arsip

Adjie Santosoputro, seorang praktisi kesehatan mental dengan pengalaman lebih dari 10 tahun yang senantiasa berbagi seputar cara pemulihan batin melalui hidup berkesadaran yang mudah dipraktikkan sehari-hari, terutama oleh masyarakat urban yang sibuk.

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?”

Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal:

Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya.

Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal bahwa ada batas yang dilanggar.

Kalo semua emosi negatif dilarang, dianggap salah, harus selalu positive vibes, yang terjadi bukan pemulihan, tapi emotional suppression (penekanan emosi).

Lalu hanya soal waktu, emosi itu akan berusaha nyari cara untuk muncul, biar kita tau emosi itu ada. Bisa berupa emosi meledak sewaktu-waktu atau bisa dalam bentuk sakit fisik.

Susan David di buku Emotional Agility menjelaskan mental yang sehat itu bukan dengan berusaha selalu merasa positif, tapi dari terampil hadir bersama seluruh emosi, tanpa tenggelam dikuasai oleh emosi itu.

Kedua: Positive vibes bisa jadi bentuk pelarian, escaping.

Orang berusaha selalu positive vibes, selalu tertawa gembira, bisa jadi untuk lari menghindari perasaan enggak nyaman, luka batin belum pulih, yang mestinya perlu diakui, disadari.

Contoh: “Aku sudah ikhlas. Aku sudah memaafkan. Dan sebagainya.”

Padahal sebenarnya di dalam dirinya, masih sedih, badannya masih stres.

Bessel van der Kolk di buku The Body Keeps the Score membahas trauma yang enggak diproses tetap tersimpan dalam badan. Trauma enggak hilang hanya karena kita positive vibes.

Ketiga: Kalo di ilmu kesadaran, kita bisa terbebas dari pikiran dan emosi negatif itu bukan dengan menolaknya, tapi dengan menyadari pikiran dan emosi (negatif maupun positif), tanpa mengidentifikasi diri kita dengan pikiran dan emosi itu.

Menyadari hakikat diri sebagai langit kesadaran yang memberi ruang buat semua awan pikiran dan emosi datang dan pergi. Langit enggak terpengaruh sama pikiran dan emosi.

Enggak menggenggam positif, enggak membenci negatif.”

Lalu saya ditanya lagi: “Kalo nggak positive vibes, terus mesti gimana?”

Jawaban saya: “Saya belajar jujur pada apa yang sedang saya rasakan. Belajar jujur pada diri sendiri.

Kalau sedih, belajar menyadari emosi sedih. Kalau marah, belajar menyadari emosi marah. Kalau takut, belajar menyadari emosi takut.

Belajar jadi pengamat, penyaksi.

Justru ketika emosi benar-benar saya sadari tanpa melawannya maupun tenggelam di dalamnya, emosi mulai mengendur surut.

Rasa damai yang lebih dalam, bahagia yang sesungguhnya itu lahir enggak karena kita positive vibes dan memusuhi negatif.

Tapi lahir karena kita mau menerima kenyataan yang sedang kita alami dan kita menyadari hakikat diri, yaitu kesadaran sebagai sang penyaksi semua pikiran, emosi, segala pengalaman.

2 menit baca

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik?

Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik.

Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal.

Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus terjadi, berulang.

Mengurangi konflik di level kelompok, negara, di level kolektif, itu juga perlu dengan mengurangi konflik di level individu. Perdamaian dunia juga diupayakan melalui perdamaian batin dalam diri kita.

Jadi kalo kita ingin mengurangi konflik di level kolektif, maka setiap kita juga perlu mengurangi konflik-konflik sehari-hari di level individu.

Sadar atau enggak, kalo kita suka dengan konflik, kita jadi pihak yang terus berkonflik atau pun kita suka ngikutin konflik orang lain, suka dengan keributan di social media, suka sama agresivitas, maka itu mencerminkan kondisi batin kita yang konflik, ribut, agresif juga.

Kita suka, tertarik sesuatu yang sama dengan kondisi batin kita.

“Lalu apa tanda ego, keakuan kita begitu besar, kita menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered?”

Tandanya kita selalu merasa benar, orang lain selalu salah. Ego, “aku” selalu pingin jadi yang lebih hebat, menang dan benar. Itu caranya supaya ada & membesar. Karena itu, terus mencari kesalahan orang lain biar merasa dirinya lebih benar, lebih baik.

Ego, “aku” juga bikin kita terus hidup di dalam “cerita tentang diriku sendiri”.

“Aku, diriku, milikku, punyaku.”

“I, me, myself, mine.”

Pikiran terus mengulang: “Ini yang dia lakukan kepadaku,” “Harusnya dia enggak ngomong gitu ke aku,” “Aku attract keinginanku,” dan sebagainya. Kalo kita enggak sadar, kita mengira semua pikiran itu adalah diri kita. Padahal itu hanya pikiran yang muncul berdasarkan pengalaman masa lalu.

Yang kita anggap sebagai diri kita, sebagai “aku”, sebenarnya hanya pikiran yang dibentuk oleh masa lalu.

“Aku” adalah kumpulan pola pikir, emosi, kebiasaan, dan pengalaman yang terprogram, terkondisikan masa lalu. Kalo kita sepenuhnya attach pada semua itu, kita seperti hidup di dalam “penjara” ciptaan pikiran sendiri. Kita terpenjara pikiran kita sendiri.

Oya hati-hati juga sama ego spiritual.

Kalo kita mulai bertumbuh di jalan kesadaran, secara spiritual, ego “aku” sering muncul kembali dengan lebih halus. Misalnya, “Aku lebih sadar daripada orang lain,” atau “Aku lebih spiritual,” atau “Aku bisa attract uang, attract keinginanku,” dan sebagainya.

Itu tetap ego, hanya pake topeng baru.

Kalo kita attach dan percaya pada label identitas ego “aku, aku, aku”, pada klaim-klaim yang spiritual itu, maka kita justru akan terjebak lagi dalam permainan ego “aku”.

Kesadaran sejati, hakikat diri, enggak bergantung pada label, identitas, klaim, serta citra diri atau gelar apapun itu.

2 menit baca

Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual.

Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya.

Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini manusiawi. Tapi kalo berlebihan, jadi rakus, serakah.

Awalnya kita mencoba menambal lubang, mengisi kosong itu dengan hal-hal di luar diri, duniawi: uang, barang, relasi, hiburan, gelar, pengetahuan, pengalaman baru, dsb.

Celakanya, misal relasi, malah bisa bikin lubang dan kosong yang baru. Lubang dan kosongnya malah makin besar, makin terasa. Contoh lain: uang, sampai menghalalkan segala cara, korupsi.

Tapi ketika semua duniawi itu tetap enggak berhasil menambal & mengisi, kita mulai mencoba menambal lubang, mengisi kosongnya di berbagai hal yang terkait healing & spiritual: level kesadaran lebih tinggi, energi lebih positif, Tuhan, kebahagiaan, pencerahan, spiritual awakening, dsb.

Pengejaran terkait healing & spiritual ini juga bisa bikin orang agresif melakukan kekerasan, menyebabkan penderitaan.

Masalahnya, berusaha meraih duniawi maupun healing & spiritual itu sama aja, tetap didorong oleh rasa kurang, lubang, kosong dalam diri & kita pingin menambal, mengisinya, jadi utuh. Cuma objek yang kita kejar aja beda.

Kita sebatas mengganti objek pengejarannya.

Dulu mengejar harta, sekarang mengejar hal yang kita anggap lebih suci. Padahal polanya ya tetap sama: kita merasa ada yang kurang, lubang, kosong dalam diri, lalu kita mencari sesuatu yang kita yakini akan melengkapi, bikin diri kita utuh.

Dan itulah sumber masalah yang selama ini kita abaikan, selama ini nggak kita sadari.

Karena itu, kita nggak perlu terburu-buru berusaha menambal lubang, mengisi kosong itu.

Tapi benar-benar sadari rasa kurang, lubang, kosong, rasa enggak puas yang ada di dalam diri itu. Temui, temani.

Saat rasa itu benar-benar kita sadari, tanpa ingin segera menambalnya, mengisinya atau melarikan diri darinya, maka pengejaran (becoming) yang tanpa akhir itu bisa berangsur mereda, mengendur surut dengan sendirinya.

2 menit baca

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri.

Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya.

Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua ajaran yang dikatakan. Kita lalu enggak memikirkannya dulu, enggak berani meragukannya, enggak membuktikannya sendiri dulu. Kita jadi manja, bergantung, attach padanya. Kita jadi kehilangan kemandirian, kita jadi kehilangan diri sendiri.

Padahal hubungan yang sehat antara kita dengan yang kita idolakan, panutan kita, antara kita sebagai murid dengan guru healing, meditasi, spiritual itu hubungan yang mestinya bikin kita semakin mandiri, semakin enggak attach, dan kita semakin percaya pada kejernihan diri sendiri, bukan malah semakin bergantung.

Ada profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, yang sengaja berusaha agar muridnya terus bergantung kepadanya. Karena itu menguntungkan buat dirinya. Mungkin secara materi maupun secara psikis, emosional, sosial.

Tapi profesional kesehatan mental yang baik, guru yang baik justru enggak pingin muridnya terus bergantung kepadanya. Sebaliknya, dia mendorong muridnya untuk mandiri menemukan kebenaran melalui pengalaman dan kesadaran mereka sendiri.

Jadi, belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru itu sebaiknya berjalan bersamaan dengan kemandirian berpikir. Enggak terus kita menelan mentah apa aja yang dikasih ke kita.

Kita tetap bisa menghargai seseorang tanpa kehilangan kemampuan kita untuk bertanya, meragukannya, mempertimbangkannya, atau bahkan berbeda pendapat.

Itulah hubungan yang sehat dan dewasa:

“Kita menghormati orang lain tanpa kehilangan diri kita sendiri.”

< 1

Mengapa masa kecilmu memengaruhi hidupmu saat kamu dewasa?

Masa kecilmu membentuk landasan utama yang kamu gunakan saat dewasa dalam berpikir, mengelola emosi, berelasi dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan dalam berbagai hal lainnya.

Masa kecilmu menentukan “kacamata” yang kamu gunakan saat dewasa dalam melihat hidup.

Masa kecil kita memengaruhi hidup saat kita dewasa karena pada masa itulah kita pertama kali belajar tentang diri sendiri, orang lain, dan hidup ini.

Sebagai anak kecil, segala sesuatu yang kita lihat kita jadikan sebagai landasan utama, blueprint, “ooo hidup ini begini”. Kita menyerap pengalaman begitu saja dan menjadikannya kesimpulan tentang hidup ini gimana.

Contoh:

  • Kalo sering dikritik, seorang anak bisa menyimpulkan, “Aku ini selalu enggak cukup baik.”
  • Kalo sering diabaikan, bisa langsung menyimpulkan, “Perasaanku enggak penting.”
  • Kalo orang tua sering bertengkar, bisa menyimpulkan, “Ternyata relasi itu bahaya, enggak aman.”
  • Kalo ditinggalkan orang tua, bisa menyimpulkan, “Orang yang kucintai pasti akan meninggalkanku.”
  • Dan sebagainya.

Kesimpulan-kesimpulan itu tanpa disadari sering terbawa sampai kita dewasa.

Akibatnya, saat dewasa, kita sering bereaksi terhadap kehidupan saat ini berdasarkan pengalaman masa kecil, berdasarkan luka masa kecil itu.

Misalnya, pasangan berbeda pendapat sama kamu.

Reaksimu bukan cuma karena beda pendapat yang terjadi saat ini. Tapi juga dipengaruhi pengalaman masa kecil.

Contoh: karena beda pendapat itu, kamu muncul ketakutan berlebihan. Karena blueprint-mu atau “kacamatamu” adalah penolakan atau ditinggalkan yang kamu alami di masa kecil.

Masa kecil, masa lalu, memengaruhi kita karena pikiran terus membawa ingatan dan kesimpulan lama itu ke setiap pengalaman baru saat ini. Kita enggak melihat kenyataan saat ini seapaadanya, tapi kita melihatnya melalui lensa masa lalu.

Dan memahami masa kecil itu bukan untuk menyalahkan orang tua atau terus hidup di masa lalu. Tapi memahami itu untuk menyadari keterkondisian batin, pola yang udah lama terbentuk. Kita menyadari pola itu, maka otomatis kita bukanlah pola itu.

Jadi kita keluar dari pola, enggak terus mengulanginya di hidup saat kita udah dewasa ini.

Masa kecil membentuk banyak pola dalam diri kita, tapi masa kecil enggak harus menentukan gimana kita menjalani sisa hidup kita.

2 menit baca

Orang dekatmu enggak sadar, enggak peduli soal luka batin? Ini tulisan buat orang yang enggak sadar, enggak peduli soal luka batin.

Luka batin itu bukan sebatas soal kejadian yang kamu alami, tapi lebih ke gimana kondisi batinmu akibat mengalami kejadian itu.

Itulah kenapa orang bisa mengalami kejadian yang sama, tapi dampaknya beda. Yang satu kondisi batinnya bisa baik-baik aja, tapi yang satunya bisa aja terluka parah.

Karena ya itu tadi, luka batin itu bukan semata soal apa yang terjadi, tapi lebih ke gimana kejadian itu tersimpan dalam pikiran, perasaan, dan badan kita.

Luka batin itu seperti bekas paku yang menancap di kayu lalu dicabut. Bekas itu masih ada sampai sekarang meski kejadiannya udah lama berlalu.

Luka batin itu, meski kejadian melukai udah dulu di masa lalu, udah lama berlalu, tapi energi luka masih ada di dalam diri kita. Dan mengkondisikan batin kita, memprogram batin kita.

Sehingga kita bereaksi kepada apapun yang kita alami sekarang di hidup saat ini berdasarkan program itu. Apalagi saat kita ke-trigger. Kita jadi menjalani hidup berdasarkan luka.

Contoh: Seorang anak yang sering dimarahi mungkin tumbuh menjadi orang yang selalu takut berbuat salah. Seorang anak yang ditinggalkan bapaknya mungkin tumbuh dengan sering merasa kesepian. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jadi luka batin itu bisa muncul dalam berbagai bentuk: Mudah cemas atau takut, sulit mempercayai orang lain, merasa enggak berharga, people pleasing, berlebihan takut ditolak, mudah tersinggung atau marah, sulit merasa aman meskipun keadaan sebenarnya aman, dan semacamnya.

Luka batin juga enggak selalu berasal dari kejadian besar seperti kekerasan atau musibah. Kadang luka batin bisa dari pengalaman yang berulang.

Contoh: Enggak merasa dicintai, enggak didengarkan, sering dibanding-bandingkan, hidup dalam rumah yang penuh konflik, orang tua enggak hadir secara emosional, dan sebagainya.

Kalo soal pemulihan batin, tentu enggak berarti mengubah masa lalu. Karena gimana pun kita enggak bisa mengubah masa lalu.

Selalu enggak ada kabar baru dari masa lalu.

Enggak berarti juga berusaha melupakan masa lalu. Tapi menyadari ingatan sebatas ingatan, bukan kenyataan saat ini, di sini, kini.

Jadi masa lalu itu, luka itu enggak lagi mengendalikan kita dalam melihat diri sendiri, orang lain, dan dalam menjalani hidup ini.

2 menit baca

Tidak Sejalan dengan “Positive Vibes”

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?”

Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal:

Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya.

Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal bahwa ada batas yang dilanggar.

Kalo semua emosi negatif dilarang, dianggap salah, harus selalu positive vibes, yang terjadi bukan pemulihan, tapi emotional suppression (penekanan emosi).

Lalu hanya soal waktu, emosi itu akan berusaha nyari cara untuk muncul, biar kita tau emosi itu ada. Bisa berupa emosi meledak sewaktu-waktu atau bisa dalam bentuk sakit fisik.

Susan David di buku Emotional Agility menjelaskan mental yang sehat itu bukan dengan berusaha selalu merasa positif, tapi dari terampil hadir bersama seluruh emosi, tanpa tenggelam dikuasai oleh emosi itu.

Kedua: Positive vibes bisa jadi bentuk pelarian, escaping.

Orang berusaha selalu positive vibes, selalu tertawa gembira, bisa jadi untuk lari menghindari perasaan enggak nyaman, luka batin belum pulih, yang mestinya perlu diakui, disadari.

Contoh: “Aku sudah ikhlas. Aku sudah memaafkan. Dan sebagainya.”

Padahal sebenarnya di dalam dirinya, masih sedih, badannya masih stres.

Bessel van der Kolk di buku The Body Keeps the Score membahas trauma yang enggak diproses tetap tersimpan dalam badan. Trauma enggak hilang hanya karena kita positive vibes.

Ketiga: Kalo di ilmu kesadaran, kita bisa terbebas dari pikiran dan emosi negatif itu bukan dengan menolaknya, tapi dengan menyadari pikiran dan emosi (negatif maupun positif), tanpa mengidentifikasi diri kita dengan pikiran dan emosi itu.

Menyadari hakikat diri sebagai langit kesadaran yang memberi ruang buat semua awan pikiran dan emosi datang dan pergi. Langit enggak terpengaruh sama pikiran dan emosi.

Enggak menggenggam positif, enggak membenci negatif.”

Lalu saya ditanya lagi: “Kalo nggak positive vibes, terus mesti gimana?”

Jawaban saya: “Saya belajar jujur pada apa yang sedang saya rasakan. Belajar jujur pada diri sendiri.

Kalau sedih, belajar menyadari emosi sedih. Kalau marah, belajar menyadari emosi marah. Kalau takut, belajar menyadari emosi takut.

Belajar jadi pengamat, penyaksi.

Justru ketika emosi benar-benar saya sadari tanpa melawannya maupun tenggelam di dalamnya, emosi mulai mengendur surut.

Rasa damai yang lebih dalam, bahagia yang sesungguhnya itu lahir enggak karena kita positive vibes dan memusuhi negatif.

Tapi lahir karena kita mau menerima kenyataan yang sedang kita alami dan kita menyadari hakikat diri, yaitu kesadaran sebagai sang penyaksi semua pikiran, emosi, segala pengalaman.

Akar Penyebab Konflik

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik?

Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik.

Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal.

Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus terjadi, berulang.

Mengurangi konflik di level kelompok, negara, di level kolektif, itu juga perlu dengan mengurangi konflik di level individu. Perdamaian dunia juga diupayakan melalui perdamaian batin dalam diri kita.

Jadi kalo kita ingin mengurangi konflik di level kolektif, maka setiap kita juga perlu mengurangi konflik-konflik sehari-hari di level individu.

Sadar atau enggak, kalo kita suka dengan konflik, kita jadi pihak yang terus berkonflik atau pun kita suka ngikutin konflik orang lain, suka dengan keributan di social media, suka sama agresivitas, maka itu mencerminkan kondisi batin kita yang konflik, ribut, agresif juga.

Kita suka, tertarik sesuatu yang sama dengan kondisi batin kita.

“Lalu apa tanda ego, keakuan kita begitu besar, kita menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered?”

Tandanya kita selalu merasa benar, orang lain selalu salah. Ego, “aku” selalu pingin jadi yang lebih hebat, menang dan benar. Itu caranya supaya ada & membesar. Karena itu, terus mencari kesalahan orang lain biar merasa dirinya lebih benar, lebih baik.

Ego, “aku” juga bikin kita terus hidup di dalam “cerita tentang diriku sendiri”.

“Aku, diriku, milikku, punyaku.”

“I, me, myself, mine.”

Pikiran terus mengulang: “Ini yang dia lakukan kepadaku,” “Harusnya dia enggak ngomong gitu ke aku,” “Aku attract keinginanku,” dan sebagainya. Kalo kita enggak sadar, kita mengira semua pikiran itu adalah diri kita. Padahal itu hanya pikiran yang muncul berdasarkan pengalaman masa lalu.

Yang kita anggap sebagai diri kita, sebagai “aku”, sebenarnya hanya pikiran yang dibentuk oleh masa lalu.

“Aku” adalah kumpulan pola pikir, emosi, kebiasaan, dan pengalaman yang terprogram, terkondisikan masa lalu. Kalo kita sepenuhnya attach pada semua itu, kita seperti hidup di dalam “penjara” ciptaan pikiran sendiri. Kita terpenjara pikiran kita sendiri.

Oya hati-hati juga sama ego spiritual.

Kalo kita mulai bertumbuh di jalan kesadaran, secara spiritual, ego “aku” sering muncul kembali dengan lebih halus. Misalnya, “Aku lebih sadar daripada orang lain,” atau “Aku lebih spiritual,” atau “Aku bisa attract uang, attract keinginanku,” dan sebagainya.

Itu tetap ego, hanya pake topeng baru.

Kalo kita attach dan percaya pada label identitas ego “aku, aku, aku”, pada klaim-klaim yang spiritual itu, maka kita justru akan terjebak lagi dalam permainan ego “aku”.

Kesadaran sejati, hakikat diri, enggak bergantung pada label, identitas, klaim, serta citra diri atau gelar apapun itu.

Selalu Rakus Bahkan Dalam Healing dan Spiritual

Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual.

Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya.

Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini manusiawi. Tapi kalo berlebihan, jadi rakus, serakah.

Awalnya kita mencoba menambal lubang, mengisi kosong itu dengan hal-hal di luar diri, duniawi: uang, barang, relasi, hiburan, gelar, pengetahuan, pengalaman baru, dsb.

Celakanya, misal relasi, malah bisa bikin lubang dan kosong yang baru. Lubang dan kosongnya malah makin besar, makin terasa. Contoh lain: uang, sampai menghalalkan segala cara, korupsi.

Tapi ketika semua duniawi itu tetap enggak berhasil menambal & mengisi, kita mulai mencoba menambal lubang, mengisi kosongnya di berbagai hal yang terkait healing & spiritual: level kesadaran lebih tinggi, energi lebih positif, Tuhan, kebahagiaan, pencerahan, spiritual awakening, dsb.

Pengejaran terkait healing & spiritual ini juga bisa bikin orang agresif melakukan kekerasan, menyebabkan penderitaan.

Masalahnya, berusaha meraih duniawi maupun healing & spiritual itu sama aja, tetap didorong oleh rasa kurang, lubang, kosong dalam diri & kita pingin menambal, mengisinya, jadi utuh. Cuma objek yang kita kejar aja beda.

Kita sebatas mengganti objek pengejarannya.

Dulu mengejar harta, sekarang mengejar hal yang kita anggap lebih suci. Padahal polanya ya tetap sama: kita merasa ada yang kurang, lubang, kosong dalam diri, lalu kita mencari sesuatu yang kita yakini akan melengkapi, bikin diri kita utuh.

Dan itulah sumber masalah yang selama ini kita abaikan, selama ini nggak kita sadari.

Karena itu, kita nggak perlu terburu-buru berusaha menambal lubang, mengisi kosong itu.

Tapi benar-benar sadari rasa kurang, lubang, kosong, rasa enggak puas yang ada di dalam diri itu. Temui, temani.

Saat rasa itu benar-benar kita sadari, tanpa ingin segera menambalnya, mengisinya atau melarikan diri darinya, maka pengejaran (becoming) yang tanpa akhir itu bisa berangsur mereda, mengendur surut dengan sendirinya.

Attachment Pada Profesional Mental Health & Guru Healing

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri.

Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya.

Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua ajaran yang dikatakan. Kita lalu enggak memikirkannya dulu, enggak berani meragukannya, enggak membuktikannya sendiri dulu. Kita jadi manja, bergantung, attach padanya. Kita jadi kehilangan kemandirian, kita jadi kehilangan diri sendiri.

Padahal hubungan yang sehat antara kita dengan yang kita idolakan, panutan kita, antara kita sebagai murid dengan guru healing, meditasi, spiritual itu hubungan yang mestinya bikin kita semakin mandiri, semakin enggak attach, dan kita semakin percaya pada kejernihan diri sendiri, bukan malah semakin bergantung.

Ada profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, yang sengaja berusaha agar muridnya terus bergantung kepadanya. Karena itu menguntungkan buat dirinya. Mungkin secara materi maupun secara psikis, emosional, sosial.

Tapi profesional kesehatan mental yang baik, guru yang baik justru enggak pingin muridnya terus bergantung kepadanya. Sebaliknya, dia mendorong muridnya untuk mandiri menemukan kebenaran melalui pengalaman dan kesadaran mereka sendiri.

Jadi, belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru itu sebaiknya berjalan bersamaan dengan kemandirian berpikir. Enggak terus kita menelan mentah apa aja yang dikasih ke kita.

Kita tetap bisa menghargai seseorang tanpa kehilangan kemampuan kita untuk bertanya, meragukannya, mempertimbangkannya, atau bahkan berbeda pendapat.

Itulah hubungan yang sehat dan dewasa:

“Kita menghormati orang lain tanpa kehilangan diri kita sendiri.”

Masa Kecil Mempengaruhi Masa Dewasa

Mengapa masa kecilmu memengaruhi hidupmu saat kamu dewasa?

Masa kecilmu membentuk landasan utama yang kamu gunakan saat dewasa dalam berpikir, mengelola emosi, berelasi dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan dalam berbagai hal lainnya.

Masa kecilmu menentukan “kacamata” yang kamu gunakan saat dewasa dalam melihat hidup.

Masa kecil kita memengaruhi hidup saat kita dewasa karena pada masa itulah kita pertama kali belajar tentang diri sendiri, orang lain, dan hidup ini.

Sebagai anak kecil, segala sesuatu yang kita lihat kita jadikan sebagai landasan utama, blueprint, “ooo hidup ini begini”. Kita menyerap pengalaman begitu saja dan menjadikannya kesimpulan tentang hidup ini gimana.

Contoh:

  • Kalo sering dikritik, seorang anak bisa menyimpulkan, “Aku ini selalu enggak cukup baik.”
  • Kalo sering diabaikan, bisa langsung menyimpulkan, “Perasaanku enggak penting.”
  • Kalo orang tua sering bertengkar, bisa menyimpulkan, “Ternyata relasi itu bahaya, enggak aman.”
  • Kalo ditinggalkan orang tua, bisa menyimpulkan, “Orang yang kucintai pasti akan meninggalkanku.”
  • Dan sebagainya.

Kesimpulan-kesimpulan itu tanpa disadari sering terbawa sampai kita dewasa.

Akibatnya, saat dewasa, kita sering bereaksi terhadap kehidupan saat ini berdasarkan pengalaman masa kecil, berdasarkan luka masa kecil itu.

Misalnya, pasangan berbeda pendapat sama kamu.

Reaksimu bukan cuma karena beda pendapat yang terjadi saat ini. Tapi juga dipengaruhi pengalaman masa kecil.

Contoh: karena beda pendapat itu, kamu muncul ketakutan berlebihan. Karena blueprint-mu atau “kacamatamu” adalah penolakan atau ditinggalkan yang kamu alami di masa kecil.

Masa kecil, masa lalu, memengaruhi kita karena pikiran terus membawa ingatan dan kesimpulan lama itu ke setiap pengalaman baru saat ini. Kita enggak melihat kenyataan saat ini seapaadanya, tapi kita melihatnya melalui lensa masa lalu.

Dan memahami masa kecil itu bukan untuk menyalahkan orang tua atau terus hidup di masa lalu. Tapi memahami itu untuk menyadari keterkondisian batin, pola yang udah lama terbentuk. Kita menyadari pola itu, maka otomatis kita bukanlah pola itu.

Jadi kita keluar dari pola, enggak terus mengulanginya di hidup saat kita udah dewasa ini.

Masa kecil membentuk banyak pola dalam diri kita, tapi masa kecil enggak harus menentukan gimana kita menjalani sisa hidup kita.

Apa itu Luka Batin?

Orang dekatmu enggak sadar, enggak peduli soal luka batin? Ini tulisan buat orang yang enggak sadar, enggak peduli soal luka batin.

Luka batin itu bukan sebatas soal kejadian yang kamu alami, tapi lebih ke gimana kondisi batinmu akibat mengalami kejadian itu.

Itulah kenapa orang bisa mengalami kejadian yang sama, tapi dampaknya beda. Yang satu kondisi batinnya bisa baik-baik aja, tapi yang satunya bisa aja terluka parah.

Karena ya itu tadi, luka batin itu bukan semata soal apa yang terjadi, tapi lebih ke gimana kejadian itu tersimpan dalam pikiran, perasaan, dan badan kita.

Luka batin itu seperti bekas paku yang menancap di kayu lalu dicabut. Bekas itu masih ada sampai sekarang meski kejadiannya udah lama berlalu.

Luka batin itu, meski kejadian melukai udah dulu di masa lalu, udah lama berlalu, tapi energi luka masih ada di dalam diri kita. Dan mengkondisikan batin kita, memprogram batin kita.

Sehingga kita bereaksi kepada apapun yang kita alami sekarang di hidup saat ini berdasarkan program itu. Apalagi saat kita ke-trigger. Kita jadi menjalani hidup berdasarkan luka.

Contoh: Seorang anak yang sering dimarahi mungkin tumbuh menjadi orang yang selalu takut berbuat salah. Seorang anak yang ditinggalkan bapaknya mungkin tumbuh dengan sering merasa kesepian. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jadi luka batin itu bisa muncul dalam berbagai bentuk: Mudah cemas atau takut, sulit mempercayai orang lain, merasa enggak berharga, people pleasing, berlebihan takut ditolak, mudah tersinggung atau marah, sulit merasa aman meskipun keadaan sebenarnya aman, dan semacamnya.

Luka batin juga enggak selalu berasal dari kejadian besar seperti kekerasan atau musibah. Kadang luka batin bisa dari pengalaman yang berulang.

Contoh: Enggak merasa dicintai, enggak didengarkan, sering dibanding-bandingkan, hidup dalam rumah yang penuh konflik, orang tua enggak hadir secara emosional, dan sebagainya.

Kalo soal pemulihan batin, tentu enggak berarti mengubah masa lalu. Karena gimana pun kita enggak bisa mengubah masa lalu.

Selalu enggak ada kabar baru dari masa lalu.

Enggak berarti juga berusaha melupakan masa lalu. Tapi menyadari ingatan sebatas ingatan, bukan kenyataan saat ini, di sini, kini.

Jadi masa lalu itu, luka itu enggak lagi mengendalikan kita dalam melihat diri sendiri, orang lain, dan dalam menjalani hidup ini.

Tidak ada lagi sesi yang bisa ditampilkan.