Selingkuhanku Hamil: 2 Musibah, 2 Berkah

Usai meditasi, saya membiasakan diri merenungkan musibah dan berkah yang pernah saya alami selama ini. Melihat ke dalam diri atau “ngaca”. Dulu di awal berniat membiasakan diri melakukan ini, saya merasa enggak punya waktu, lagian buat apaan, dan ada banyak ketakutan. Selain takut menerima kenyataan pernah ngalamin musibah yang pedih itu, juga takut melepaskan kenyataan bahwa berkah yang manis itu sudah berlalu, sekarang tinggal kenangan, tak ada lagi. Tapi, yang paling mengusik pikiran adalah, tanggapan orang lain saat saya mengalami musibah dan berkah itu.

Benar apa yang diungkap para bijak bahwa seringkali kita enggak bisa mendengarkan suara hati karena suara orang lain terlalu gaduh. Bahkan kita jadi bingung dan kehilangan arah karena terlalu mendengarkan apa kata orang lain.

Ketika mendapatkan apa yang saya inginkan, atau keadaan ini disebut dengan berkah, ada yang melontarkan pujian karena kehebatan saya jadi saya meraih kesuksesan. Tapi ada juga yang mengingatkan kalau berkah itu karena ada campur tangan Tuhan, jadi sudah semestinya saya bersyukur.

Namun di sisi lain, ketika saya mengalami suatu hal yang jauh dari harapan, atau keadaan ini disebut dengan musibah, ada yang nggoblok-goblokin saya, karena ketololan saya yang begitu maksimal maka saya hrs menelan pil pahit itu. Tapi ada juga yang bilang kalau musibah itu takdir. Pasrah aja.

Kita enggak hidup di dunia yang terbentuk dari kayu, di mana salah satu sifatnya adalah kaku. Apapun musibah yang kita alami, ada 2 kemungkinan:
1. karena memang “jalan cerita”nya begitu, atau
2. karena kebodohan kita sendiri.

Begitu pula ketika kita mendapatkan berkah. Ada 2 kemungkinan:
1. karena memang “jalan cerita”nya begitu, atau
2. karena keserakahan kita sehingga tanpa sadar mengambil hak milik orang lain.

Mengapa kita terus berpikir kaku, seolah hidup ini kalau enggak hitam pasti putih, & sebaliknya?
Ketika kamu memahami, musibah itu ada 2 kemungkinan, berkah itu pun ada 2 kemungkinan … hidup memberimu hadiah berupa kebijaksanaan. Tatkala melihat musibah-berkah, kamu tak lagi terkunci di satu pola pikir yang picik.

Ini 2 kemungkinan musibah:
1. Seorang teman, sejak lahir ditemani diabetes. Teman yang lain, udah berusaha mati-matian mempertahankan hubungan cintanya, tapi akhirnya berantakan juga. Ini termasuk musibah yang “jalan cerita”nya emang harus gitu. Sebagai pelunasan hutang sebelumnya.
Karena menyadari adanya kemungkinan ini, maka ketika ada yang berkeluh kesah atas musibah yang sedang ia alami, saya enggak terus menyalahkan dia, enggak juga berkata, “musibah itu karena kamu kurang berpikir positif!”.

2. Beda lagi, di suatu kesempatan, teman saya bilang,
“Djie, takdirku jelek banget.”
“Emang kenapa?”
“Selingkuhanku hamil …”
Kalau ini termasuk musibah karena nafsu dan kebodohannya sendiri. Seperti tiap hari minum es, lalu batuk. Dan menganggap batuk adalah ujian dari Tuhan.

Ini 2 kemungkinan berkah:
1. Pernahkah semasa sekolah kamu punya temen yang belajarnya nyantai, tapi pas ujian, nilainya selalu lebih baik daripada kamu yang udah belajar setengah mati?
Atau sekarang punya kenalan yang kerjanya biasa-biasa aja, tapi rezekinya mengalir deras?
Ini termasuk berkah yang emang “jalan cerita”nya harus gitu. Sebagai akibat dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Menuai panen yang telah ia tanam.

2. Tapi ada juga yang seolah-olah mendapatkan berkah, padahal sebenarnya itu adalah akibat keserakahannya sehingga tanpa sadar mengambil hak milik orang lain. Seolah-olah berkah seperti ini perlu kita perhatikan, karena seringkali kita larut dalam gembira jadi tak menyadarinya.
Seolah-olah berkah ini biasanya akan bikin yang mendapatkannya jadi gelisah, mudah marah-marah, susah tidur nyenyak. Namanya juga mengambil yang bukan haknya. Ia jadi punya “hutang”, dan kelak harus membayarnya.

Saran saya, sebisa mungkin berusaha menghindar dari musibah, dan jadi orang jangan bodoh-bodoh amat sengaja mencari musibah. Kalau pun masih mengalami musibah, berarti emang “jalan cerita”nya harus gitu. Enggak pa-pa, itu berarti “hutang”mu lunas. Berterima kasihlah atas musibah itu.
Dan juga dalam mendapatkan berkah, usahamu sewajarnya saja. Enggak perlu terlalu ngotot dan serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi, lagi, dan lagi. Biar enggak ngambil hak orang lain, dan enggak harus bayar “hutang” di kemudian hari.

Percayalah, di alam semesta ini … keinginan selalu jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Dan jumlah berkah yang emang hak kita, selalu enggak pernah kurang untuk mencukupi kebutuhan. Kalau berkah yang didapat emang hak kita, hidup kita tenang, jiwa kita pun bahagia.