Cinta Selalu Menyakitkan

Cinta itu ada tingkatannya. Dari anak tangga paling rendah sampai yang tertinggi, dari cinta yang sebatas seks hingga cinta yang berupa kesadaran-super. Para bajingan melakukan aksinya atas nama cinta. Para nabi juga. Tapi, tingkatan cinta yang dimiliki tentu saja berbeda.

Cinta yang tergolong di tingkatan rendah itu semacam politik, politik kekuasaan. Ada keinginan untuk mendominasi, mengeksploitasi, menindas, “kamu harus berubah demi aku. Tapi kamu harus menerimaku apa adanya”. Dan parahnya, banyak orang memahami cinta hanya sebatas di tingkatan rendah ini. Jadi, bukan saling mencintai, tapi yang terjadi saling menindas antara pacar atau kekasih, antara suami dan istri, orang tua dan anak. Seolah-olah cinta, padahal politik. Berkeinginan menguasai yang lain, dan entah sadar atau tidak, menikmati kekuasaan itu.

Cinta semacam ini dihiasi begitu banyak rasa posesif dan rasa cemburu. Itulah mengapa cinta ini menciptakan lebih banyak penderitaan daripada kebahagiaan. Cinta ini selalu menyakitkan buat kedua pihak … Eh ada menyenangkannya juga sih. Tapi sedikit. Ya semacam lapisan gula yang ada di luar, manis. Sebentar saja … kalau gulanya udah habis, ya pahit.

Cinta selalu ngajarin kita supaya cinta kita naik tingkat. Dari cinta yang mendominasi, menjadi cinta yang membebaskan. Dari memiliki, menjadi mengikhlaskan. Karena kita sudah terbiasa dengan cinta yang tergolong rendah, maka untuk naik tingkat, akan terasa menyakitkan. Tapi, ketika cinta kita sudah berada di tingkatan yang tinggi, cinta yang berupa kesadaran … cinta seperti ini menghantarkan kita menyatu denganNya.

Temanmu seperjalanan dalam hening …
– Adjie Santosoputro

|  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *