Kamu Bukanlah Kekasihmu, Kamu Bukanlah Kekayaanmu

Catatan Emotional Healing – Sadar Diri

Enggak bisa dipungkiri, zaman sekarang ini, masih banyak orang yang pola pikirnya: aku adalah kekasihku, atau diriku hanya bisa bahagia dan menjadi utuh karena kekasihku. Kalau enggak punya pola pikir gitu, bakal dianggap enggak romantis, dianggap enggak tau soal cinta. Dan enggak romantis, enggak tau soal cinta, itu sama dengan selalu gagal menjalin hubungan dengan pasangan. Dan selalu gagal menjalin hubungan itu berarti sama dengan jomblo. Dan jomblo itu sama dengan hidupnya menderita sengsara.

Oiya, juga masih banyak orang yang punya pola pikir: Aku adalah kekayaanku. Coba seseorang punya rumah megah, mobil mewah, pakaian dengan brand berkelas atas, makan makanan berharga selangit, liburan ke tempat elit … wuiiih, dirinya merasa lebih keren, lebih percaya diri. Ditambah mendapatkan jaminan bakal dipuja-puja di mana-mana. Followers social medianya melejit naik. Tanpa disadari, terasa lega karena terpuaskan rindu sejak masa kecil, yaitu berburu mendapatkan penghargaan, pujian, dan tepuk tangan.

Lalu, gimana dengan orang-orang yang jomblo, enggak punya kekasih? Gimana dengan orang-orang yang kekayaannya pas-pasan, cenderung mepet … orang-orang terpinggirkan? Cuiiih … Orang apaan tuh? Paling-paling dianggap layaknya pemain figuran. Atau enggak dianggap sama sekali 🙁

Ini pun terjadi di lingkungan terdekat saya. Beberapa teman saya punya pola pikir: Aku adalah kekasihku, aku adalah kekayaanku. Sedangkan saya sendiri malah belajar menghancurkan belenggu pola pikir ini. Belajar sadar diri: Aku bukanlah kekasihku, aku bukanlah kekayaanku. Belajar tidak mengidentifikasi diri dengan kekasih dan kekayaan. “Mengidentifikasi” berasal dari kata bahasa latin: “idem” yang berarti sama, dan “facere” yang berarti membuat. Jadi, mengidentifikasi diri dengan kekasih, berarti: aku membuat atau menganggap diriku sama dengan kekasihku. Bahayanya, kalau hubungan dengan kekasih berakhir, lalu merasa wajar-wajar aja buat mengakhiri hidup ini 🙁
Atau repotnya, kalau kondisi keuangan baru cupet (atau emang selama ini selalu seret), terus merasa diri ini juga hina dina. Ini yang jadi akar dari banyak kejahatan, termasuk korupsi … Pola pikir: aku akan semakin keren, kalau aku semakin kaya.

Saya belajar keluar dari kungkungan identifikasi seperti itu. Identifikasi merupakan ulah dari pikiran. Identifikasi adalah bagian dari ego. Tapi asli, gara-gara belajar gini, saya jadi diomongin sekumpulan orang. Mau enggak diomongin gimana, wong banyak orang punya pola pikir: “aku adalah kekasihku, aku adalah kekayaanku”, mengidentifikasi dirinya dengan harta, tahta, dan pasangannya … sayanya malah belajar sebaliknya. Celetuk teman, “Emang dengan gitu kamu bakal bahagia, Djie?”

Saya tetap menghormati mereka yang punya pola pikir beda. Tak apalah berbeda, biarkan saja. Toh setiap orang punya tingkat kesadaran dan rute perjalanan yang berbeda pula. Kalau kamu gimana? Apakah kamu masih berpola pikir: aku adalah kekasihku, aku adalah kekayaanku? Apakah kamu masih mengidentifikasi dirimu dengan segala yang kamu punya? Mengidentifikasi dirimu dengan pekerjaanmu, dengan pakaian yang kamu kenakan, dengan kesuksesan atau kegagalanmu, dengan penolakan yang kamu terima, dengan cerita cintamu, dengan kehilanganmu & patah hatimu?

Kalau kamu masih begitu, ya bakal susah bahagia, dan gampang menderita. Tapi emang bener kok, keluar dari identifikasi, “aku bukanlah kekasihku, aku bukanlah kekayaanku” itu butuh keberanian, dan emang bikin merdeka dan bahagia banget.

Saran saya, banyak orang mengidentifikasi dirinya dengan kekasih dan kekayaannya. Akibatnya banyak yang enggak bahagia. Jadilah orang yang belajar enggak mengidentifikasi diri dengan kekasih dan kekayaanmu. Kamu bukanlah yang kamu punya. Orang seperti ini enggak mengikuti keramaian, dan karenanya dia bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *