Belajar Pulih: Konsep Tuhan

2 menit

Kamu punya konsep di pikiranmu tentang Tuhan, merasa konsep itu paling benar & kamu berkonflik, berantem, agresif sama orang karena itu?

Konsep di pikiranmu tentang Tuhan itu bukanlah Tuhan.

Kita sering terjebak mengira bahwa konsep tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri.

Akibatnya: Kita gampang berkonflik karena merasa konsep kita tentang Tuhan itu paling benar.

Kita melekat (attach) pada kata, simbol, atau doktrin daripada pada pengalaman langsung akan kedamaian, cinta, atau kesadaran.

Tanpa sadar kita menjadikan Tuhan sebagai alat untuk membesarkan ego kita, sebagai objek pikiran. Padahal Tuhan itu tidak terbatas (infinite), berada di luar jangkauan pikiran.

Kita merasa udah tau, bahkan paling tau, jadi kita nggak punya kerendahan hati untuk terus membuka diri, terus belajar di hidup ini.

Kalau kita terjebak pada konsep tentang Tuhan, kita bisa kehilangan keterhubungan dengan realitas hidup saat ini, di sini-kini yang sedang kita alami.

Momen di sini-kini adalah tempat “yang tidak terbatas” (God’s infinite being) selalu ada. Cuma kitanya aja yang terlalu sibuk untuk menyadari-Nya.

Saat kita memberi nama pada sesuatu yang tak terbatas (infinite), yaitu kita menyebutnya “Tuhan”, lalu kita membentuk konsep di pikiran mengenai itu, sebenarnya itu hanyalah cara pikiran manusia yang terbatas (finite) mencoba memahami sesuatu yang jauh melampaui dirinya (infinite).

Jadi itu hanyalah “yang terbatas (finite)” berusaha memahami “yang tidak terbatas (infinite)”.

Tuhan atau realitas sejati itu bersifat tidak terbatas (infinite).

Masalahnya, setiap nama, konsep, atau pun definisi itu pasti membatasi.

Karena itu, apa pun nama, konsep, definisi yang diberikan pikiran tidak akan pernah benar-benar menggambarkan Tuhan yang tidak terbatas.

Seringkali kita beranggapan kita, “aku” sebagai pihak yang terpisah dengan Tuhan. Ada “aku” dan ada Tuhan. “Aku” berusaha berelasi dan memahami Tuhan.

Padahal, pada level terdalam, sebenarnya yang ada hanyalah “yang tidak terbatas”, God’s infinite being, Tuhan, realitas sejati, kesadaran, being.

Diri kita, pikiran kita, yang terbatas (finite) selalu enggak bisa akurat dalam memberi nama, membentuk konsep mengenai “yang tidak terbatas, God’s infinite being”.

Jadi, daripada sibuk di ranah pikiran, dengan memberi nama dan terjebak dalam konsep mengenai Tuhan, lalu merasa paling benar, berkonflik, berantem, agresif… lebih penting di ranah rasa, dengan mengalami dan menyadari “yang tidak terbatas” itu secara langsung.

Analoginya kayak peta dan wilayah sebenarnya.

Kalo peta kita anggap sama persis dengan wilayah sebenarnya, maka kita berhenti menjelajah dan kita mempertahankan asumsi bahwa peta kita sepenuhnya paling benar.

Peta bukanlah wilayah sebenarnya.

Kata “Tuhan” bukanlah Tuhan itu sendiri. Nama hanyalah peta, hanyalah petunjuk, sedangkan kenyataannya jauh lebih luas daripada apa yang bisa dipikirkan atau diucapkan.

2 menit

Tinggalkan Balasan