Spirituality
•
2 menit baca

Selalu Rakus Bahkan Dalam Healing dan Spiritual

Adjie Santosoputro
Hanif Muflih
15 Juli 2026
•
Edisi Renungan Hening

Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual.

Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya.

Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini manusiawi. Tapi kalo berlebihan, jadi rakus, serakah.

Awalnya kita mencoba menambal lubang, mengisi kosong itu dengan hal-hal di luar diri, duniawi: uang, barang, relasi, hiburan, gelar, pengetahuan, pengalaman baru, dsb.

Celakanya, misal relasi, malah bisa bikin lubang dan kosong yang baru. Lubang dan kosongnya malah makin besar, makin terasa. Contoh lain: uang, sampai menghalalkan segala cara, korupsi.

Tapi ketika semua duniawi itu tetap enggak berhasil menambal & mengisi, kita mulai mencoba menambal lubang, mengisi kosongnya di berbagai hal yang terkait healing & spiritual: level kesadaran lebih tinggi, energi lebih positif, Tuhan, kebahagiaan, pencerahan, spiritual awakening, dsb.

Pengejaran terkait healing & spiritual ini juga bisa bikin orang agresif melakukan kekerasan, menyebabkan penderitaan.

Masalahnya, berusaha meraih duniawi maupun healing & spiritual itu sama aja, tetap didorong oleh rasa kurang, lubang, kosong dalam diri & kita pingin menambal, mengisinya, jadi utuh. Cuma objek yang kita kejar aja beda.

Kita sebatas mengganti objek pengejarannya.

Dulu mengejar harta, sekarang mengejar hal yang kita anggap lebih suci. Padahal polanya ya tetap sama: kita merasa ada yang kurang, lubang, kosong dalam diri, lalu kita mencari sesuatu yang kita yakini akan melengkapi, bikin diri kita utuh.

Dan itulah sumber masalah yang selama ini kita abaikan, selama ini nggak kita sadari.

Karena itu, kita nggak perlu terburu-buru berusaha menambal lubang, mengisi kosong itu.

Tapi benar-benar sadari rasa kurang, lubang, kosong, rasa enggak puas yang ada di dalam diri itu. Temui, temani.

Saat rasa itu benar-benar kita sadari, tanpa ingin segera menambalnya, mengisinya atau melarikan diri darinya, maka pengejaran (becoming) yang tanpa akhir itu bisa berangsur mereda, mengendur surut dengan sendirinya.

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
Bagikan Renungan:

Renungan Terkait untuk Anda

Langkah Laku Selanjutnya
Mental Health
•
2 Menit

Tidak Sejalan dengan “Positive Vibes”

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?” Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal: Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya. Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal […]

Lanjut Membaca
Relationship
•
3 Menit

Akar Penyebab Konflik

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik? Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik. Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal. Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus […]

Lanjut Membaca