“Apa sebenarnya akar penyebab konflik?
Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik.
Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal.
Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus terjadi, berulang.
Mengurangi konflik di level kelompok, negara, di level kolektif, itu juga perlu dengan mengurangi konflik di level individu. Perdamaian dunia juga diupayakan melalui perdamaian batin dalam diri kita.
Jadi kalo kita ingin mengurangi konflik di level kolektif, maka setiap kita juga perlu mengurangi konflik-konflik sehari-hari di level individu.
Sadar atau enggak, kalo kita suka dengan konflik, kita jadi pihak yang terus berkonflik atau pun kita suka ngikutin konflik orang lain, suka dengan keributan di social media, suka sama agresivitas, maka itu mencerminkan kondisi batin kita yang konflik, ribut, agresif juga.
Kita suka, tertarik sesuatu yang sama dengan kondisi batin kita.
“Lalu apa tanda ego, keakuan kita begitu besar, kita menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered?”
Tandanya kita selalu merasa benar, orang lain selalu salah. Ego, “aku” selalu pingin jadi yang lebih hebat, menang dan benar. Itu caranya supaya ada & membesar. Karena itu, terus mencari kesalahan orang lain biar merasa dirinya lebih benar, lebih baik.
Ego, “aku” juga bikin kita terus hidup di dalam “cerita tentang diriku sendiri”.
“Aku, diriku, milikku, punyaku.”
“I, me, myself, mine.”
Pikiran terus mengulang: “Ini yang dia lakukan kepadaku,” “Harusnya dia enggak ngomong gitu ke aku,” “Aku attract keinginanku,” dan sebagainya. Kalo kita enggak sadar, kita mengira semua pikiran itu adalah diri kita. Padahal itu hanya pikiran yang muncul berdasarkan pengalaman masa lalu.
Yang kita anggap sebagai diri kita, sebagai “aku”, sebenarnya hanya pikiran yang dibentuk oleh masa lalu.
“Aku” adalah kumpulan pola pikir, emosi, kebiasaan, dan pengalaman yang terprogram, terkondisikan masa lalu. Kalo kita sepenuhnya attach pada semua itu, kita seperti hidup di dalam “penjara” ciptaan pikiran sendiri. Kita terpenjara pikiran kita sendiri.
Oya hati-hati juga sama ego spiritual.
Kalo kita mulai bertumbuh di jalan kesadaran, secara spiritual, ego “aku” sering muncul kembali dengan lebih halus. Misalnya, “Aku lebih sadar daripada orang lain,” atau “Aku lebih spiritual,” atau “Aku bisa attract uang, attract keinginanku,” dan sebagainya.
Itu tetap ego, hanya pake topeng baru.
Kalo kita attach dan percaya pada label identitas ego “aku, aku, aku”, pada klaim-klaim yang spiritual itu, maka kita justru akan terjebak lagi dalam permainan ego “aku”.
Kesadaran sejati, hakikat diri, enggak bergantung pada label, identitas, klaim, serta citra diri atau gelar apapun itu.