Mindfulness
•
2 menit baca

Emosi Mengikuti Pikiran

Adjie Santosoputro
Adjie Santosoputro
4 Mei 2026
•
Edisi Renungan Hening

Masa lalu, termasuk kejadian yang melukai batinmu itu sekarang hanya ada sebatas ingatan. Masalah sebenarnya bukanlah masih munculnya ingatan itu. Masalah sebenarnya adalah energi emosi yang muncul mengikuti ingatan itu.

Yang kamu sebut “masa lalu” itu sebenarnya sekarang cuma ada dalam bentuk pikiran, ingatan di kepala. Secara nyata, kejadian itu udah selesai. Udah nggak ada di sini lagi.

Tapi yang bikin terasa “masih belum selesai”… itu karena ada energi emosi yang masih ngikutin nempel di dalam dirimu.

Jadi setiap kali kamu keinget, yang muncul bukan cuma ingatannya, tapi energi lama itu ikut bangkit lagi. Makanya rasanya kayak kejadian itu masih terjadi sekarang.

Padahal sebenarnya bukan kejadian masa lalunya yang sekarang terjadi lagi secara nyata… tapi emosinya yang muncul lagi.

Jalan keluarnya bukan dengan ngulik-ngulik ceritanya terus, atau mencoba memproses ingatan dan emosinya.

Tapi dengan sadar, saat ingatan dan emosi itu muncul, kamu sadari aja… sekadar hadir, just be, jadi sang penyaksi. Enggak melawan, enggak menekan. Enggak hanyut terseret. Sehingga mulai ada jarak antara dirimu dengan ingatan dan emosi itu.

Pelan-pelan energi emosinya berangsur mengendur kehilangan kekuatannya.

Jadi bukan berusaha menghilangkan ingatan… tapi keterikatan emosinya yang mulai mengendur karena kamu sadar, kamu bukan ingatan itu, kamu bukan emosi itu. Kamu adalah kesadaran yang menyadari ingatan dan emosi itu.

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
Bagikan Renungan: