Latihan Dasar Meredakan Cemas: Berani Menemui Cemas

“Ketika berani menemui rasa cemas, kita akan sadar bahwa hidup yang serba enggak pasti ini sudah sempurna apa adanya.”

Boleh-boleh saja, setiap cemas, kita berusaha mengusir cemas, kita melarikan diri darinya, atau kita berupaya mengatasinya dengan mengalihkan perhatian, makan, belanja, minum alkohol atau pake obat-obatan … atau dengan melakukan reframing (mengubah sudut pandang). Namun, sehebat apapun usaha kita buat melawan cemas dan melarikan diri darinya, cemas akan selalu ada, bahkan cemas terasa lebih mengerikan.

“Cemas” ada di dalam rumah kita. Ketika melarikan diri darinya, kita pergi, kita enggak bersamanya. Tapi mau enggak mau, akhirnya kita harus pulang ke rumah dan bertemu dengannya. Begitu pula ketika kita melawannya 100%, bersiaplah untuk mendapatkan serangan balik darinya 100%.

Saya teringat pengalaman saya belajar soal latihan dasar meredakan cemas …

Seringkali, saat saya cemas, saya berusaha melawannya atau melarikan diri darinya … saya berpikir, “Pergilah cemas! Kamu nyebelin! Kenapa kamu menemuiku?”. Terus berandai-andai … bakalan menyenangkan kalau saya enggak pernah merasa cemas. Saya yang sudah belajar banyak cara terkait #EmotionalHealing, termasuk gimana cara meredakan cemas, akhirnya merasa nyaman dengan cara memberanikan diri untuk menemui cemas. Menemuinya dengan senyuman. Saya sudah mencoba berbagai cara. Saya cocok dengan cara ini.

Beginilah latihan dasarnya …
1. Ketika cemas, sadari sensasi tubuhmu. Perlahan, belajar untuk tidak mempercayai cerita-cerita yg berkecamuk di kepalamu. Cerita-cerita itulah yg bikin kamu cemas. Sadari saja apa yang dirasakan tubuhmu. Di bagian tubuh mana rasa cemas itu berada?

2. Temui rasa cemas itu … temani rasa itu dan masuklah ke dalamnya. Jangan lari, tapi hanya menemani sensasi tubuh yang kamu rasakan. Ketimbang melawannya, atau menginginkan rasa cemas itu berhenti … sebaiknya kamu membuka diri untuk merasakan sepenuhnya cemas itu.
Merasakan cemas dengan ikhlas. Layaknya anak kecil yang serba ingin tahu. “Rasa cemas ini sebenarnya gimana sih? Apakah intensitasnya berubah-ubah? Reaksi pikiranku terkait rasa cemas ini gimana?”

3. Tersenyumlah … Menumbuhkan sikap ramah kepada rasa cemas. Sadari rasa cemas sebagai rasa yang wajar, yang dirasakan sebagai manusia. Belajarlah ramah kepada cemas. Lihatlah ini sebagai kesempatanmu untuk berteman dengan sesuatu (cemas) yang akan bersamamu sepanjang hidup.
Sebuah peluang untuk belajar nyaman di tengah ketidaknyamanan. Kalau kamu bisa melakukan ini, kamu akan jadi manusia bermental baja dan mudah berbahagia.

4. Luangkan waktu buat keluar ruangan, dan lihatlah langit. Ini akan membantumu untuk meluaskan sudut pandangmu. Biasanya, reaksi kita saat cemas adalah, berusaha melawannya, karena kita terjebak dalam sudut pandang yang sempit, bahkan ada sebagian orang yang terbiasa egois. Sadari bahwa pikiran kita ini seperti langit biru yang sangat luas … bukan sempit, tapi sangat luas. Nah, kita bisa melihat rasa cemas layaknya sebuah awan di pikiran, di ruang yang sangat luas dan terbuka. Jadi, enggak perlu lalu larut di dalam awan cemas itu. Kita bisa melihat rasa cemas seperti awan … sifat alaminya adalah temporer, sementara. Enggak kekal, enggak abadi. Rasa cemas enggak menguasai seluruh isi pikiran. Rasa cemas hanya melintas & akan berlalu. Bukan cemas, pikiran yg sangat luas & terbukalah yg selalu menemani kita.

Latihan dasar meredakan cemas di atas terasa sederhana, namun iya … enggak selalu mudah untuk dilakukan. Kadang rasa cemas merupakan hal yang sepele, tapi kadang rasa cemas juga punya daya yang begitu besar hingga membuat kita kewalahan.

Jadi, saran saya … berlatihlah meredakan cemas, dimulai dari takaran yg kecil, luangkan waktu sejenak, di satu momen tertentu, secara berkala. Kalau pas latihan, kamu terus melarikan diri dari rasa cemas, ya enggak pa-pa … namanya juga latihan. Dilatih lagi di lain kesempatan. Lanjutkan latihan, dimulai dari cemas yang berukuran sepele dulu. Dosis yang bisa kamu toleransi. Sampai kamu percaya kepada dirimu sendiri, bahwa kamu akan baik-baik saja ketika kamu menemui rasa cemas, dan memberikan senyuman kepadanya.

Kalau sudah berani menemui rasa cemas, menemaninya layaknya sahabat … kamu akan sadar, ternyata cemas enggak semenakutkan yg kamu kira. Rasa cemas hanya seperti peristiwa biasa yg terjadi sehari-hari … seperti daun yg gugur, seperti air yg mengalir … semuanya akan berlalu.

Kita enggak perlu terlalu panik, enggak perlu terus melarikan diri … kita bisa tenang, duduk diam … dan sadar, semuanya sudah baik adanya. Enggak ada lagi yang kita butuhkan untuk bahagia. Sungguh, hidup yang serba enggak pasti ini adalah suatu anugerah yang sangat indah.