Arsip Tulisan

Blog & Esai Kontemplatif - Adjie Santosoputro

Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
22 Juli

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?” Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal: Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya. Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal […]

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
21 Juli

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik? Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik. Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal. Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus […]

3 menit baca
Hanif Muflih
dalam
Spirituality
•
15 Juli

Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual. Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya. Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini […]

2 menit baca
Hanif Muflih
dalam
Relationship
•
15 Juli

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri. Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya. Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua […]

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
2 Juli

Mengapa masa kecilmu memengaruhi hidupmu saat kamu dewasa?

Masa kecilmu membentuk landasan utama yang kamu gunakan saat dewasa dalam berpikir, mengelola emosi, berelasi dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan dalam berbagai hal lainnya.

Masa kecilmu menentukan “kacamata” yang kamu gunakan saat dewasa dalam melihat hidup.

Masa kecil kita memengaruhi hidup saat kita dewasa karena pada masa itulah kita pertama kali belajar tentang diri sendiri, orang lain, dan hidup ini.

Sebagai anak kecil, segala sesuatu yang kita lihat kita jadikan sebagai landasan utama, blueprint, “ooo hidup ini begini”. Kita menyerap pengalaman begitu saja dan menjadikannya kesimpulan tentang hidup ini gimana.

Contoh:

  • Kalo sering dikritik, seorang anak bisa menyimpulkan, “Aku ini selalu enggak cukup baik.”
  • Kalo sering diabaikan, bisa langsung menyimpulkan, “Perasaanku enggak penting.”
  • Kalo orang tua sering bertengkar, bisa menyimpulkan, “Ternyata relasi itu bahaya, enggak aman.”
  • Kalo ditinggalkan orang tua, bisa menyimpulkan, “Orang yang kucintai pasti akan meninggalkanku.”
  • Dan sebagainya.

Kesimpulan-kesimpulan itu tanpa disadari sering terbawa sampai kita dewasa.

Akibatnya, saat dewasa, kita sering bereaksi terhadap kehidupan saat ini berdasarkan pengalaman masa kecil, berdasarkan luka masa kecil itu.

Misalnya, pasangan berbeda pendapat sama kamu.

Reaksimu bukan cuma karena beda pendapat yang terjadi saat ini. Tapi juga dipengaruhi pengalaman masa kecil.

Contoh: karena beda pendapat itu, kamu muncul ketakutan berlebihan. Karena blueprint-mu atau “kacamatamu” adalah penolakan atau ditinggalkan yang kamu alami di masa kecil.

Masa kecil, masa lalu, memengaruhi kita karena pikiran terus membawa ingatan dan kesimpulan lama itu ke setiap pengalaman baru saat ini. Kita enggak melihat kenyataan saat ini seapaadanya, tapi kita melihatnya melalui lensa masa lalu.

Dan memahami masa kecil itu bukan untuk menyalahkan orang tua atau terus hidup di masa lalu. Tapi memahami itu untuk menyadari keterkondisian batin, pola yang udah lama terbentuk. Kita menyadari pola itu, maka otomatis kita bukanlah pola itu.

Jadi kita keluar dari pola, enggak terus mengulanginya di hidup saat kita udah dewasa ini.

Masa kecil membentuk banyak pola dalam diri kita, tapi masa kecil enggak harus menentukan gimana kita menjalani sisa hidup kita.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
1 Juli

Orang dekatmu enggak sadar, enggak peduli soal luka batin? Ini tulisan buat orang yang enggak sadar, enggak peduli soal luka batin.

Luka batin itu bukan sebatas soal kejadian yang kamu alami, tapi lebih ke gimana kondisi batinmu akibat mengalami kejadian itu.

Itulah kenapa orang bisa mengalami kejadian yang sama, tapi dampaknya beda. Yang satu kondisi batinnya bisa baik-baik aja, tapi yang satunya bisa aja terluka parah.

Karena ya itu tadi, luka batin itu bukan semata soal apa yang terjadi, tapi lebih ke gimana kejadian itu tersimpan dalam pikiran, perasaan, dan badan kita.

Luka batin itu seperti bekas paku yang menancap di kayu lalu dicabut. Bekas itu masih ada sampai sekarang meski kejadiannya udah lama berlalu.

Luka batin itu, meski kejadian melukai udah dulu di masa lalu, udah lama berlalu, tapi energi luka masih ada di dalam diri kita. Dan mengkondisikan batin kita, memprogram batin kita.

