Berhenti Berburu yang Baru

Tantangan besar di zaman yang begitu cepat melahirkan sesuatu yang baru adalah, kita jadi cepat merasa bosan, dan muncul keinginan menggebu buat mendapatkan yang lebih baru lagi, lebih baru lagi, dan lagi.
Provokasi bernada “jangan cepat merasa puas dengan yang sudah kamu punya”, “biar keren harus pake yang paling baru”, sepertinya sudah nempel banget di pikiran bawah sadar kita semua.
Kita gampang bosan dengan pakaian, rumah, pekerjaan, kegiatan, juga teman hidup yang sudah kita punya.

Kita terus berusaha mati-matian mendapatkan yang paling baru, karena ingin dianggap keren, ingin diakui, dan terpenjara konsep “orang sukses harus punya yang paling baru”. Membenci diri sendiri kalau enggak punya atau ngalamin hal-hal baru.
“Baru” dan melalui iklan, kita dibikin merasa bosen dengan keadaan kita, bosen dengan yang sudah kita punya … dalam dunia bisnis, sebagian besar menjadikan ini sebagai senjata agar bisnisnya berjalan.

Jadi, kita digempur sana-sini, di berbagai kesempatan, termasuk melalui iklan, dengan tujuan memasukkan pesan ke pikiran kita: yang kamu punya udah kuno, keadaanmu ngebosenin. Kita jadi lapar akan segala yang baru, karena di dalam diri kita, ada rasa selalu kurang. Enggak pernah merasa cukup. Seringkali kita ditipu oleh pikiran kita sendiri bahwa yang baru selalu lebih menyenangkan. Pakaian baru, rumah baru, bahkan sampai dengan suami atau istri baru.

Dengan kata lain, kita beranggapan, punya barang-barang baru, mendapatkan pengalaman baru, akan membuat rasa bosan di dalam diri hilang.
Ini sama saja dengan, atap yang bocor di dalam rumah, tapi yang dibenerin pagar di luar. Masalahnya ada di dalam, yang kita obati di luar.

Beberapa waktu lalu, enggak sengaja saya nonton di sebuah tayangan, seorang selebritis bilang kalau dirinya mudah bosan. Ia tentu saja jauh lebih terkenal dan kaya dibanding kebanyakan orang. Ketakutannya adalah hidupnya terasa ngebosenin, jadi dia terus beli barang-barang baru.
Inilah lucunya hidup ini. Kita yang sudah jauh lebih tua, lebih pintar, punya banyak ilmu pengetahuan, lebih punya harta ketimbang anak-anak, namun jadi gampang bosen dengan keadaan, jadi buta dengan keindahan dan keajaiban setiap momen yang disajikan kehidupan.
Sementara anak-anak kecil yang pikirannya masih belum dijejali berbagai keribetan, pikirannya masih polos, mereka mudah takjub dan gembira pada hal-hal yang sederhana. Tentu saja kamu pernah melihat anak-anak tertawa riang hanya karena denger suara tepuk tangan.
Atau hanya karena melihat bola yang dipantulkan di tembok, mengejar gelembung sabun, menyanyi lagu “cicak-cicak di dinding …” yang terus diulang. Kita bertambah usia meninggalkan masa anak-anak, dan juga meninggalkan kemampuan kita untuk menyadari setiap detik adalah berkah.

Di sisi lain, seorang teman abis ikut seminar motivasi dan bisnis. Dia terlihat sangat optimis. Tapi saya juga mengamatinya, ia jadi begitu sibuk. Hingga ia lupa bahwa bernapas, sinar matahari, orang tercinta, adalah berkah yang patut disyukuri. Ia merasa bosan dengan itu semua.
Tentu punya semangat kerja seperti itu tidak salah. Namun kita juga perlu membekali diri dengan kemampuan mengistirahatkan pikiran, menyadari bahwa setiap momen adalah berkah. Yang kita punya sudah indah. Seperti waktu kita masih anak-anak dulu kala, bisa bahagia hanya karena hal-hal sederhana.

