Relationship
•
2 menit baca

Attachment Pada Profesional Mental Health & Guru Healing

Adjie Santosoputro
Hanif Muflih
15 Juli 2026
•
Edisi Renungan Hening

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri.

Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya.

Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua ajaran yang dikatakan. Kita lalu enggak memikirkannya dulu, enggak berani meragukannya, enggak membuktikannya sendiri dulu. Kita jadi manja, bergantung, attach padanya. Kita jadi kehilangan kemandirian, kita jadi kehilangan diri sendiri.

Padahal hubungan yang sehat antara kita dengan yang kita idolakan, panutan kita, antara kita sebagai murid dengan guru healing, meditasi, spiritual itu hubungan yang mestinya bikin kita semakin mandiri, semakin enggak attach, dan kita semakin percaya pada kejernihan diri sendiri, bukan malah semakin bergantung.

Ada profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, yang sengaja berusaha agar muridnya terus bergantung kepadanya. Karena itu menguntungkan buat dirinya. Mungkin secara materi maupun secara psikis, emosional, sosial.

Tapi profesional kesehatan mental yang baik, guru yang baik justru enggak pingin muridnya terus bergantung kepadanya. Sebaliknya, dia mendorong muridnya untuk mandiri menemukan kebenaran melalui pengalaman dan kesadaran mereka sendiri.

Jadi, belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru itu sebaiknya berjalan bersamaan dengan kemandirian berpikir. Enggak terus kita menelan mentah apa aja yang dikasih ke kita.

Kita tetap bisa menghargai seseorang tanpa kehilangan kemampuan kita untuk bertanya, meragukannya, mempertimbangkannya, atau bahkan berbeda pendapat.

Itulah hubungan yang sehat dan dewasa:

“Kita menghormati orang lain tanpa kehilangan diri kita sendiri.”

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
Bagikan Renungan:

Renungan Terkait untuk Anda

Langkah Laku Selanjutnya
Mental Health
•
2 Menit

Tidak Sejalan dengan “Positive Vibes”

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?” Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal: Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya. Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal […]

Lanjut Membaca
Relationship
•
3 Menit

Akar Penyebab Konflik

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik? Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik. Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal. Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus […]

Lanjut Membaca