3 Pendekatan Penting Psikologi Agar Hidup Bahagia

Sejak sekitar 16 tahun yang lalu, saya belajar soal satu ilmu pengetahuan dan ilmu terapan tentang perilaku, serta proses mental manusia secara ilmiah. Ilmu ini dikenal dengan: Psikologi. Awal mula niat saya belajar Psikologi bukan untuk menyembuhkan kejiwaan orang lain. Kejiwaan saya sendiri pun perlu disembuhkan. Makanya, niat saya lebih ke belajar menyembuhkan luka batin saya sendiri, dan penasaran gimana caranya saya bisa benar-benar bahagia.

Beberapa waktu lalu, saya ikut seminar dengan narasumbernya seorang teman dosen Psikologi Universitas Brawijaya Malang. Namanya Cleoputri Yusainy, PhD. Atau saya sering manggilnya mba Cleo. Saya diingatkan kembali perihal 3 pendekatan penting dalam rangka hidup bahagia. Sebatas pemahaman saya, berikut 3 pendekatan tersebut:

1. Psikoanalisa. Pendekatan ini meyakini kalau perilaku manusia lebih dipengaruhi oleh pikiran bawah sadarnya. Penyebab suatu masalah yang dialami seseorang saat ini adalah ada yang enggak beres di masa lalunya. Jadi, supaya bahagia, dia dihipnosis, regresi, mengingat masa lalu. Ketika ingat masa lalunya, maka diharapkan dia bisa menyelesaikan sumber masalahnya. Bicara soal psikoanalisa, saya teringat tokoh besarnya, yaitu SIgmund Freud. Pendekatan ini mulai diragukan dari sisi ilmiah. Karena saat seseorang diminta menceritakan masa lalunya, maka enggak bisa dibuktikan … apakah yang diceritakan itu emang seperti yang benar-benar terjadi, atau sekadar imajinasinya, bias (hanya seperti yang dia inginkan).

2. Psikologi Humanis. Pendekatan ini penekanannya lebih ke masa depan. Manusia didorong untuk punya masa depan yang lebih baik. Biar bisa mengaktualisasikan dirinya. Memaksimalkan kemampuannya. Kalau soal aktualisasi diri, saya teringat tokoh pendekatan ini bernama Abraham Maslow. Dari sisi ilmiah, celah kelemahan pendekatan ini adalah, Abraham Maslow merumuskan teorinya berdasarkan penelitiannya pada orang-orang yang emang udah mapan. Jadi, layak saja kalau tahap mereka selanjutnya adalah aktualisasi diri. Tapi ini enggak bisa diterapkan begitu saja kepada kita yang belum semapan mereka. Apalagi kuota internet aja kita masih ngemis-ngemis, enggak kuat bayar, ditambah tagihan listirk, dan cicilan KPR ^_^ Pendekatan Psikologi humanis ini malah dipandang enggak membumi.

3. Psikologi Perilaku. Pendekatan ini cenderung menekankan pentingnya saat ini, di sini-kini (present moment). Apa yang saya pelajari selama ini, yaitu mindfulness (sadar penuh hadir utuh sini-kini) termasuk dalam ranah pendekatan ini. Tentu saja ada celah kekurangan ilmiahnya. Kalau enggak ada celah kekurangannya, too good to be true, kalau seperti obat yang dijual di lapangan (snake oil) yang katanya bisa mengobati segala jenis penyakit … malah saya enggak berminat mempelajarinya. Saya merasa cocok dan nyaman dengan latihan hening, meditasi.

Saya enggak memaksa siapapun buat mengikuti saya belajar hening dan mindfulness. Saya hanya menceritakan 3 pendekatan penting Psikologi yang digunakan untuk mencari makna kehidupan dan hidup berbahagia. Kalau kamu emang merasa nyaman dengan pendekatan masa lalu atau masa depan, ya lanjutkan aja. Tapi kalau kamu merasa nyaman dengan pendekatan yang menekankan kekinian (present moment), yuk kita belajar bareng-bareng.