apa alasan sebenarnya saya melakukan kesalahan itu? Dengan memahaminya, saya lebih mampu memaafkan diri sendiri.

6. Belajar dari semua bagian. Belajar secara utuh.
Kita seringkali menilai: sukses itu baik, gagal itu buruk. Kaya itu baik, miskin itu buruk. Saya belajar menyadari bahwa semuanya baik adanya. Semuanya memberikan pelajaran kehidupan, termasuk kenyataan yang jauh dari harapan.

7. Memberi jarak dengan pikiran dan perasaan sendiri.
Apapun pikiran dan perasaan yang datang, saya menyadari bahwa itu hanyalah bagian dari diri saya. Pikiran dan perasaan bukanlah saya. Saya hanya mengamatinya. Pikiran dan perasaan layaknya awan di langit yang berlalulalang.

8. Curhat.
Kita terlalu larut dalam pikiran dan perasaan sendiri (baper). Akibatnya, sulit melihat kenyataan dengan jernih. Curhat kepada orang yang beneran saya percaya, membantu saya memahami dan menerima diri sendiri lebih baik.

Banyak orang perlu sadar, apapun keadaan yang lagi dialami, mereka selalu punya kesempatan untuk berlatih menerima diri sendiri. Bisa tetap bekerja, berkarya, menjalin hubungan dengan sesama, dan penerimaan diri sendiri dijadikan sebagai pondasi utamanya.

Selain 8 latihan di atas, masih banyak latihan yang enggak kalah pentingnya untuk dilakukan, seiring perjalanan hidup ini. Saya rasa, intinya adalah: latihan menerima diri sendiri mampu memulihkan luka batin, asal kita sungguh-sungguh latihan.

Menurut pendapatmu atau pengalamanmu pribadi, kira-kira latihan penting apa lagi yang bisa dilakukan untuk menerima diri sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *