Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Merasa Sakit? (Termasuk Sakit Hati)

Sebatas intuisi saya, postur tubuh saya sekarang seperti ini … punggung sering terasa kaku, sakit, bahu kiri lebih “sombong” daripada bahu kanan 🙂 maksud saya, pas saya berdiri santai, bahu kiri lebih tinggi daripada bahu kanan (lihat foto) … ini karena dulu, semasa kecil sampai remaja, karena saya gila main sepakbola dan kaki saya kidal, saya berlebihan menggunakan kaki kiri saya buat nendang bola, tanpa pemanasan dan latihan yang memadai.

Kapan itu, mumpung saya di Bandung, saya ngajak ketemuan mas Setyo Jojo … guru yoga yang mumpuni, yang enggak cuma bersertifikat guru yoga. Setelah diterapi, terasa mendingan. Bahu kiri agak turun. Tapi karena memang sudah menahun, jadi perlu telaten terapi, dan menjaga postur tubuh dalam kegiatan sehari-hari.

Nah, akibat postur tubuh saya gini, selama ini, napas saya itu enggak nyaman. Enggak bisa lega dan maksimal. Berpengaruh ke keadaan pikiran yang jadi mudah enggak tenang.

Terkait keadaan ini, latihan hening yang saya lakukan, saya mulai dengan menyadari rasa sakit … dan di momen ini, saya jadi tahu pola pikir saya sendiri, yaitu: berusaha mengusir rasa sakit, melawan rasa sakit, atau melarikan diri dari rasa sakit. Ini adalah pola pikir yang sudah mengakar sejak masa kanak-kanak banyak orang. Kemudian, sesuai dengan latihan hening … latihan mengistirahatkan pikiran yang saya pelajari … saya berlatih untuk tidak mengusir, tidak melawan, tidak melarikan diri dari rasa sakit … saya menerimanya. Terima … terima … terima … Dalam keheningan, saya ikhlas menerima. Dan pelan-pelan rasa sakit itu reda dengan sendirinya.

Jadi, yang sebenarnya lebih bikin kita merasa sakit itu sakitnya? Atau sesungguhnya yang lebih bikin kita merasa sakit itu penolakan dan perlawanan kita terhadap rasa sakit?
Enggak perlu tergesa dijawab … direnungkan saja dulu.

Setidaknya, ketika merasa sakit, termasuk sakit hati, belajarlah untuk tidak mengusir, tidak melawan, tidak melarikan diri dari rasa sakit itu … tapi belajarlah hanya untuk ikhlas menerimanya. Kalau memang diperlukan, barulah mengambil langkah selanjutnya.

Saya juga masih sering enggak mau ikhlas menerima rasa sakit. Masih seringnya melawan, melawan, dan melawan. Meniru cerita-cerita yang disajikan lewat lagu dan film. Terkesan heroik. Guru hening di dalam diri pun tetiba menegur, “Makanya, Djie, itu kenapa sampai sekarang kamu belum benar-benar bahagia!”

Selamat berlatih ikhlas menerima rasa sakit 🙏

Temanmu seperjalanan dalam hening …
– Adjie Santosoputro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *