Kelahiran Yesus Bikin Kita Enggak Nyaman

Mungkin, banyak orang berpikir, Yesus lahir membawa damai, dan bikin hidup jadi tenang.
Padahal sesungguhnya, Yesus lahir untuk mengganggu kenyamanan kita, membangunkan kita dari tidur nyenyak, mengajarkan kita melepaskan keterikatan pada syarat-syarat kebahagiaan. Dan itu menyakitkan.

Ketika semua orang ingin bahagia, sebagian besar orang mati-matian berusaha mendapatkan yang diinginkan, dan hanya sebagian kecil lainnya belajar melepaskan rasa memiliki, belajar tak lagi mempercayai syarat-syarat kebahagiaan yang selama ini diyakini, belajar ikhlas.
Bahagia yang sesungguhnya hanya ada di dalam keikhlasan melepaskan, keikhlasan untuk tidak memiliki. Kitanya saja yang selama ini mengejar kebahagiaan ke arah yang salah, yaitu dengan serakah mendapatkan, dan terjerat dalam kepuasan memiliki lebih banyak lagi, lagi, dan lagi.

Enggak cuma Yesus, para suci dan nabi pun mengatakan pesan serupa: supaya benar-benar bahagia, kita harus siap untuk mengikhlaskan rasa memiliki.
Selaras seperti yang dinyatakan para ahli, ketika kita terus berjuang mendapatkan keinginan, kita akan stres, menderita.

Gimana cara mengikhlaskan rasa memiliki?
Bukan dengan mengusir yang sudah kita miliki. Bukan pula dengan meninggalkannya. Sebab mengusir dan meninggalkannya dengan terpaksa justru akan bikin pikiran semakin terikat dengannya, semakin menderita.
Cara mengikhlaskan rasa memiliki hendaknya dengan terus menyadari bahwa rasa memiliki itu bikin enggak bahagia. menyadari bahwa rasa memiliki adalah benih penderitaan. Karena memang begitulah kenyataannya.
Jadi, dengan cara ini, meski kita tetap hidup bersama dengan yang kita miliki … apapun yang kita miliki jadi kehilangan cengkeraman untuk menyakiti dan bikin kita menderita.
Namun, ya gitu … hidup dengan cara begini, kata orang-orang modern, enggak seru. Makanya banyak orang enggak bahagia.

Sewaktu kita lahir, apapun dan siapapun bukanlah milik kita, karena kita bebas dari rasa memiliki. Enggak punya konsep kepemilikan. Kita menganggap semuanya bukanlah milik kita.
Lalu kita belajar, “ini punyaku”. Belajar memiliki. Kita berusaha menguasai yang kita miliki, dan menjaganya jangan sampai direbut dan dimiliki oleh yang lainnya. Kita jadi terjerat terikat erat dengan yang kita miliki.

Namun Yesus, ketika pertama kali mengajak masing-masing rasul buat “menjala” manusia, meminta mereka buat ikhlas meninggalkan keluarganya, ikhlas meninggalkan miliknya, ikhlas meninggalkan rutinitas harian, beserta hal-hal semu yang dianggap bikin bahagia.
Tentu ini bukan diartikan mentah, kita diminta meninggalkan yang kita miliki. Bukan. Tapi kita diajak melangkah melewati rasa memiliki dan melepaskan keterikatan kita pada segala yang kita miliki. Sehingga menghancurkan kemampuan dari apapun yang kita miliki untuk menyakiti kita.

Kita adalah orang-orang yang terlena sangat nyaman dengan merasa memiliki, juga menguasai, orang-orang yang kita cintai. Merasa memiliki dan sombong pamer harta yang kita miliki.
Yesus dan para suci adalah para pemberontak keadaan yang sudah mapan … Mereka datang meluluhlantakkan kenyamanan kita dengan menyuruh kita untuk mengikhlaskan rasa memiliki kita pada ini dan itu. Karena itulah cara sebenar-benarnya untuk mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ketika kita sudah bisa merasa tak memiliki apa-apa lagi, kita akan mendapatkan segalanya, berupa berkah semesta. Hati yang tenang, damai, dan penuh cinta …

Selamat Natal 🙏

One response to “Kelahiran Yesus Bikin Kita Enggak Nyaman”

  1. Patrisius Djiwandono says:

    Tulisan singkat yg sangat bagus. Setuju sekali ttg kebahagiaan. Selamat Natal ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *