Bullying dan Bola Marah yang Menabrak Tak Tentu Arah

Saya mendukung korban bullying untuk mendapatkan keadilan seadil-adilnya, dan mendukung pelaku bullying mendapatkan hukuman setimpal sesuai dengan hukum pengadilan yang berlaku. Kalau hukum semesta, hukum karma atau sebab-akibat, tak saya ragukan lagi, akan berjalan selalu adil. Tak ada yang bisa menghindar darinya. Apa yang kita perbuat, hanya soal waktu, itulah yang kita dapatkan.

Bullying, sepakbola dan laba-laba. Kesalahan yang dilakukan satu pemain suatu tim sepak bola hingga gawangnya kebobolan, memang tak selalu berasal dari dirinya sepenuhnya. Ada kala, saat satu pemain melakukan kesalahan, mungkin salah mengoper bola, salah menakar kekuatan tendangan, dengan segala tekanan di tengah pertandingan, kondisi fisik, dan batin, dia begitu justru karena sebelumnya rekan satu tim telah lebih dulu melakukan kesalahan. Satu kesalahan seseorang seringkali melahirkan kesalahan yang lain.

Di suatu kesempatan, saya melihat seekor laba-laba begitu tekun sedang merajut jaring satu per satu untuk dijadikan sarang. Di mana yang sepertinya sangat dipahami oleh laba-laba itu justru bukan hanya ketelitiannya melihat per bagian sarang atau satu jaring terpisah dengan jaring-jaring lain. Hal yang perlu diperhatikan, laba-laba itu sungguh menyadari bahwa antar jaring itu saling mempengaruhi. Satu jaring mempengaruhi jaring yang lain. Jaring yang keliru penempatannya bisa jd krn jaring sebelum-sebelumnya yang juga keliru penempatannya.

Seperti halnya bullying. Bukan hanya perihal “apa”, tapi lebih dalam lagi: “mengapa” pelaku melakukannya. Pelaku bullying tak melulu tentang kesalahan dirinya sepenuhnya. Bullying yang ia dapatkan sebelumnya membuat ia terpicu melakukan bullying. Pelaku bullying pun sebenarnya korban bullying. Maka jangan heran ketika semakin bertambah orang yang begitu mudah marah hanya karena hal-hal sepele, akrab dengan kekerasan dan kebencian, serta santai-santai saja meski telah melakukan bullying

Kenapa? Karena semakin bertambah pula pihak yang dengan berbagai bentuk “membully” lainnya. Mungkin tanpa sadar, kita termasuk pelaku bullying. Akibatnya orang yang kita bully itu melampiaskan kemarahannya dengan jadi pelaku bullying. Terus seperti itu, sampai terjadilah rantai bullying. Misal dalam hubungan orang tua dengan anak.

Dengan alasan sibuk bekerja, orang tua tak punya waktu berkualitas bersama dengan anaknya. Atau lebih asyik menatap layar gadget ketimbang menatap mata anaknya. Padahal ini adalah kesempatan indah memperkuat energi cinta kasih dan welas asih orang tua-anak. Ditambah lagi, seberapa sering orang tua memaksakan kehendaknya demi memuaskan egonya sendiri agar anak belajar suatu hal, padahal anak sungguh tak berminat mempelajarinya? Lalu anak melampiaskan marahnya ke teman, guru, pasangan, dan ke anaknya kelak kalau ia jadi orang tua.

Selain dari sisi orang tua, perihal bullying ini juga dipengaruhi dari sisi lingkungan. Mari kita renungkan … Sekarang ini kira-kira masyarakat lebih gemar dengan keributan, kemarahan dan kekerasan atau sebaliknya? Yang lebih rame diomongin dan diberitakan kebencian atau cinta? Sebagian netizen juga menggunakan momen kesalahan orang lain, atau menggunakan interaksi dengan orang yang dibenci, untuk meluapkan kemarahan (termasuk kemarahan kepada dirinya sendiri) yang sudah dipendam sekian lama. Tak disadari, ini termasuk sikap yang malah melestarikan bullying.

Korban bullying adalah korban. Pelaku bullying pun adalah korban. Korban “bullying” dengan berbagai bentuk yang berserakan di mana-mana. Kita semua adalah korban. Korban dari sistem yang ada. Kita seolah terkurung dalam sistem yang telah gagal menyuburkan benih kedamaian, tapi berhasil melestarikan kekerasan. Sistem yang membuat seseorang bak pahlawan ketika mampu membalas kekerasan dengan kekerasan, membuat seseorang berbangga diri ketika bisa membalas kemarahan dengan kemarahan, membuat seseorang terkesan heroik ketika dengan sadis membalas sakit hati dengan menyakiti hati. Sistem yang sebenarnya nurani kita udah tahu sistem ini tdk benar, tapi tanpa sadar kita sdh terlanjur nyaman berada di dalamnya.

Bola marah ini menabrak ke sana ke mari tak tentu arah, tak terkendali. Layaknya bom waktu, marah yang tak kunjung disembuhkan akan meledak hebat sewaktu-waktu.

Karenanya, langkah indah mengurangi bullying adalah dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sehari-hari, dimulai dari:

Memilih bersikap ramah meski punya hak untuk marah. Namun bukan pula berarti diam dan tak melawan. Jaga jarak dari yang menyakiti pun adalah langkah yang bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *