Soal Label Pribumi dan Mengenal Diri yang Sejati

Akibat pidato Gubernur DKI Jakarta yang baru di Balai Kota, Senin lalu, kata “pribumi” mendadak terkenal dan jadi ramai diperbincangkan banyak orang. Mungkin jadi bersaing popularitasnya dengan lagu “Akad” yang dinyanyikan Payung Teduh, atau lagu “Sayang”nya Via Vallen 🙂
Penggunaan kata “pribumi” ini mengingatkan saya tentang “label” dan “identifikasi diri”.

Sebagai manusia yang terlahir dari kandungan seorang ibu, kita semua sama. Manusia. Mari bernostalgia … Pada waktu kita kecil, kita mau-mau saja berteman dengan siapa pun. Enggak pilih-pilih teman. Kita enggak mikirin soal label: “pribumi” dan “non-pribumi”. Begitu pula soal agama, kita enggak membeda-bedakan. Kita bermain air diiringi gelak tawa, corat-coret warna, sepakbola, bersama-sama. Bahkan ketika remaja, saya bersama sekumpulan teman sepermainan, saking kami enggak terkurung dalam sebuah label, kami bisa dengan santainya bercanda saling ejek suku, ras, dan agama. Tanpa ada kebencian, tanpa ada permusuhan. Yang ada hanya jalinan persahabatan dan kebahagiaan.

Kamu pernah ngalamin gitu juga?

Seiring bertambah usia, apalagi sekarang ini, kita jadi dikurung kaku oleh label-label. Itu bikin enggak bahagia. Anak-anak kecil saja sudah diperintah oleh orang tuanya, “Kita tu pribumi, jadi kamu jangan berteman sama yang non pribumi”, dan sebaliknya, “Kita tu non pribumi, jadi kamu jangan berteman sama yang pribumi”. Kurungan label ini meluas ke mana-mana, sampai ke ranah agama. “Saya beragama A, kamu beragama B, jadi kita berbeda”. Bukan hanya itu, orang menjadi sombong, mudah marah, dan terperosok dalam jurang penderitaan juga karena korban label. Melabel dirinya sebagai “guru yang paling tahu”, “ahli agama”, “orang yang sukses”, “orang kaya”, “pengusaha terkenal”, dan sebagainya. Melabel diri sebaliknya, “seseorang yang paling menderita, selalu gagal, pemarah, dan semacamnya”, juga menjerumuskan dalam kegelapan.

Mengapa kita terlalu sibuk dengan label, label, dan label? Bukankah ketika memberi label diri, maka kita berusaha membangun tembok pemisah dengan yang lainnya, yang berbeda label? Bukankah ketika lahir dan mati, kita enggak membawa label?

Nah, kalau kita berniat hidup bahagia, kita perlu ikhlas melonggarkan kurungan label-label itu. Tentu saja ini bukan berarti terus enggak punya suku, ras, dan agama ya. Bukan. Tapi yang saya maksud adalah, enggak perlu terlalu mengurung diri dalam suatu label itu. Enggak usah mengidentifikasikan diri kita dengan itu semua. Jadi kita enggak serba terikat terjerat dengan label-label itu.

Memang, ketika ikhlas melonggarkan kurungan label itu, kita akan merasa cemas, dan juga takut. Enggak pa-pa. Alaminya memang begitu. Itulah tandanya kita dibangunkan dari tidur nyenyak yang selama ini selalu menghadirkan mimpi-mimpi buruk, dan membuat kita enggak bahagia.

Saya jadi teringat sebuah pesan yang indah, “Seseorang yang mengenal dirinya yang sejati, maka ia akan mengenal Tuhan”.

Seorang murid pun penasaran bertanya, “Guru, gimana caranya kita mengenal jati diri kita yang sejati?”
Jawab gurunya, “Kalau kamu berusaha mencari tahu jati dirimu, maka kamu enggak akan bisa menemukannya. Satu-satunya cara untuk mengenal jati dirimu adalah dengan, buanglah label-label sampah yang menghalangimu mengenal dirimu yang sejati.”

Sederhananya begini …

Label “pribumi” dan “non-pribumi” perlu kita lepaskan, karena itu malah bikin hidup enggak bahagia. Label yang kita punya itu hanya “prikemanusiaan”.

Tulisan ini juga menjawab, mengapa salah satu pertanyaan sulit buat saya adalah, “Mas Adjie itu dikenal sebagai apa ya?” atau “Di acara nanti, mas Adjie diperkenalkan sebagai siapa?”. Di tengah gembar-gembor gemerlap identitas, izinkan saya terus belajar untuk menjadi manusia yang biasa-biasa saja ya …

Selamat berlatih mengistirahatkan pikiran …
dan terima kasih sudah baca tulisan ini.