Cara Memaafkan Mantan, atau Orang yang Telah Menyakiti Hatimu

“Niat yang besar adalah syarat agar mampu ikhlas memaafkan. Karena perlu waktu dan kesabaran buat memaafkan.”

Kemarin sore, duduk santai dengan sahabat sambil minum teh di Bandung. Ngobrol ngalor ngidul, dan sampailah kami pada 1 pertanyaan yang membuat kami merenung untuk menemukan jawabannya. 1 Pertanyaan itu: Gimana cara memaafkan mantan, atau orang yang bikin sakit hati?

Seketika saya teringat, beberapa waktu lalu saya belajar perihal ikhlas memaafkan. Nah, kalau kamu selama ini sudah lelah memendam amarah, tapi enggak bisa-bisa ikhlas memaafkan, mudah-mudahan 8 hal yang saya pelajari dan saya obrolin sama sahabat saya ini bisa membantumu ya …

1. Kita perlu niat yang besar untuk ikhlas memaafkan.
Kenapa? Karena enggak cuma hitungan jam atau hari lalu bisa ikhlas memaafkan. Perlu waktu dan kesabaran buat melakukannya. Jadi, sadari … memendam amarah bikin kita enggak bahagia, lalu niatkan diri untuk ikhlas memaafkan.

2. Sadari akibat dari memendam amarah, dan akibat dari ikhlas memaafkan.
Bukankah memendam amarah malah akan bikin kita menderita? Bakal mengganggu hubungan cinta saat ini? Sadari akibat dari memendam amarah … sehingga yang kita perlukan adalah ikhlas memaafkannya. Juga sadari akibat dari ikhlas memaafkan. Lebih mudah bahagia, terbebas dari penjara masa lalu dan rasa nyesek di hati, diri jadi lebih terbuka pada berkah pertemuan dengan orang-orang baru untuk menjalin hubungan cinta, dan pada anugerah sederhana yang tersaji di depan mata.

3. Sadari bahwa kita punya pilihan untuk ikhlas memaafkan.
Kita enggak bisa mengatur orang lain. Dan sebaiknya kita enggak perlu berusaha mengaturnya. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Kita bisa memilih terus memendam amarah, atau ikhlas memaafkan. Kita bisa berhenti dari sakit hati, punya kesempatan buat memulihkan luka, dan bisa memilih untuk melanjutkan langkah terbebas dari jeratan pengalaman patah hati. Kekuatan ini ada di dalam diri kita. Kita hanya perlu belajar untuk mengenalinya, dan berlatih menggunakannya.

4. Coba kita berempati padanya. Berusaha melihat dari sudut pandangnya. Memahami mengapa dia melakukan itu. Tanggalkan penghakiman bahwa dia adalah orang jahat. Dia hanya melakukan sesuatu yang keliru. Apa yang terjadi di masa lalunya sehingga dia tega melakukan ini? Apa yang dia pikirkan saat melakukannya? Gimana perasaannya setelah melakukannya? Ini bukan berarti membenarkan apa yang telah dia lakukan ya, tapi hanya berusaha memahami dan berempati kepadanya.

5. Sadari bahwa kita juga ikut bertanggung jawab atas apa yang kita alami. Meski enggak sepenuhnya, kita juga jadi penyebab sehingga dia melakukan itu kepada kita lho. Dengan pola pikir ini, kita bisa mencari tau apa yang bisa kita lakukan agar kejadian serupa enggak terulang lagi. Ini bukan berarti terus kita menyalahkan sepenuhnya diri kita sendiri ya. Bukan. Juga bukan mengambil alih tanggung jawab kejadian tersebut dari dia. Namun lebih ke memperluas kesadaran bahwa dalam hidup ini, posisi kita bukanlah korban. Kita diberi pilihan untuk memaafkan.

6. Latih pikiran agar sadar penuh hadir utuh di sini-kini.
Kejadian itu ada di masa lalu, sudah berlalu, sudah berakhir. Namun pikiran kita terus mengulangnya, sehingga kita enggak bahagia. Ajak pikiran berlatih sadar dan hadir di kekinian. Apa berkah yang kita punya saat ini? Sadari kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang hadir saat ini. Berhentilah hidup di masa lalu. Tapi pikiran emang pasti akan melayang ke masa lalu … Enggak pa-pa. Sadari aja pikiran itu, lalu pelan-pelan ajak pikiran kembali ke saat ini. Sadari tarikan dan embusan napas.

7. Biarkanlah kekuatan untuk ikhlas memaafkan dan ketenangan, masuk mengisi diri kita ya …
Sadari napas … tarik napas. Niatkan napas yang masuk adalah kekuatan untuk memaafkan. Sadari napas … embuskan napas. Niatkan napas yang keluar adalah rasa sakit dan masa lalu.

8. Rasakanlah di dalam diri kita ada cinta yang begitu besar, yang memampukan kita jadi orang baik. Karenanya, maafkanlah mantan atau orang yang telah menyakiti hati. Ikhlas memaafkan merupakan upaya agar kita benar-benar bahagia dan mensyukuri anugerah kehidupan. Kita perlu berempati kepadanya, dan mendoakannya supaya dia juga bahagia. Iya, ini emang enggak mudah. Perlu waktu yang enggak singkat. Kalau kita tetap aja belum bisa memaafkannya, saran saya … ulangi latih lagi dari awal ya. Perlahan, memaafkan enggak perlu dipaksakan. Kalau kata Leo Tolstoy: Selalu ada maaf dalam ruang bernama cinta.

Tulisan ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat juga untukmu ya. Silakan share dan terima kasih 🙏

|