Mental Health
•
3 menit baca

Minder

Kata “minder” itu kata serapan dari bahasa Belanda:

Minderwaardigheidcomplex

(Kalau kamu bisa bahasa Belanda, itu bacanya gimana ya?)

Artinya kurang percaya diri, rendah diri, atau merasa tidak mampu dibandingkan orang lain.

Dulu waktu SD, saya minder karena saya mesti pakai kacamata. Sedangkan temen temen deket saya enggak ada yang pake kacamata.

Waktu kuliah di Yogya, saya minder karena saya medok. Karena temen-temen saya kuliah dari Jakarta fasih ngomong: loe-gue.

Awal saya memandu podcast, saya minder karena mesti ngobrol sama orang-orang terkenal yang dulu cuma bisa saya liat di tv.

Dan masih banyak lagi momen yang bikin saya minder.

Temen saya cerita, dia juga minder. Rasa mindernya itu berawal dari dulu dia pernah mengalami kejadian berat, yaitu dia merasa ditinggalkan sama orang tuanya. Lalu kejadian itu nempel di batinnya dalam bentuk perasaan: “Aku ditinggalkan.” Lama-lama itu jadi penyebab utama dari rasa mindernya.

Saya jadi sadar, rasa minder bisa bersumber dari pengalaman masa lalu.

Selain itu saya merasa misal pas saya ketemu orang yang saya anggap “lebih”, lebih keren, lebih sukses, lebih terkenal. Tiba-tiba saya langsung ciut, ngerasa kecil, seperti remahan rengginang.

Tapi kalo ketemu orang yang saya anggap setara sama saya, saya ya nyantai, biasa aja.

Di situ keliatan: Pikiran saya menciptakan gambaran mengenai diri saya dan menciptakan gambaran mengenai orang lain yang saya temui.

Ada gambaran ciptaan pikiran tentang diri saya sendiri dan ada gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain. Lalu dua gambaran itu dibandingin.

Kita berelasi sebatas antar gambaran ciptaan pikiran itu. Bukan berelasi antar diri kita secara nyata.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih kecil atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih besar, maka kita minder.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih besar atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih kecil, maka kita merasa lebih tinggi.

Jadi minder atau enggak minder itu cuma berdasar gambaran diri ciptaan pikiran, berdasar identitas yang dibangun pikiran. Bukan berdasar hakikat diri.

Gambaran diri itu dipengaruhi masa lalu, status, jabatan, gelar, dan sebagainya.

Semakin kita nempel di gambaran diri itu, semakin gampang kita minder. Karena gambaran diri itu rentan kita bandingkan.

Solusinya yang lebih mendalam bukan jadi “lebih besar”, bukan besarin gambaran diri ciptaan pikiran, tapi justru menyadari dimensi diri, hakikat diri yang lebih dalam daripada gambaran diri, yaitu the deep I, dimensi being.

Ada dimensi diri, yaitu being, yang lebih dalam daripada sekadar gambaran diri ciptaan pikiran.

Nggak sebatas “siapa aku menurut pikiran dengan berbagai labelnya”, tapi “siapa hakikat diriku tanpa semua label.”

Dengan begitu, minder akan surut. Gimana kita ketemu orang berubah. Mau ketemu “orang besar” atau “orang kecil”, jadi minim dorongan buat merasa lebih kecil atau lebih besar. Semua sama aja.

Karena kita enggak lagi melihat orang lain berdasar perbandingan. Hubungan jadi lebih simpel, ya jadi sekadar antar manusia sama manusia.

Adjie Santosoputro
Adjie Santosoputro
30 April 2026
•
Edisi Renungan Hening

Kata “minder” itu kata serapan dari bahasa Belanda:

Minderwaardigheidcomplex

(Kalau kamu bisa bahasa Belanda, itu bacanya gimana ya?)

Artinya kurang percaya diri, rendah diri, atau merasa tidak mampu dibandingkan orang lain.

Dulu waktu SD, saya minder karena saya mesti pakai kacamata. Sedangkan temen temen deket saya enggak ada yang pake kacamata.

Waktu kuliah di Yogya, saya minder karena saya medok. Karena temen-temen saya kuliah dari Jakarta fasih ngomong: loe-gue.

Awal saya memandu podcast, saya minder karena mesti ngobrol sama orang-orang terkenal yang dulu cuma bisa saya liat di tv.

Dan masih banyak lagi momen yang bikin saya minder.

Temen saya cerita, dia juga minder. Rasa mindernya itu berawal dari dulu dia pernah mengalami kejadian berat, yaitu dia merasa ditinggalkan sama orang tuanya. Lalu kejadian itu nempel di batinnya dalam bentuk perasaan: “Aku ditinggalkan.” Lama-lama itu jadi penyebab utama dari rasa mindernya.

Saya jadi sadar, rasa minder bisa bersumber dari pengalaman masa lalu.

Selain itu saya merasa misal pas saya ketemu orang yang saya anggap “lebih”, lebih keren, lebih sukses, lebih terkenal. Tiba-tiba saya langsung ciut, ngerasa kecil, seperti remahan rengginang.

Tapi kalo ketemu orang yang saya anggap setara sama saya, saya ya nyantai, biasa aja.

Di situ keliatan: Pikiran saya menciptakan gambaran mengenai diri saya dan menciptakan gambaran mengenai orang lain yang saya temui.

Ada gambaran ciptaan pikiran tentang diri saya sendiri dan ada gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain. Lalu dua gambaran itu dibandingin.

Kita berelasi sebatas antar gambaran ciptaan pikiran itu. Bukan berelasi antar diri kita secara nyata.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih kecil atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih besar, maka kita minder.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih besar atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih kecil, maka kita merasa lebih tinggi.

Jadi minder atau enggak minder itu cuma berdasar gambaran diri ciptaan pikiran, berdasar identitas yang dibangun pikiran. Bukan berdasar hakikat diri.

Gambaran diri itu dipengaruhi masa lalu, status, jabatan, gelar, dan sebagainya.

Semakin kita nempel di gambaran diri itu, semakin gampang kita minder. Karena gambaran diri itu rentan kita bandingkan.

Solusinya yang lebih mendalam bukan jadi “lebih besar”, bukan besarin gambaran diri ciptaan pikiran, tapi justru menyadari dimensi diri, hakikat diri yang lebih dalam daripada gambaran diri, yaitu the deep I, dimensi being.

Ada dimensi diri, yaitu being, yang lebih dalam daripada sekadar gambaran diri ciptaan pikiran.

Nggak sebatas “siapa aku menurut pikiran dengan berbagai labelnya”, tapi “siapa hakikat diriku tanpa semua label.”

Dengan begitu, minder akan surut. Gimana kita ketemu orang berubah. Mau ketemu “orang besar” atau “orang kecil”, jadi minim dorongan buat merasa lebih kecil atau lebih besar. Semua sama aja.

Karena kita enggak lagi melihat orang lain berdasar perbandingan. Hubungan jadi lebih simpel, ya jadi sekadar antar manusia sama manusia.

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
Bagikan Renungan: