Cinta yang Sempurna

Kapan itu, terdengar kabar bahwa Angelina Jolie menggugat cerai Brad Pitt, karena Jolie kesal dengan Pitt. Padahal cukup banyak perempuan ketika ditanya, “Kamu ingin punya suami ganteng seperti siapa?”, jawabannya adalah, “Seperti Brad Pitt”. Jolie malah sepertinya dengan entengnya menceraikan Pitt. Tapi mungkin ganteng itu percuma, kalau ngeselin ya?

Tiba-tiba saya teringat secuil cerita pengalaman berikut ini.
Padahal cantik, tapi perempuan itu tidak jadi dinikahi kawan saya. Ia beralasan, “karena dia ga bisa masak …”
Selang beberapa waktu, ia menjalin hubungan yang cukup lama dengan seorang perempuan yang cantik dan bisa masak. Saya kira ia akan mengakhiri masa lajangnya bersama perempuan ini. Tapi ternyata untuk kedua kalinya, ia mengurungkan niatnya untuk menikah, dengan alasan, “karena dia kalau diajak ngobrol sering ga nyambung …”.

Untuk kesekian kalinya, teman saya dengan muka yang penuh keseriusan, berniat menikah. Berkenalan dengan seorang perempuan yang bisa masak, ia melihat parasnya yang sangat cantik, apalagi saat diajak ngobrol bisa nyambung. Gemetar badannya karena gugup setiap kali melihatnya. Ia benar-benar jatuh cinta yang berjuta rasanya, dan bersedia menikahinya. Apapun akan ia lakukan supaya berdua bisa duduk di kursi pelaminan. Tapi pernikahan pun tak kunjung terjadi seperti sebelum-sebelumnya.

Mengapa?

Karena … Perempuan itu ternyata tidak mencintainya. Perempuan itu mencari laki-laki yang lebih sempurna darinya.

Pelajaran indah yang didapatkan adalah, kita tak akan mampu mendapatkan seseorang yang sangat sempurna sesuai dengan yang benar-benar kita inginkan. Menuntut pasangan hidup agar selalu sesuai keinginan pun malah akan menjauhkan diri dari kebahagiaan. Satu-satunya cara mempunyai hubungan cinta yang sempurna adalah dengan ikhlas menerima ketidaksempurnaan orang tercinta …

“Segala yang datang dan pergi dalam hidup ini: keluarga, ibu, ayah, kakak, adik, suami, istri, anak, sahabat, kawan, kekasih, setiap peristiwa, baik yang menyulut tawa maupun air mata, sudah cukup baik adanya.”

Bagaimana denganmu, apa yang kamu lakukan untuk merawat hubungan cintamu dengannya?

One response to “Cinta yang Sempurna”

  1. Dika says:

    Saya sebelumnya, merasa bahwa suami saya tidak perhatian, tidak perduli, dll dll, dan saya merasa marah, sebel, stres, dll dll. Sampai saya ingin pisah saja, tp saya memikirkan anak saya, akhirnya saya megalihkan perhatian dan perasaan saya ke anak. Saya kira itu berhasil. Tapi, perasaan saya sama sekali ga berubah. Saya masih merasaka marah, bahkan semakin parah. Saya curhat sama teman, bukannya lebih baik malah semakin ga karuan rasanya.
    Beberapa bulan lalu, setelah mencari dan mencari, sampai akhirnya menemukan mas adjie atas saran teman saya yang saya juga belum pernah ketemu sama beliau, saya akhirnya sadar bahwa cara saya salah. Sejak itu saya coba merubah cara berpikir saya dalam menghadapi sikap suami saya. Masih susah banget, tapi saya merasa itu cara paling tepat. Sekarang saya masih kadang sebel sama suami saya, tapi ga seperti sebelumnya. Sekarang sebelnya seperti ada yang bilang bahwa saya lagi sebel sama suami saya dan kalau sudah begitu saya NGEKEK sendiri.
    Terimakasih mas adjie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *