Social Media dan Selalu Merasa Kurang

“Hidup ini menyajikan berbagai momen yang terus berganti. Dan tugas kita semua belajar untuk menyadari momen itu sudah baik dan sempurna adanya, tanpa harus ditambahi apa-apa lagi.”

Ketika bersama orang tercinta, berkumpul seru bareng teman, nonton konser musik, melihat pemandangan menakjubkan, atau berada di momen yang indah untuk dikenang … seringkali tanpa berpikir panjang, saya potret buat dishare di social media, atau langsung membagikannya di IG story. Kebiasaan itu membuat saya merenungkannya … Entah mengapa, saya merasa momen seindah apapun itu selalu ada yang kurang kalau belum dibagikan di social media.
Ini mengingatkan saya suatu pelajaran penting:

Suatu momen sebenarnya sudah baik dan sempurna adanya, tanpa harus dishare.

Terjebak dalam pola pikir: “Biar lengkap, suatu momen indah harus dishare” … Padahal momen itu ‘kan sudah lengkap, sudah cukup, tanpa harus difoto, diedit, dishare, dan dikomentari. Momen itu sudah indah sempurna apa adanya. Sepertinya saya enggak sendirian terjebak dalam pola pikir: “Biar lengkap, suatu momen indah harus dishare”. Inilah yang terus dirawat dan dipupuk oleh pengusaha raksasa social media. Inilah yang sampai sekarang jadi alasan sederhana sehingga social media menjadi ramai penghuni.

Merasa suatu momen itu kurang kalau belum dishare, kalau belum difoto, kalau belum “dibingkai” dan “dibekukan” … Memberi kesan pengingkaran pada kenyataan, bhw gimanapun juga, setiap momen itu fana, enggak bisa kekal. Tapi emang ketidakkekalan itulah yang bikin takut banyak orang. Dan yang paling perlu kita perhatikan adalah, mental “suatu momen selalu dirasa kurang kalau enggak dishare” ini tanpa disadari merasuk ke hidup sehari-hari. Menjadikan kita manusia-manusia yang selalu merasa kurang.

Contoh:
– Pas lagi duduk dan makan, kita merasa momen makan itu kurang lengkap. Akibatnya, kita mengharuskan diri motret makanannya, lalu makan sambil baca linimasa social media, sambil balas WA group, sambil ini dan sambil itu.
– Seseorang berbuat sesuatu, dan kita merasa apa yang ia perbuat itu selalu kurang. Akibatnya, kita kecewa, marah kepadanya, karena dia enggak berbuat sesuai dengan keinginan kita.
– Karena merasa keadaan yang sedang kita alami sekarang ini serba kurang, maka kita lebih sibuk berkeluh kesah, menggerutu, dan menghakimi diri kehilangan arah, tersasar, serta menganggap hidup ini menyebalkan.
– Karena yang lagi kita kerjakan di depan mata selalu terasa kurang, maka kita terus menunda, terus melakukan berbagai hal yang enggak penting, padahal kita sebenarnya tahu apa yang benar-benar penting untuk dikerjakan.
– Karena kita selalu merasa kurang, selalu merasa ada yang harus kita lakukan, selain yang sedang kita lakukan … alhasil, kita enggak pernah bisa duduk manis, dan enggak pernah merasa nyaman, apalagi saat sendirian.
– Karena saat ini, di sini-kini, selalu kita rasa kurang … kita jadi terus meratapi kehilangan seseorang tercinta, terus menangisi kepedihan masa lalu.
– Bahkan, karena seseorang tercinta yang ada sekarang selalu kita rasa kurang … kita pun jadi terus berandai-andai … seandainya dia begini, seandainya dia begitu. Bahayanya, lama-lama tergoda mencari yang lainnya untuk mengisi hati kita.
– Juga karena kita selalu merasa diri ini kurang, enggak cukup baik adanya, maka kita terus menuntut diri untuk berlebihan memperbaiki, hingga kelelahan sendiri. Begitu pula kita selalu merasa orang lain itu kurang, sehingga menuntutnya untuk bersikap sesuai keinginan kita.
– Karena kita merasa situasi yang lagi kita alami selalu kurang, orang-orang di sekitar selalu kita rasa kurang, diri kita sendiri juga selalu kita rasa kurang … maka kita jadi sibuk menolak itu semua, menyangkal kenyataan. Dan kita dikunjungi penderitaan.

Berbekal niat untuk menyadari bahwa setiap momen sudah baik adanya, enggak kurang, tanpa harus dishare … saya pun mulai merenungkan:
– Gimana kalau kita mulai belajar ikhlas menerima momen saat ini, juga siapapun dan apapun yang ada saat ini … semuanya sudah baik adanya?
– Gimana kalau kita mulai belajar mengurangi yang kita inginkan … merasa sudah cukup dengan siapapun dan apapun yang sudah kita punya sekarang? Gimana kalau kita mulai belajar berkata, “Ya, saya ikhlas menerimanya”, ketimbang terus menolaknya?
– Gimana kalau kita mulai belajar menerima kenyataan bahwa sifat alami suatu momen itu akan selalu berganti, selalu berlalu? Mulai juga belajar sadar, momen yang kita alami sudah baik adanya, tanpa harus difoto dan dishare?
– Gimana kalau kita mulai belajar ikhlas menerima yang buruk selain yang baik … menerima kegagalan sebagai salah satu hasil dari berusaha … menerima sakit di samping keindahan … menerima rasa takut yang sering bersanding dengan ketidakpastian, sebagai satu keutuhan momen?
– Oiya, gimana kalau kita sekarang ini berhenti sejenak … melihat siapapun dan apapun yang ada di saat ini, di sini-kini, di sekitar kita (termasuk diri kita sendiri) … lalu kita hanya mensyukuri semuanya apa adanya, menyadari semuanya sudah sempurna, tak ada lagi yang kurang?

Sadari … setiap momen sudah baik adanya, tanpa harus ditambahi apa-apa, tanpa harus dishare di social media. Dan rasakan indahnya.