Sehingga kita bereaksi kepada apapun yang kita alami sekarang di hidup saat ini berdasarkan program itu. Apalagi saat kita ke-trigger. Kita jadi menjalani hidup berdasarkan luka.

Contoh: Seorang anak yang sering dimarahi mungkin tumbuh menjadi orang yang selalu takut berbuat salah. Seorang anak yang ditinggalkan bapaknya mungkin tumbuh dengan sering merasa kesepian. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jadi luka batin itu bisa muncul dalam berbagai bentuk: Mudah cemas atau takut, sulit mempercayai orang lain, merasa enggak berharga, people pleasing, berlebihan takut ditolak, mudah tersinggung atau marah, sulit merasa aman meskipun keadaan sebenarnya aman, dan semacamnya.

Luka batin juga enggak selalu berasal dari kejadian besar seperti kekerasan atau musibah. Kadang luka batin bisa dari pengalaman yang berulang.

Contoh: Enggak merasa dicintai, enggak didengarkan, sering dibanding-bandingkan, hidup dalam rumah yang penuh konflik, orang tua enggak hadir secara emosional, dan sebagainya.

Kalo soal pemulihan batin, tentu enggak berarti mengubah masa lalu. Karena gimana pun kita enggak bisa mengubah masa lalu.

Selalu enggak ada kabar baru dari masa lalu.

Enggak berarti juga berusaha melupakan masa lalu. Tapi menyadari ingatan sebatas ingatan, bukan kenyataan saat ini, di sini, kini.

Jadi masa lalu itu, luka itu enggak lagi mengendalikan kita dalam melihat diri sendiri, orang lain, dan dalam menjalani hidup ini.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Spirituality
•
25 Juni

Kamu punya konsep di pikiranmu tentang Tuhan, merasa konsep itu paling benar & kamu berkonflik, berantem, agresif sama orang karena itu?

Konsep di pikiranmu tentang Tuhan itu bukanlah Tuhan.

Kita sering terjebak mengira bahwa konsep tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri.

Akibatnya: Kita gampang berkonflik karena merasa konsep kita tentang Tuhan itu paling benar.

Kita melekat (attach) pada kata, simbol, atau doktrin daripada pada pengalaman langsung akan kedamaian, cinta, atau kesadaran.

Tanpa sadar kita menjadikan Tuhan sebagai alat untuk membesarkan ego kita, sebagai objek pikiran. Padahal Tuhan itu tidak terbatas (infinite), berada di luar jangkauan pikiran.

Kita merasa udah tau, bahkan paling tau, jadi kita nggak punya kerendahan hati untuk terus membuka diri, terus belajar di hidup ini.

Kalau kita terjebak pada konsep tentang Tuhan, kita bisa kehilangan keterhubungan dengan realitas hidup saat ini, di sini-kini yang sedang kita alami.

Momen di sini-kini adalah tempat “yang tidak terbatas” (God’s infinite being) selalu ada. Cuma kitanya aja yang terlalu sibuk untuk menyadari-Nya.

Saat kita memberi nama pada sesuatu yang tak terbatas (infinite), yaitu kita menyebutnya “Tuhan”, lalu kita membentuk konsep di pikiran mengenai itu, sebenarnya itu hanyalah cara pikiran manusia yang terbatas (finite) mencoba memahami sesuatu yang jauh melampaui dirinya (infinite).

Jadi itu hanyalah “yang terbatas (finite)” berusaha memahami “yang tidak terbatas (infinite)”.

Tuhan atau realitas sejati itu bersifat tidak terbatas (infinite).

Masalahnya, setiap nama, konsep, atau pun definisi itu pasti membatasi.

Karena itu, apa pun nama, konsep, definisi yang diberikan pikiran tidak akan pernah benar-benar menggambarkan Tuhan yang tidak terbatas.

Seringkali kita beranggapan kita, “aku” sebagai pihak yang terpisah dengan Tuhan. Ada “aku” dan ada Tuhan. “Aku” berusaha berelasi dan memahami Tuhan.

Padahal, pada level terdalam, sebenarnya yang ada hanyalah “yang tidak terbatas”, God’s infinite being, Tuhan, realitas sejati, kesadaran, being.

Diri kita, pikiran kita, yang terbatas (finite) selalu enggak bisa akurat dalam memberi nama, membentuk konsep mengenai “yang tidak terbatas, God’s infinite being”.

