Menurutmu, tanpa identitas, label, gelar, tipe kepribadian, desain manusia yang dikategorikan, “aku adalah ini, aku adalah itu,” tanpa diri secara konseptual… Siapa yang kita sebut sebagai “aku”? Siapa “aku”? Siapa sebenar-benarnya “aku”?
Sudah lama saya itu penasaran sekaligus bingung dengan jawaban dari pertanyaan: “Siapa aku?” “Siapa sebenar-benarnya aku ini?”. Saking bingungnya, jawabannya saya bawa bercanda: “Aku seorang kapiten,” “Aku batman.”
Bagaimanapun seringkali saya sebatas mengenal diri saya di dimensi konseptual, identitas, label. “Aku adalah ini, aku adalah itu.” Tetapi saya tidak menyangkal, selalu masih ada pertanyaan menggelitik: “Apa iya sebenar-benarnya aku itu sebatas dimensi konseptual, identitas, label?”
2 Dimensi “Mengenal Diri Sendiri”
Know thyself, itu pepatah filsuf Yunani Kuno yang berarti “kenalilah dirimu sendiri”. Sebenarnya ada dua dimensi “mengenal diri”. Kita hidup di dua dimensi ini sekaligus.
- Mengenal Diri Dimensi Konseptual
Banyak orang, termasuk saya, sebatas mengenal diri di dimensi ini. Identitas, label, tipe kepribadian, desain manusia yang dikategorikan, “Aku kategori ini, aku kategori itu, maka aku itu orangnya begini, aku itu orangnya begitu.” Jadi ada banyak “aku”.
Salah satu teorinya, kalo menurut Ego State Theory-nya Eric Berne, manusia terdiri dari 3 bagian, 3 “aku”: Parent, Adult, Child. Bagian child inilah yang seringkali disebut inner child.
Saya pernah ke profesional kesehatan mental lalu diminta mengingat, membahas, mengeksplorasi apa saja yang pernah terjadi di masa lalu, terutama yang melukai batin, yang menyebabkan hidup sekarang punya pola berulang. Proses ini bisa berlangsung bertahun tahun.
Dan saya rasa itu bisa membantu, karena seringkali bisa membuat kita tau pengalaman masa lalu apa yang menjadikan diri kita seperti sekarang ini, membuat kita tau bagian diri kita yang terjebak, membuat kita tau program lama yang mengendalikan diri kita sampai sekarang. Dalam batas tertentu, itu bermanfaat. Tapi ada dimensi mengenal diri yang lain.
Diri Dimensi Konseptual dan Waktu
Di dimensi konseptual, kita ada sebagai pribadi: Tubuh fisik, sisi psikologis, memori masa lalu, imajinasi masa depan.
Sebagai pribadi, kita hidup di dalam waktu. Waktu terasa seperti api yang menghabiskan hidup kita.
Saya teringat pernah nulis: “Waktu” itu bisa disebut juga “kala”. Dan di kepercayaan Jawa dan Bali, Batara Kala itu memakan segalanya.
Waktu tidak peduli perasaan kita, mau kita gembira, mau kita sedih, waktu juga akan memakan segalanya. Kita, manusia terus terseok berusaha menyiasati waktu. Tak juga rela tunduk pada waktu. Meskipun pada akhirnya, sebagai pribadi, kita tetap saja mesti menyerah melawan waktu.
2. Mengenal Diri Dimensi Lebih Dalam (Tanpa Konsep)
Mengenal diri ini bukan sebagai konsep, bukan sebagai identitas, label, bukan sebagai pribadi yang tersusun atas masa lalu. Tapi sebagai kesadaran (aware presence). Inilah hakikat diri kita sebenarnya, our true self, true nature.
Kesadaran ini seperti sumber cahaya, dan setiap kita ini pancaran cahaya itu. Kesadaran itu memanifestasikan dirinya lewat setiap diri kita.
Diri Dimensi Lebih Dalam dan Waktu
Kita tidak pernah mengalami waktu. Yang mengalami waktu adalah pikiran.
Masa lalu hidup sebagai pikiran. Masa depan juga pikiran. Gimana kita memikirkan masa depan itu proyeksi dari masa lalu. Maka kalau tanpa pikiran, yang ada hanya kesadaran, akibatnya tidak ada waktu. Yang ada hanya momen di sini-kini.
Diri Dimensi Lebih Dalam yang Jarang Disadari
Saya pernah baca tapi lupa di mana, ada yang menganalogikan diri dimensi konseptual itu kayak lilin, dan diri dimensi lebih dalam itu kayak sumbu lilin. Lebih kelihatan lilinnya daripada sumbunya, tapi sumbunya itu masuk ada di dalam, dan keberadaan esensi lilin tidak terlepas karena sumbunya.
Hakikat diri kita, yaitu kesadaran, atau being itu masuk mengakar di dalam diri kita. Jauh melampaui identitas personal, label yang individual, jadi menghubungkan kita dengan keutuhan: aku adalah kamu, kita adalah mereka.
Mengenal Diri Melampaui Pikiran
Mengenal diri secara non-konseptual berarti terhubung dengan kesadaran (aware presence). Ini tentang melampaui pikiran.
Apakah artinya kita tidak menggunakan pikiran?
Bukan begitu. Pikiran tetap dipakai.
Justru dengan ada kesadaran, pikiran menjadi alat, bukan penguasa. Kesadaran jadi terekspresi melalui pikiran. Sehingga semacam kita bisa berkarya, mencipta, berkolaborasi dengan semesta. Tapi itu bukan yang terpenting. Bukan lalu itu yang kita kejar sebagai tujuan. Yang terpenting adalah menyadari hakikat diri terlebih dulu.
Melampaui Ego, Melampaui “Aku”
Kalau kita menyadari hakikat diri di luar identitas personal, maka kita tidak lagi hanyut terseret pikiran yang terprogram masa lalu. Tapi pikiran tetap berfungsi. Ini yang disebut melampaui ego, melampaui “aku”.
Apakah melampaui ego berarti kita lalu berhenti jadi manusia seperti pada umumnya?
Melampaui ego bukan berarti kita lalu nggak lagi jadi manusia seperti pada umumnya, lalu kita menghilangkan identitas sosial, lalu kita tidak lagi hidup normal. Bukan berarti begitu. Kita tidak harus jadi aneh kok.
Kalau orang bertanya, “Kamu lahir tahun berapa?” Kita tetap jawab tahun kelahiran. Tidak perlu berkata, “Saya tidak pernah lahir, karena saya melampaui badan, saya non konseptual.”
Ego Bisa Menyamar Jadi Spiritualitas
Bahkan setelah terhubung kesadaran, ego masih bisa muncul. Misalnya bilang:
- “Aku dulu begitu, sekarang begini, karena aku sudah melepaskan egoku.”
- “Daripada ego mereka semua, egokulah yang paling kecil.”
- “Level kesadaranku lebih tinggi dibanding level kesadaranmu.”
- “Aku sudah masuk ke dimensi 5D.”
Itu ego juga. Jebakan ego sangat licin, bisa menyamar pakai beragam topeng, bahkan topeng jadi orang yang lebih baik.