Enggak Harus Punya Mobil

Beberapa waktu lalu, saya ngobrol sama temen saya yang baru pdkt sama seorang perempuan idamannya.
Dia bilang, “Berat, Djie, persaingannya …”
“Lhoh lha gimana to?”
“Ada juga yang ndeketin dia dan stangnya stang bunder …”

Stang bunder yang dimaksud adalah punya mobil. Sedangkan temen saya minder, karena enggak punya mobil. Motor aja kreditnya masih belum lunas.

Masyarakat punya bingkai pola pikir bahwa seseorang yang punya mobil selalu lebih hebat, lebih keren, lebih mapan, daripada yang enggak punya mobil. Entah dari mana bingkai itu terbentuk. Bahkan bingkainya sangat kaku. Mungkin itu semacam gagasan turun temurun sejak zaman nenek moyang, dan sangat sedikit yang berani mempertanyakannya. Lucunya, ada juga yang beranggapan: semakin banyak punya mobil berarti semakin mapan dan bahagia hidupnya. Akibatnya, banyak orang yang terlalu memaksakan diri untuk punya mobil. Ada yang enggak tanggung-tanggung berhutang, ada yang sampai mengorbankan kesehatan jiwa dan fisiknya. Waktu buat istrinya, suaminya, dan anaknya, pun tega ia korbankan. Itu semua demi apa? Iya, demi punya mobil. Demi dianggap orang-orang kalau dirinya sukses, kaya, dan bahagia.

Bingkai itu mengharuskan punya mobil, punya rumah, harus kaya berlimpah harta, harus keren, harus kurus, harus ganteng, harus cantik, harus punya followers banyak di media sosial, harus berpakaian ngikutin trend, harus jalan-jalan ke luar negeri, harus ini, harus itu … harus harus harus …

Tapi kenyataannya, apakah setelah berhasil memenuhi keharusan itu terus bahagia? Malah sebaliknya …

Salah satu sumber kita enggak bahagia adalah penyakit “harusingitis” … harus ini harus itu, memaksa diri supaya pas dengan bingkai pola pikir masyarakat yang konyol itu.

Pernahkah kamu berhenti sejenak, hening, lalu bertanya, “Siapa yang sebenarnya mengharuskan ini dan itu? Kok selama ini saya nurut-nurut saja ngikutin keharusan-keharusan tak berdasar itu?”

Seumur hidup, saya belum pernah punya mobil atas nama saya sendiri. Belum lama ini, mobil atas nama kakak saya sudah terjual. Jadi sekarang saya enggak punya mobil. Saya sampai sekarang malah terus belajar mengurangi yang saya punya. Belajar hanya punya secukupnya sesuai kebutuhan, sewajarnya saja. Bukan melulu soal memuaskan keinginan. Belajar pula untuk merasa enggak memiliki. Lagipula soal transport, sudah ada taksi dan ojek online, atau kendaraan umum lainnya ‘kan?
Memang ini pilihan yang berani untuk enggak dikerdilkan oleh bingkai-bingkai pola pikir masyarakat yang membatasi diri. Berlatih mengistirahatkan pikiran, meditasi, adalah berlatih keluar dari bingkai pola pikir semacam itu.

Semakin banyak yang kita punya, semakin erat kita memegangnya, maka semakin berat langkah kita, dan kita pun semakin sulit hidup ikhlas. Padahal ikhlas adalah pintu bahagia.

6 responses to “Enggak Harus Punya Mobil”

  1. Yohan Hardy says:

    “Belajar pula untuk merasa enggak memiliki”

    Mas Adjie yang terhormat, terimakasih tulisan sangan menginspirasi sekali. Tapi ada satu kalimat yang membuat saya bertanya-tanya.

    “Belajar pula untuk merasa enggak memiliki” <– kalimat ini terdengar paradoks, ambigu, dan menggandakan pemahaman dan pertanyaan saya di kepala.

    Bagaimana kalau konteks kalimat diatas tentang Diri sendiri, apa berati ketika belajar merasa enggak memiliki lantas kita cuek saja dengan kondisi diri kita, kita gak mandi, kita lukai diri kita, "toh ini bukan diri kita, saya tidak memilikinya"

    Lantas bagaimana mengaplikasikan kalimat tersebut dengan sebijak-bijaknya ya Mas Adjie?

    Salam.

    • Terima kasih, Mas Yohan, sudah baca tulisan sederhana ini.
      Kalau konteksnya diri sendiri … Tentu saja bukan berarti lantas cuek dan menyakiti.
      Apakah kalau sesuatu itu bukan milik kita, lalu kita punya hak buat menyakitinya?
      Bagaimana kalau sesuatu itu milik Sang Maha?
      Kuncinya adalah keseimbangan. Enggak terlalu memiliki, bukan pula terlalu enggak peduli.
      Salam …

  2. Menurut saya sifat seperti ini dibutuhkan, mengingat orang banyak lupa caranya untuk bahagia.

    Kalau sempat, mampir juga ke blog saya di theothetheo.xyz.

    Salam hangat

  3. Ikoalam says:

    Trimaksi buat penulis yg sudah membuka padangan saya tentang sesuatu

  4. Ami Jasmine says:

    Aku juga ga punya mobil Mas Adjie. But i’am happy.

  5. Ratna says:

    Saya juga.. satu satu nya yg ga punya di komplek, satu 2xnya yang ga punya mobil di sekolah an, 😂😂😂 😂😂😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *