Relationship
•
2 menit baca

Ditinggal Menikah

Ada yang nanya saya: “Hal yang menyakitkan bagi saya adalah sahabat saya mau menikah tahun ini. Dan dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”.

Saya terganggu dengan minta maaf itu karena saya tidak merasa ditinggal, saya tidak mau merasa dikasihani.

Ada perasaan marah dan kurang nyaman yang ingin saya luapkan. Bagaimana menyikapi ini dengan sadar?”

Saya mau bilang dulu:

“Menikah bukan berarti menang, dan belum/tidak menikah bukan berarti kalah. Hidup bukan kompetisi. Tiap kita punya jatah rute cerita hidup yang unik. Enggak bisa dibandingkan.

Kalau nilai diri ditentukan dari status, maka hidup akan selalu jadi ajang membandingkan. Tapi kalau nilai diri tidak bergantung pada status, maka menikah atau belum/tidak menikah, dua-duanya cuma momen dalam hidup, bukan ukuran siapa lebih menang.”

Lalu kenapa orang melihat hidup sebagai kompetisi?

Itu nggak muncul tiba-tiba sih. Ada beberapa kemungkinan yang bikin orang begitu:

  • Program sosial. Dari kecil, banyak yang “diprogram” bahwa hidup ini berlevel: sekolah, lalu kerja, lalu menikah, lalu punya anak, dst.
  • Kebutuhan validasi. Menikah sering jadi simbol “laku”, “dipilih”, “berhasil secara relasi”. Buat sebagian orang, ini jadi cara membuktikan harga diri. Bukan cuma ke orang lain, tapi juga ke dirinya sendiri.
  • Cara pikir yang kompetitif. Karena terbiasa membandingkan: karier, penghasilan, pencapaian, termasuk relasi.

Kembali ke… Gimana menyikapi perasaan terganggu, marah, kurang nyaman karena ucapan minta maaf itu dengan sadar?

Bisa dengan sadari dulu reaksi batin yang muncul: “Oh, ini rasa tersinggung.” Nggak perlu langsung diluapkan atau ditolak.

Lalu pisahkan fakta vs drama ciptaan pikiran: faktanya sahabat mau menikah, dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”. Titik. Tapi biasanya pikiran menciptakan drama tambahan.

Lihat kemungkinan lain juga: bisa jadi dia cuma canggung atau berusaha menjaga perasaan, bukan merendahkan kamu.

Dengan begitu, kamu bisa merespon dari kesadaran, bukan reaksi emosional. Kalau mau kamu sampaikan ke dia, kamu bisa ngomong, “Aku nggak merasa ditinggal kok, jadi nggak perlu khawatir ya.”

Jadi ringkasnya, jaga agar kamu enggak larut tenggelam dalam drama tambahan ciptaan pikiran. Sehingga responmu jadi lebih bijak dan tetap menjaga persahabatan.

Adjie Santosoputro
Adjie Santosoputro
1 Mei 2026
•
Edisi Renungan Hening

Ada yang nanya saya: “Hal yang menyakitkan bagi saya adalah sahabat saya mau menikah tahun ini. Dan dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”.

Saya terganggu dengan minta maaf itu karena saya tidak merasa ditinggal, saya tidak mau merasa dikasihani.

Ada perasaan marah dan kurang nyaman yang ingin saya luapkan. Bagaimana menyikapi ini dengan sadar?”

Saya mau bilang dulu:

“Menikah bukan berarti menang, dan belum/tidak menikah bukan berarti kalah. Hidup bukan kompetisi. Tiap kita punya jatah rute cerita hidup yang unik. Enggak bisa dibandingkan.

Kalau nilai diri ditentukan dari status, maka hidup akan selalu jadi ajang membandingkan. Tapi kalau nilai diri tidak bergantung pada status, maka menikah atau belum/tidak menikah, dua-duanya cuma momen dalam hidup, bukan ukuran siapa lebih menang.”

Lalu kenapa orang melihat hidup sebagai kompetisi?

Itu nggak muncul tiba-tiba sih. Ada beberapa kemungkinan yang bikin orang begitu:

  • Program sosial. Dari kecil, banyak yang “diprogram” bahwa hidup ini berlevel: sekolah, lalu kerja, lalu menikah, lalu punya anak, dst.
  • Kebutuhan validasi. Menikah sering jadi simbol “laku”, “dipilih”, “berhasil secara relasi”. Buat sebagian orang, ini jadi cara membuktikan harga diri. Bukan cuma ke orang lain, tapi juga ke dirinya sendiri.
  • Cara pikir yang kompetitif. Karena terbiasa membandingkan: karier, penghasilan, pencapaian, termasuk relasi.

Kembali ke… Gimana menyikapi perasaan terganggu, marah, kurang nyaman karena ucapan minta maaf itu dengan sadar?

Bisa dengan sadari dulu reaksi batin yang muncul: “Oh, ini rasa tersinggung.” Nggak perlu langsung diluapkan atau ditolak.

Lalu pisahkan fakta vs drama ciptaan pikiran: faktanya sahabat mau menikah, dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”. Titik. Tapi biasanya pikiran menciptakan drama tambahan.

Lihat kemungkinan lain juga: bisa jadi dia cuma canggung atau berusaha menjaga perasaan, bukan merendahkan kamu.

Dengan begitu, kamu bisa merespon dari kesadaran, bukan reaksi emosional. Kalau mau kamu sampaikan ke dia, kamu bisa ngomong, “Aku nggak merasa ditinggal kok, jadi nggak perlu khawatir ya.”

Jadi ringkasnya, jaga agar kamu enggak larut tenggelam dalam drama tambahan ciptaan pikiran. Sehingga responmu jadi lebih bijak dan tetap menjaga persahabatan.

Jeda Sadar Sejenak

Tiga Hembusan Napas Pulang

Sebelum melanjutkan baris berikutnya, letakkan sejenak ponsel atau tatapan Anda dari layar. Ambil jeda 30 detik untuk menyapa kembali raga Anda di sini.

1
Tarik napas lembut melalui hidung, rasakan perut mengembang perlahan.
2
Tahan satu detik di puncak, kenali bahwa saat ini Anda sedang aman.
3
Hembuskan panjang lewat mulut, lepaskan ketegangan pundak dan rahang.
Bagikan Renungan: