Maafkanlah Mantan dan Orang yang Telah Menyakiti Hati

Tulisan ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat juga untukmu ya 🙏

Sepanjang hidup ini, hati kita telah sering disakiti baik oleh orang yang sangat kita cintai, maupun oleh orang yang sama sekali enggak kita kenal. Dari kita diperlakukan semena-mena, kepercayaan kita dikhianati, sampai kita dianggap enggak ada. Meski sakit hati itu sesuatu yang wajar, namun dari berbagai sakit hati yang kita alami … cukup banyak sakit hati yang lama sekali enggak sembuh-sembuh. Kita terus merasakan perihnya lagi dan lagi. Dan kita susah sekali memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita. Seolah kalau kita bisa terus menyimpan dendam amarah, apalagi bisa membalas menyakiti hatinya … ada rasa puas tak terhingga. Dan sebaliknya, seolah nista dan kalah bila memaafkannya.

Kita menyangkal kenyataan, bahwa menyimpan dendam amarah itu enggak hanya bikin kita menderita, tapi juga bakal merusak hubungan cinta yang sedang kita jalin saat ini, mengganggu karir dan pekerjaan, mengusik kenyamanan relasi keluarga, dan hal-hal penting lainnya. Menyimpan dendam amarah juga membuat kita menutup diri dari kehadiran orang-orang baru, dan melalaikan berkah indah yang tersaji saat ini. Saat ini sebagian (besar) orang sepertinya mempertahankan agar selalu mendendam dan marah, bahkan mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Bila kita mau merenung, menengok ke dalam diri, sejenak saja … kita akan sadar diri, kita perlu pelan-pelan mengikhlaskan dendam amarah. Kita perlu memaafkanya lebih demi kebaikan kita sendiri. Jadi kita bisa move on dan bahagia seutuhnya.

Ketika bicara soal belajar memaafkan … buat saya, ini sesuatu yang enggak mudah. Kemarahan saya sejak masa kecil karena saya tumbuh besar di keluarga broken home, ditambah kemarahan kepada mantan dan orang tercinta, serta kemarahan yang saya pendam selama ini … Ketika seseorang mengingatkan saya bahwa kalau saya terus menyimpan dendam amarah, saya menuju ke jurang penderitaan … saya langsung menjawab: “Diamlah kamu … saya belum puas kalau saya belum kesampaian membalas dendam ini!”

Tapi sekarang ini, saya telah berniat mengubah arah. Saya pelan-pelan belajar mengikhlaskan dendam amarah. Saya terus belajar memaafkan. Akibatnya … bukan hanya sedikit demi sedikit memperbaiki relasi yang terjadi saat ini, tapi juga membantu saya menjadi manusia yang berbahagia.

Sebagian besar manusia sebenarnya sadar bahwa “Memaafkan itu menyembuhkan. Memaafkan itu punya daya yang besar untuk membuat hidup jadi lebih indah”. Namun lucunya, tak banyak yang berani melakukannya. Karena yang memaafkan dinilai sebagai orang yang kalah, enggak keren.

Renungkanlah … Manusia berusaha menghapus masa lalu, atau melupakan apa yang terjadi, namun ini malah memperkuat perihnya sakit hati. Manusia yang puas membalas dendamnya akan diikuti pula dengan “api” yang semakin mengganas melumat dirinya sendiri. Di sisi sebaliknya … memaafkan bukan berarti menghapus masa lalu, bukan pula melupakan apa yang telah kamu alami. Memaafkan itu enggak akan memberi garansi bakal bikin orang yang telah menyakiti hatimu nyadar, lalu mengubah perbuatannya. Kita enggak bisa mengendalikan orang lain. Memaafkan juga bukan berarti rela terus-terusan disakiti. Kalau kamu sudah disakiti kelewat batas, disarankan untuk pelan-pelan belajar memaafkannya, dan sebisa mungkin mengambil jarak dengan pihak yang menyakiti. Ini merupakan langkah yang bijak.

“Kamu memaafkannya” itu berarti kamu ikhlas melepaskan kemarahanmu … kamu ikhlas melepaskan sakit hatimu. Dan kamu berniat melangkah berpindah ke keadaan yang lebih baik buatmu. Iya, perihal memaafkan itu selalu enggak mudah, tapi kita bisa pelan-pelan belajar memaafkan. Hidup ini bukanlah sebuah arena perlombaan menyimpan dendam marah sebanyak dan selama mungkin. Namun hidup ini sebuah rumah yang selayaknya kita isi dengan sesedikit mungkin sampah kemarahan … syukur-syukur enggak ada sampah, jadi yang datang berkunjung pun tersenyum indah.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Kemarahan dimulai dengan kegilaan, dan berakhir dengan penyesalan. Jangan membenci siapapun, tidak peduli berapa banyak mereka bersalah padamu.”

Silakan share dan terima kasih 🙏

Photo by ian dooley on Unsplash

|  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *