Mental Health
•
2 menit baca

Tidak Sejalan dengan “Positive Vibes”

Adjie Santosoputro
Adjie Santosoputro
22 Juli 2026
•
Edisi Renungan Hening

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?”

Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal:

Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya.

Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal bahwa ada batas yang dilanggar.

Kalo semua emosi negatif dilarang, dianggap salah, harus selalu positive vibes, yang terjadi bukan pemulihan, tapi emotional suppression (penekanan emosi).

Lalu hanya soal waktu, emosi itu akan berusaha nyari cara untuk muncul, biar kita tau emosi itu ada. Bisa berupa emosi meledak sewaktu-waktu atau bisa dalam bentuk sakit fisik.

Susan David di buku Emotional Agility menjelaskan mental yang sehat itu bukan dengan berusaha selalu merasa positif, tapi dari terampil hadir bersama seluruh emosi, tanpa tenggelam dikuasai oleh emosi itu.

Kedua: Positive vibes bisa jadi bentuk pelarian, escaping.

Orang berusaha selalu positive vibes, selalu tertawa gembira, bisa jadi untuk lari menghindari perasaan enggak nyaman, luka batin belum pulih, yang mestinya perlu diakui, disadari.

Contoh: “Aku sudah ikhlas. Aku sudah memaafkan. Dan sebagainya.”

Padahal sebenarnya di dalam dirinya, masih sedih, badannya masih stres.

Bessel van der Kolk di buku The Body Keeps the Score membahas trauma yang enggak diproses tetap tersimpan dalam badan. Trauma enggak hilang hanya karena kita positive vibes.

Ketiga: Kalo di ilmu kesadaran, kita bisa terbebas dari pikiran dan emosi negatif itu bukan dengan menolaknya, tapi dengan menyadari pikiran dan emosi (negatif maupun positif), tanpa mengidentifikasi diri kita dengan pikiran dan emosi itu.

Menyadari hakikat diri sebagai langit kesadaran yang memberi ruang buat semua awan pikiran dan emosi datang dan pergi. Langit enggak terpengaruh sama pikiran dan emosi.

Enggak menggenggam positif, enggak membenci negatif.”

Lalu saya ditanya lagi: “Kalo nggak positive vibes, terus mesti gimana?”

Jawaban saya: “Saya belajar jujur pada apa yang sedang saya rasakan. Belajar jujur pada diri sendiri.

Kalau sedih, belajar menyadari emosi sedih. Kalau marah, belajar menyadari emosi marah. Kalau takut, belajar menyadari emosi takut.

Belajar jadi pengamat, penyaksi.

Justru ketika emosi benar-benar saya sadari tanpa melawannya maupun tenggelam di dalamnya, emosi mulai mengendur surut.

Rasa damai yang lebih dalam, bahagia yang sesungguhnya itu lahir enggak karena kita positive vibes dan memusuhi negatif.

Tapi lahir karena kita mau menerima kenyataan yang sedang kita alami dan kita menyadari hakikat diri, yaitu kesadaran sebagai sang penyaksi semua pikiran, emosi, segala pengalaman.

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
“Damai bukanlah hidup tanpa ingatan pedih, melainkan hati yang cukup lapang untuk memeluk masa lalu tanpa harus memusuhinya lagi.”
Bagikan Renungan:

Renungan Terkait untuk Anda

Langkah Laku Selanjutnya
Relationship
•
3 Menit

Akar Penyebab Konflik

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik? Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik. Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal. Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus […]

Lanjut Membaca
Spirituality
•
2 Menit

Selalu Rakus Bahkan Dalam Healing dan Spiritual

Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual. Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya. Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini […]

Lanjut Membaca