Kalau kamu selalu mikirin orang lain, lalu kapan kamu mikirin dirimu sendiri?
Jujur pada diri sendiri itu penting. Menyadari dulu perasaan yang muncul di dalam diri itu lebih utama daripada selalu tergesa bereaksi menyenangkan orang lain.
Iya, sering kita udah tau itu, tapi cuma berhenti di tau, nggak berlanjut ke dilakukan.
Suatu sore, seorang teman menghubungi saya. Dia minta bantuan, lagi. Padahal tubuh saya lelah, pikiran penuh, dan ada bagian dalam diri yang ingin rebahan saja. Saya merasakannya jelas. Ada sedikit sesak di dada, ada kebutuhan untuk istirahat. Namun hampir bersamaan, muncul pikiran yang lebih keras: Masa sih nolak? nanti dia kecewa.
Saya tidak berhenti sejenak, jeda. Saya tidak sadar penuh hadir utuh untuk jujur pada diri sendiri. Saya langsung tergesa jawab, “Iya, nanti saya bantu.” Kata itu keluar begitu saja, seperti refleks lama yang sudah terlatih bertahun-tahun. Setelah telepon ditutup, tubuh saya justru terasa makin berat. Ada rasa kesal yang samar, tapi juga rasa bersalah karena merasa kesal. Aneh, saya membantu, tapi batin saya memberontak.
Malamnya, saya merenungkan hal itu. Kenapa ya kita sering banget nggak enakan sama orang lain?
Karena sejak lama, kita belajar, terprogram, terkondisi batin kita bahwa diterima orang lain dengan bikin orang lain seneng itu lebih penting daripada kita jujur sama diri sendiri.
Orang yang nggak enakan itu sebenarnya cuma di permukaan demi orang lain tetap melihat dirinya sebagai orang baik, cuma di permukaan tentang jadi orang yang baik.
Tapi kalo kita lihat lebih dalam, biasanya itu tentang ketakutan, takut kehilangan hubungan, takut dianggap egois, takut mengecewakan, takut ditolak.
Jadi saya enggak benar-benar membantu dari ketulusan. Saya membantu karena takut. Dan karena ketakutan itulah, saya mengorbankan kejujuran pada diri sendiri, lalu menyebutnya kebaikan.
Ketakutan itu seringkali tidak disadari. Ketakutan itu bekerja diam-diam, lalu mendorong saya untuk berkata “iya” ketika sebenarnya tubuh dan batin saya berkata “tidak”.
Akhirnya, muncul pola: “Kalau aku “iya, iya, iya aja”, nyenengin orang lain, maka aku aman.”
Masalahnya, rasa aman yang dibangun dari mengorbankan diri itu nggak pernah benar-benar aman. Di luar kelihatan baik-baik saja, tapi di dalam… ada yang ditekan. Di luar kelihatan tegar, tapi di dalam… ambyar.
Dan ditekan ini, lama-lama bikin capek. jengkel. sampe kita merasa kosong, asing sama diri sendiri.
Sebatas yang saya pelajari, orang yang berlebihan berusaha menyenangkan semua orang sebenarnya sangat teridentifikasi dengan gambaran tentang dirinya. Ada citra diri yang ingin dipertahankan: aku orang baik, aku tidak mau menyakiti siapa pun, aku harus selalu bisa diandalkan.
Selama kita melekat pada citra itu, setiap kali ada kemungkinan orang lain kecewa, batin langsung bereaksi. Rasa bersalah muncul bukan karena kita benar-benar melakukan kesalahan, tetapi karena citra diri, atau bisa disebut ego, merasa terancam.
Di titik ini, penting untuk menyadari sesuatu dengan jujur: Rasa bersalah bukan selalu tanda kita salah. Rasa bersalah itu sering kali bukan suara kebijaksanaan, melainkan suara ego yang halus. Ego ingin diakui, diterima, dan dianggap baik. Ego memakai topeng kebaikan. Kita mungkin berkata pada diri sendiri bahwa kita menolong karena peduli, tetapi jika kita jujur dan sadar sepenuhnya, bisa jadi ada ketegangan di tubuh, ada rasa terpaksa, ada kelelahan batin. Di situlah kebenaran bisa mulai terlihat.
Seringkali, rasa bersalah itu tanda: Kita mulai berhenti mengorbankan diri. Ego nggak suka itu. Ego akan bilang: “Kamu sekarang nggak kayak dulu.” “Kamu egois.” “Kamu berubah.”
Padahal yang sebenarnya berubah: Kita mulai jujur. Dan jujur memang sering nggak nyaman di awal. Tapi di dalam diri kita, jauh lebih damai.
Kita perlu sadar bahwa nilai diri kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh persetujuan orang lain.
Bahkan jika seseorang kecewa, ada ruang di dalam diri kita yang tetap utuh, tetap tenang. Ruang inilah yang sering terlupakan oleh seorang people pleaser. Kita terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain sampai kehilangan hubungan yang mendalam dengan diri sendiri.
Belajar untuk tidak selalu menyenangkan orang lain bukan berarti egois.
Justru sebaliknya. Ketika demi menyenangkan orang lain, kita selalu berkata “iya” tapi dari rasa takut dan rasa bersalah, itu bukan cinta, itu adalah strategi bertahan ego.
Dan strategi bertahan ini, dalam jangka panjang, hanya melahirkan kelelahan, dan kadang meledaknya kemarahan yang terpendam.
Banyak orang menjalani hidup dengan merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas perasaan orang lain.
Padahal sebenarnya kita tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Kita tidak bisa dan tidak perlu juga mengendalikan gimana perasaan orang lain. Tanggung jawab kita lebih ke kita jujur nggak sama diri sendiri.
Ketika menyadari ini, rasa bersalah mulai kehilangan cengkeramannya. Dan kita pun mulai menentukan batasan, set boundaries.
Perubahan ini tidak terjadi dengan melawan diri sendiri. Perubahan terjadi dengan kesadaran dan kehadiran secara lembut.
Setiap kali kita menyadari pola lama muncul, itu sudah merupakan pemulihan kecil. Tidak apa-apa jika sesekali kita masih terjebak. Kesadaran tidak menuntut kesempurnaan. Kesadaran hanya mengundang kita untuk kembali, lagi dan lagi, ke momen di sini kini, ke tempat di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun, tidak perlu menjadi siapa pun.
Pada akhirnya, ketika kita berhenti mencari nilai diri lewat persetujuan orang lain, justru relasi menjadi lebih jujur dan lebih hidup.
Kita berelasi bukan dengan topeng “orang baik”, tetapi sebagai manusia yang sadar dan seadanya.
Dari kesadaran inilah, menerima atau menolak, baik itu berkata “iya” atau “tidak”, muncul lebih alami, tanpa rasa bersalah, tanpa paksaan, dan tanpa beban.