Jadi, daripada sibuk di ranah pikiran, dengan memberi nama dan terjebak dalam konsep mengenai Tuhan, lalu merasa paling benar, berkonflik, berantem, agresif… lebih penting di ranah rasa, dengan mengalami dan menyadari “yang tidak terbatas” itu secara langsung.

Analoginya kayak peta dan wilayah sebenarnya.

Kalo peta kita anggap sama persis dengan wilayah sebenarnya, maka kita berhenti menjelajah dan kita mempertahankan asumsi bahwa peta kita sepenuhnya paling benar.

Peta bukanlah wilayah sebenarnya.

Kata “Tuhan” bukanlah Tuhan itu sendiri. Nama hanyalah peta, hanyalah petunjuk, sedangkan kenyataannya jauh lebih luas daripada apa yang bisa dipikirkan atau diucapkan.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
22 Mei

“Kamu udah sering membantu. Tapi ketika kamu butuh bantuan, enggak ada yang mau membantumu?”

Kita kadang meminta mendapatkan yang sama dengan yang kita berikan.

Kita meminta mendapatkan bantuan karena kita udah sering memberikan bantuan.

Mungkin, rasa sakit karena tidak dibantu, sebenarnya lebih disebabkan oleh ekspektasi kita: “Aku kan sudah sering memberi, jadi seharusnya ada yang memberi ke aku.”

Itu manusiawi.

Tapi kita perlu berhenti sejenak dan mulai menyadari kenyataan diri yang barangkali selama ini takut kita akui:

Kadang kita membantu bukan murni karena welas asih, cinta atau kepedulian, tapi diam-diam ada keinginan untuk merasa dianggap, diterima, diri ini penting, atau berharap suatu hari yang kita berikan itu kembali ke kita.

Masalahnya, hidup ini kan tidak selalu bekerja ibarat transaksi. Ngasih 50 maka tidak selalu akan dapat 50.

Kita mungkin pernah ngasih bantuan ke seseorang, tapi belum tentu dia punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu kita saat kita membutuhkan.

Dan ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi kita, muncullah rasa sakit. Aku sendirian. Aku tidak dianggap. Setelah semua yang kulakukan, ternyata aku hanya mendapatkan ini.

Ketika begitu bisa dicoba, kita lihat 2 hal ini:

Pertama, iya, rasa sakit itu valid.

Kita tidak perlu pura-pura kuat. Tidak perlu juga langsung lari ke jawaban-jawaban spiritual yang seolah menenangkan hati. Memang sedih ketika kita merasa tidak ada yang membantu.

Tapi kedua, jangan bangun identitas sebagai “korban yang sudah paling memberi”.

Karena ego juga licin sekali menunggangi kebaikan untuk identitas: Aku yang paling baik. Aku yang paling banyak berkorban. Akibatnya hidup kita terasa pahit karena kita terus sibuk menghitung.

Nah, sebuah catatan penting.

Pelan-pelan belajar membantu karena itu memang nilai hidupmu, bukan sebagai investasi yang kelak akan kamu dapatkan kembali.

Dan lebih dalam lagi:

Sebaik-baiknya perbuatan baik adalah perbuatan baik yang kamu lakukan tanpa kamu merasa telah berbuat baik.

Di saat yang sama, belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu seperti yang kita harapkan.

Dan sangat mungkin ternyata kamu merasa enggak ada yang membantumu ini supaya kamu mengawasi egomu sendiri yang membesarkan dirinya dengan menunggangi kebaikan.

Coba, berbuat baik, tanpa merasa telah berbuat baik.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
17 Mei

Aku Mencintaimu Tidak Sebatas Rahimmu

Ini cerita istri saya operasi mioma.

“Ini miom, Bu, dan ukurannya udah lebih besar dari rahim,” kata dokter spesialis kandungan pertama yang kami temui.

Beberapa waktu sebelumnya, istri saya, Indri, perut bawahnya terasa kenceng. Enggak sakit. Waktu menstruasi juga enggak sakit. Mensnya pun sesuai sama jadwalnya dan enggak banyak banget.

Jadi kami periksa ke dokter. Setelah denger kata dokter itu, kami masih berusaha mencernanya, merasa gamang.

Kami lalu teringat, sebelum pandemi, kami program hamil. Dokter waktu itu sempet bilang, ada miom. Masih kecil, jadi nggak pa-pa. Nanti dikeluarin sekalian pas lahiran aja. Lalu pandemi. Berjalannya waktu belum hamil, belum lahiran. Dan miom itu luput dari perhatian kami.

Kami perlu second opinion. Besoknya, pada suatu Kamis pagi, kami ke dokter spesial kandungan yang kedua. Gaya ngomongnya lebih lugas, straightforward, “Ukuran miom segini, ditambah usia juga udah segini, jadi operasinya sekalian angkat rahim aja, histerektomi.”

Seketika kami mendengarnya, kayak dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi. Tapi belum sampai di dasarnya.

Barulah sampe rumah, di meja makan, selesai makan siang, kami “sampai di dasarnya setelah dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi.”

Kami pelukan nangis senangis-nangisnya berdua 😭

Enggak tau kenapa, sorenya kami tergerak buat nyari third opinion. Akhirnya malamnya kami tekadkan dari Bekasi ke Bintaro buat periksa ke dokter spesialis kandungan ketiga.

Dokter kali ini bilang, “Operasi dulu, dibuka dulu, baru tau bisa miomnya aja yang diambil atau sekalian angkat rahim. Saya akan sangat berusaha bisa miomnya aja yang diambil.”

Kami merasa mendapat harapan, masih ada kemungkinan. Kami milih dokter ketiga ini yang mengoperasi.

Fase selanjutnya adalah jadwal operasi. Nunggu Indri mens, karena berdekatan sama jadwal mens. Selesai mens, beberapa hari setelahnya, baru operasi.

Kami sambil mulai hubungi keluarga dan temen-temen dekat.

Hari-hari di masa itu, sungguh ngaruh ke psikis kami. Kami sulit tidur. Kalau pun bisa tidur, enggak nyenyak. Menjalani hari dengan pikiran “gimana ya nanti?” “nanti jangan-jangan begini begitu.”

Bertambah berat karena di hari-hari itu, kami tetap memenuhi jadwal sesi, dan sebagainya, yang kami udah berkomitmen untuk penuhi.

Beberapa kali kami obrolin, terutama sore sehari sebelum operasi, saya nanya: “Seandainya di tengah operasi, karena kamu masih dibius, kondisinya mesti angkat rahim, maka dokternya akan nanya aku, aku mesti gimana?”

Saya sadar, saya tidak punya hak sama sekali memutuskan sendiri. Saya mesti minta izin Indri dulu. Badan Indri sepenuhnya milik Indri. Dia bilang, “Ya mau gimana lagi. Ya nggak pa-pa.” Kami melihat kedua kemungkinan itu sama-sama terbaik buat kesehatan Indri.

Tentu ada beberapa hal yang bikin dia khawatir seandainya angkat rahim. Tapi setidaknya saya berusaha hal yang berhubungan sama cinta saya ke dia enggak perlu dia khawatirkan.

Awal saya mencintai Indri, seperti orang pada umumnya mencintai seseorang, mencintai di dimensi diri konseptual, yaitu wajahnya, badannya, sifatnya, karakternya, kepribadiannya, masa lalunya, dan segala yang tampak dan ranahnya dangkal.

Namun di momen ini terlintas yang pernah saya pelajari selama ini:

“Hakikat diri kita, diri kita di level terdalam itu cinta. Aku mencintaimu itu sebenarnya berarti aku menyadari hakikat dirimu, dirimu di level terdalam. Bukan sebatas dirimu di dimensi konseptual. Dan hakikat dirimu itu sama dengan hakikat diriku. Jadi kalo aku menyakitimu sama saja aku menyakiti diriku sendiri.”

Perlahan saya peluk Indri, dan saya pun bilang: “Gimana pun nanti, aku mencintaimu tidak sebatas rahimmu.”

Keesokan harinya, pada suatu Selasa pagi, kurang lebih 05.00 WIB, operasi itu tiba.

Menunggu operasi. Seumur hidup saya, ini waktu terasa paling lama daripada biasanya. Waktu bergerak sangat lambat.

Setelah 1 jam 45 menit, saya dipanggil suster buat ketemu dokter. Ditemani kakak saya, saya melangkah dan bersiap untuk menerima apapun hasilnya. Bersyukur banget, ternyata bisa miomnya aja yang diambil dan semuanya sehat ❤️

Sekarang tinggal fase pemulihan. Kami sangat berterima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga, teman-teman yang mendoakan, bahkan meluangkan waktu buat nunggu operasi dan jenguk, kepada dokter dan para suster. Terima kasih, terima kasih, terima kasih ❤️ Buat kita semua, jaga kesehatan ya.

4 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
15 Mei

Gimana kamu menyikapi orang yang egonya besar?

Mungkin batinmu terluka karena orang yang egonya besar. Atau kondisi batinmu masih terluka, belum pulih dan mesti berinteraksi sama orang yang egonya besar.

Gimana ilmu kesadaran menyikapi hal itu? Ini yang sebaiknya kamu lakukan.

Setiap orang punya dimensi hakikat dan dimensi ego (diri konseptual).

Ketika kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, maka kita kayak ditarik membesar juga ego kita. Ego seringkali nyari temen bermain ego yang lain.

Kalo ego kita ketarik membesar, jadi temen bermain ego dia, maka kita langsung reaktif melawan, agresif.

Kita reaktif melawan, agresif itulah yang ego dia inginkan. Kita masih jadi bagian dari arena permainan yang diciptakan ego dia.

Selama kita masih reaktif melawan, agresif, itu berarti kita lebih berada di dimensi ego. Ego kita berarti ikutan membesar. Membesarnya “aku” yang melawan dia.

Lalu sebaiknya gimana?

Nggak reaktif melawan, nggak agresif.

Tapi bukan berarti juga pasif pasrah lho ya. Bukan. Lebih ke kita bener-bener nggak ngikutin permainan ego dia yang narik ego kita buat ikutan membesar. Kita lebih terhubung di dimensi hakikat diri. Sehingga ego dia kehilangan temen bermain.

Dia kayak “menggonggong ke angin”. Enggak ada ego kita, enggak ada “aku” di sana yang dia gonggongin.

Dinamika energi dalam interaksinya jadi berubah.

Bisa terjadi sebelumnya interaksinya keras jadi melunak. Sebelumnya defensif jadi melonggar. Bahkan mungkin akhirnya dia sendiri yang sadar lalu minta maaf.

Itu berarti kita “menang”? Enggak sih. Lebih karena kita nggak ngikutin permainan ego dia. Ego dia nggak punya temen bermain, nggak punya lawan.

Ketenangan batin enggak hanya ada saat kita berinteraksi sama orang yang nyenengin.

Saat kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, ketenangan batin pun sebenarnya senantiasa ada di dalam diri kita.

Kayak langit senantiasa ada apapun bentuk dan warna awannya. Bahkan ketika ketutupan awan hitam, langit senantiasa ada di balik awan.

Kita akan terhubung sama ketenangan batin itu kalo kita nggak reaktif melawan, nggak agresif, nggak ngikutin permainan ego dia.

Dan kita bisa tau, bisa merasakan kalo orang egonya besar, tanpa menghakimi dia.

Tapi ini tricky-nya, kalo kita reaktif melawan, agresif, pingin mengubah dia, pingin benerin dia, itu biasanya berasal dari ego kita.

Akibatnya, ego ketemu ego. Ego dia malah seneng karena punya temen bermain.

Stop feeding his/her ego.

Oya di balik ego dia yang besar, di balik ucapan dan perbuatan dia, sebenarnya ada dimensi diri dia yang lebih dalam, yang sama dengan dimensi terdalam diri kita, yaitu hakikat diri, yaitu kesadaran, true nature.

Kalo kita berinteraksi berlandaskan kesadaran tentang dimensi diri dia yang lebih dalam ini, nggak sebatas dimensi ego dia, maka interaksinya jadi beda.

Kata-kata yang kita ucapkan mungkin sama, tapi rasanya, energinya beda.

Dan kadang mungkin bisa terjadi, itu cukup bisa bikin dia pelan-pelan sadar, bikin dia “bangun” dari dimensi egonya ke dimensi hakikat diri.

Kalo pun itu enggak terjadi, nggak masalah. Terpenting ego kita nggak ikut membesar. Kita nggak ngikutin permainan ego dia.

3 menit baca
Adjie Santosoputro duduk hening

Adjie Santosoputro

Praktisi Hening & Penulis

Menemani perjalanan batin kembali ke rumah diri. Berbagi renungan tentang kejernihan pikiran, melepaskan keterikatan rasa, dan menghargai ritme hening kehidupan sehari-hari.

Ritme Hening Pekan Ini
18k Pencari Batin

Rata-rata 4.8 menit dihabiskan untuk membaca satu renungan secara utuh tanpa terburu-buru.

Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
Min

Surat Sadar Mingguan

Sapaan hangat di akhir pekan. Satu refleksi esensial yang ditulis langsung oleh Mas Adjie untuk menemani ruang bernapas Anda.

Tersimpan untuk Nanti
0
Belum ada tulisan yang disimpan. Ketuk ikon penanda untuk membaca di waktu hening.