Mensyukuri Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil

Suatu hari, saya meditasi, menemui diri saya sendiri. Seperti biasanya, kalau mau latihan hening, berarti perlu meluangkan waktu untuk berhenti dari segala kesibukan dan hanya istirahat di momen sini-kini. Keheningan mengingatkan saya untuk berhenti walau sejenak, dan dalam henti, benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Eling. Saya hanya mengamati pikiran dan perasaan yang datang lalu pergi silih berganti. Terutama mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan kecil.

Seusai meditasi, saya merenungkan bagaimana saya menjalani hidup ini. Satu demi satu peristiwa saya kupas pelan-pelan. Saya mengulang hal yang sama setiap usai meditasi. Saya suka menikmati waktu dengan diam. Satu hal mengejutkan sekaligus membuat saya heran. Ternyata banyak pertemuan yang saya sia-siakan. Bertemu tapi hanya sebatas raga. Bertemu tapi enggak sungguh-sungguh bertemu.

Di hari lain, saya meditasi lagi. Usai meditasi, seperti sebelum-sebelumnya, saya mengajukan pertanyaan yang seolah tak terhindarkan ke diri saya sendiri, “Apa yang sebenarnya kamu kejar hingga kamu terus tergesa?” atau, “Apa yang sebenarnya mengejarmu hingga kamu terus berlari?”

Saya mengingat berbagai peristiwa yang saya alami selama ini, dan lagi-lagi terkejut oleh kenyataan bahwa dari semua peristiwa itu, hampir semuanya saya lakukan dengan tergesa-gesa. Bertemu dengan seseorang tercinta, tapi hanya secara fisik yang bertemu, sedangkan pikirannya tergesa berlarian ke mana-mana. Begitu pula di berbagai momen lainnya. Makan sambil buka hp, sehingga makan tanpa benar-benar merasakan makanannya. Atau berlibur, tapi pikiran tetap kerja.

Barulah saya sadar betapa “rajinnya” pikiran saya pergi ke masa lalu dan masa depan … Dan begitu sombongnya saya yang kadang merasa sudah berhasil menjinakkan pikiran.

Semenjak itu, saya belajar lagi hal yang seolah sederhana, latihan dasar, namun enggak mudah untuk selalu dilakukan: Belajar berhenti, dan belajar menyadari apa yang sedang saya lakukan. Lebih menyadari di sini-kini, ketimbang terus larut oleh kenangan masa lalu dan impian masa depan.

Akhir-akhir ini, saya perlu mengulang lagi menekuni latihan untuk mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan kecil, beberapa di antaranya dengan cara:
– Ketika bertemu dengan seseorang, terutama seseorang tercinta … saya berhenti melakukan hal lainnya, dan hanya menjalin interaksi dengannya. Mendengarkannya sepenuh hati. Benar-benar menghargai kehadirannya, dan berusaha untuk memahaminya. Sungguh-sungguh bertemu dengannya, seutuhnya.

– Ketika makan, hanya makan saja. Enggak sambil melakukan kegiatan lainnya. Makan pelan-pelan, dan menyadari diri sedang makan. Ini juga dikenal dengan istilah: Meditasi makan.

– Ketika keluar dari ruangan, mendekat ke alam … saya berhenti sejenak, dan mengamati sekitar. Mensyukuri keindahan semesta, juga tumbuhan dan hewan. Merasakan elemen semesta seperti: udara, angin, tanah, air, matahari, bulan, bintang, dan hal-hal sederhana namun megah lainnya.

Kalau kita benar-benar bisa berhenti dan menyadari sepenuhnya momen di sini-kini, hidup ini bakal terasa indahnya. Dan laju waktu pun ternyata enggak secepat yang selama ini kita kira. Kita jadi tak lagi bermusuhan dengan waktu.

Adakah rekomendasi latihan darimu yang bisa digunakan sebagai latihan untuk berhenti dan hanya menikmati momen di sini-kini? Coba tuliskan di kolom komentar dan ceritakan kenapa kamu suka melakukannya ya …

One response to “Mensyukuri Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil”

  1. Irene says:

    I do love being wt myself, really enjoy n its always good companion to have. Now Iā€™m learning how to enjoy myself wt my frens, my kids, and others. Still need more practice but more improve than before šŸ˜Š. Juz enjoy d time I spent with n try to leave everything behind.. bcos life is short n I want to create a meaningful n quality life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *