Gimana kamu menyikapi orang yang egonya besar?
Mungkin batinmu terluka karena orang yang egonya besar. Atau kondisi batinmu masih terluka, belum pulih dan mesti berinteraksi sama orang yang egonya besar.
Gimana ilmu kesadaran menyikapi hal itu? Ini yang sebaiknya kamu lakukan.
Setiap orang punya dimensi hakikat dan dimensi ego (diri konseptual).
Ketika kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, maka kita kayak ditarik membesar juga ego kita. Ego seringkali nyari temen bermain ego yang lain.
Kalo ego kita ketarik membesar, jadi temen bermain ego dia, maka kita langsung reaktif melawan, agresif.
Kita reaktif melawan, agresif itulah yang ego dia inginkan. Kita masih jadi bagian dari arena permainan yang diciptakan ego dia.
Selama kita masih reaktif melawan, agresif, itu berarti kita lebih berada di dimensi ego. Ego kita berarti ikutan membesar. Membesarnya “aku” yang melawan dia.
Lalu sebaiknya gimana?
Nggak reaktif melawan, nggak agresif.
Tapi bukan berarti juga pasif pasrah lho ya. Bukan. Lebih ke kita bener-bener nggak ngikutin permainan ego dia yang narik ego kita buat ikutan membesar. Kita lebih terhubung di dimensi hakikat diri. Sehingga ego dia kehilangan temen bermain.
Dia kayak “menggonggong ke angin”. Enggak ada ego kita, enggak ada “aku” di sana yang dia gonggongin.
Dinamika energi dalam interaksinya jadi berubah.
Bisa terjadi sebelumnya interaksinya keras jadi melunak. Sebelumnya defensif jadi melonggar. Bahkan mungkin akhirnya dia sendiri yang sadar lalu minta maaf.
Itu berarti kita “menang”? Enggak sih. Lebih karena kita nggak ngikutin permainan ego dia. Ego dia nggak punya temen bermain, nggak punya lawan.
Ketenangan batin enggak hanya ada saat kita berinteraksi sama orang yang nyenengin.
Saat kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, ketenangan batin pun sebenarnya senantiasa ada di dalam diri kita.
Kayak langit senantiasa ada apapun bentuk dan warna awannya. Bahkan ketika ketutupan awan hitam, langit senantiasa ada di balik awan.
Kita akan terhubung sama ketenangan batin itu kalo kita nggak reaktif melawan, nggak agresif, nggak ngikutin permainan ego dia.
Dan kita bisa tau, bisa merasakan kalo orang egonya besar, tanpa menghakimi dia.
Tapi ini tricky-nya, kalo kita reaktif melawan, agresif, pingin mengubah dia, pingin benerin dia, itu biasanya berasal dari ego kita.
Akibatnya, ego ketemu ego. Ego dia malah seneng karena punya temen bermain.
Stop feeding his/her ego.
Oya di balik ego dia yang besar, di balik ucapan dan perbuatan dia, sebenarnya ada dimensi diri dia yang lebih dalam, yang sama dengan dimensi terdalam diri kita, yaitu hakikat diri, yaitu kesadaran, true nature.
Kalo kita berinteraksi berlandaskan kesadaran tentang dimensi diri dia yang lebih dalam ini, nggak sebatas dimensi ego dia, maka interaksinya jadi beda.
Kata-kata yang kita ucapkan mungkin sama, tapi rasanya, energinya beda.
Dan kadang mungkin bisa terjadi, itu cukup bisa bikin dia pelan-pelan sadar, bikin dia “bangun” dari dimensi egonya ke dimensi hakikat diri.
Kalo pun itu enggak terjadi, nggak masalah. Terpenting ego kita nggak ikut membesar. Kita nggak ngikutin permainan ego dia.