Menunggu Jodoh-Rezeki dan Melihat Bulan

Saya punya temen yang kalau menunggu antrian, sebatas saya mengamatinya, dia lebih sabar dibandingkan lainnya. Enggak gelisah, enggak banyak ulah. Mungkin karena sejak kecil sudah dididik untuk sabar menunggu. Dia ternyata juga kerap mengalami momen yang mengharuskan dia menunggu.

Kesabarannya ini malah mengusik seorang teman yang lainnya untuk menyeletuk tiba-tiba, “Wah, kamu enggak bakalan sukses dan punya kapal pesiar kalau gini caranya. Kamu akan selalu kalah cepet”. Awalnya, saya pun ikutan tertawa. Menganggap hal itu sebagai gurauan atau candaan. Namun, karena berulang serupa di kejadian yang berbeda, membuat saya penasaran untuk merenungkan perihal “bersabar menunggu”.

Saat ini kita hidup di suatu masa, cukup banyak orang yang lebih memikirkan dirinya sendiri. Menganggap bahwa dirinya adalah orang yang sangat penting, orang yang menjadi pusat segalanya. Dan semakin seseorang memikirkan dirinya sendiri, ia semakin tak mampu untuk bersabar menunggu.

Saya pernah mengamati, seseorang yang merasa dirinya hanyalah manusia biasa-biasa saja, enggak merasa pintar, ketika diminta menunggu, ia pun menunggu dengan sabar. Ia merasa enggak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Iya, hanya menunggu.
Berbeda ceritanya ketika saya mengamati orang-orang yang merasa dirinya pintar, merasa pakar. Semakin pintar, banyak akal, malah kemampuannya menunggu dengan sabar semakin tumpul. Ia beranggapan ‘kan bisa diginiin dan digituin, biar cepetan. Ia enggak jenak menunggu. Karena virus “merasa udah paling tau akan segala sesuatunya” yang tanpa sadar udah mendarahdaging, kesabaran dalam menunggu digusur oleh perasaan tergesa-gesa.

Di suatu sesi hening, seorang anak muda bertanya, “Mas, soal jodoh dan rezeki, berarti kita hanya nunggu aja gitu? Enggak perlu usaha sama sekali?” Saya sengaja diam beberapa saat, enggak langsung memberikan jawaban. Biar dia merasakan keindahan momen menunggu. Selang beberapa waktu, saya baru menjawab, “Bukan soal, apakah kita hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa, atau kita mengisinya dengan berusaha … tapi yang lebih penting adalah, bagaimana kita menyikapi momen menunggu. Mengutuknya atau merayakannya. Ingat, berusaha mendapatkan jodoh-rezeki tapi berbekal sikap rajin menggerutu akan menumbuhkan ketidakbahagiaan. Jadi, kalau kita melihat momen menunggu sebagai suatu keindahan dalam hidup ini, maka kita enggak perlu risau akan jodoh-rezeki.

Belum lama ini, karena gerhana bulan “super blue blood moon”, banyak orang rame-rame melihat bulan. Namun, di saat bersamaan, enggak banyak orang sadar, ketika melihat bulan, bintang, langit … sadarkah kita betapa sangat, sangat, sangat kecilnya kita dibanding semesta? Dan saya rasa, ketika kita benar-benar sadar, ukuran kita sangat enggak ada apa2nya dibanding ukuran jagat raya ini, semesta tak akan bisa sepenuhnya dijangkau oleh akal dan logika, maka kita pun jadi sadar sebenarnya enggak ada yang bisa kita lakukan, selain menunggu perihal jodoh-rezeki.

Bersabar menunggu, dan ego yang besar merasa bisa mengatur soal jodoh-rezeki hingga tergesa-gesa, bereaksi berlawanan. Apapun usaha kita terkait jodoh-rezeki pantasnya diiringi dengan kesabaran menunggu, bukan dengan kesombongan mampu mengendalikan kenyataan sesuai yang kita mau. Kalimat-kalimat yang bernada menyanjung kecepatan berlebihan, seperti, “jadi orang itu harus cepet”, “karena dia bergerak cepat, maka dia sukses”, “lebih cepat, lebih baik”, “kalau sabar nunggu, bakal direbut orang, dan kamu akan kalah”, dan sebagainya, bisa menyuburkan ketergesa-gesaan dan ego.

Hidup jadi serba dikejar rasa takut, membuat lahan damai di hati jadi tandus. Kita enggak dipaksa buat bersabar menunggu jodoh-rezeki. Tapi ketika kita benar-benar sadar akan keberadaan diri ini di tengah kemegahan semesta ciptaanNya, kita akan paham, kita perlu bersabar menunggu, karena itulah satu-satunya yang bisa kita lakukan. Yaitu merayakan momen menunggu. Tentu saja ini enggak disetujui oleh orang-orang yang pikirannya hanya sesempit melulu soal dirinya sendiri … Mari ciptakan dunia yang lebih sabar dalam menunggu.