Jadi kalau kita terlalu gampang bosen dengan keadaan, dan berharap ngilangin bosennya dengan cara berburu hal-hal yang baru, maka akibatnya kita akan sulit bertemu dengan bahagia.
Kenapa?
Karena bahagia hanya ada ketika kita mensyukuri yang sudah kita punya dan mensyukuri setiap momen …
Lucunya, begitu banyak orang sekarang ini yang terus lapar pada apapun yang baru, sementara juga jadi gampang bosen dengan keadaan, enggak bisa menikmati dan menyadari bahwa setiap detik adalah berkah yang perlu dirayakan dengan senyuman.

Kita rajin melatih diri biar enggak cepat puas, dan mati-matian mendapatkan hal-hal baru atas nama biar gaul ngikutin trend. Namun apa yang diajarkan para suci untuk punya hati yang penuh syukur hanya numpang lewat melalui telinga kiri dan kanan.
Agama kita bela, bahkan ada yang sampai merasa dirinya jadi Tuhan kalau ada yang nyolek dikit saja. Tapi apa yang diperintahkan agama untuk jadi manusia seutuhnya, mensyukuri setiap momen, enggak jadi budak harta, cuma berhenti sebatas kata-kata mentah, tanpa tindakan nyata.

Seorang guru Zen, Shunryu Suzuki, berkata: “Kalau pikiranmu kosong, kamu akan selalu siap untuk menerima apapun, terbuka untuk segalanya. Di pikiran seorang pemula, ada banyak kemungkinan. Tapi di pikiran seorang pakar, hanya ada sedikit kemungkinan.”
Pikiran anak-anak adalah pikiran seorang pemula. Pikiran polos yang enggak mudah bosan, sehingga tetap eling lan waspada pada hal-hal baru. Duduk hening, meditasi, tafakur, saat teduh, adalah latihan agar pikiran kita jadi layaknya pikiran anak-anak, tetap terhubung dengan kesederhanaan.
Penting untuk kita sadari, kita … terutama saya, sering meremehkan setiap detik, setiap momen. Enggak sadar kalau setiap detik, setiap momen di sini-kini itu berkah yang sangat indah. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita perlu melakukan latihan-latihan untuk membalikkan keadaan.

Berikut 3 latihan yang saya lakukan:
1. Berlatih melihat sekitar seperti anak-anak. Mengamati apapun itu layaknya baru pertama kali mengamatinya. Melihat seperti belum pernah melihat sebelumnya. Sehingga menyadari keajaiban yang tersaji setiap hari, yang tersimpan di dalam setiap momen …
2. Secara berkala, saya juga menyadari hal-hal kecil nan sederhana, yang karenanya saya merasa bersyukur telah mempunyainya atau pun mengalaminya. Seperti kasur yang bersedia saya tiduri tiap malam, nafas yang setia menemani, jari-jari yang membuat saya bisa ngetik, teman-teman di social media, dan masih banyak lagi lainnya.
3. Saya berlatih melihat orang-orang yang ada di sekitar saya, termasuk mereka yang sering saya temui dan saling bertegur sapa setiap hari … dan saya menyadari bahwa mereka adalah berkah terindah di hidup saya. Menyadari bahwa mereka sangat layak untuk saya cintai, bukan saya benci. Sangat layak untuk saya terima apa adanya sepaket dengan luka batin dan penderitaannya.

Bila kita berniat bahagia, kita perlu menyadari setiap momen sebagai berkah yang begitu ajaib dari semesta. Kita telah diberi anugerah, yaitu berupa kehidupan ini, dan kitalah yang diberi kesempatan untuk menjadi saksi-saksi keindahannya. Yuk kita saling mengingatkan, supaya enggak melupakan keindahan setiap momen kehidupan.

– Adjie Santosoputro

|  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *