Aku Mencintaimu Tidak Sebatas Rahimmu
Ini cerita istri saya operasi mioma.
“Ini miom, Bu, dan ukurannya udah lebih besar dari rahim,” kata dokter spesialis kandungan pertama yang kami temui.
Beberapa waktu sebelumnya, istri saya, Indri, perut bawahnya terasa kenceng. Enggak sakit. Waktu menstruasi juga enggak sakit. Mensnya pun sesuai sama jadwalnya dan enggak banyak banget.
Jadi kami periksa ke dokter. Setelah denger kata dokter itu, kami masih berusaha mencernanya, merasa gamang.
Kami lalu teringat, sebelum pandemi, kami program hamil. Dokter waktu itu sempet bilang, ada miom. Masih kecil, jadi nggak pa-pa. Nanti dikeluarin sekalian pas lahiran aja. Lalu pandemi. Berjalannya waktu belum hamil, belum lahiran. Dan miom itu luput dari perhatian kami.
Kami perlu second opinion. Besoknya, pada suatu Kamis pagi, kami ke dokter spesial kandungan yang kedua. Gaya ngomongnya lebih lugas, straightforward, “Ukuran miom segini, ditambah usia juga udah segini, jadi operasinya sekalian angkat rahim aja, histerektomi.”
Seketika kami mendengarnya, kayak dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi. Tapi belum sampai di dasarnya.
Barulah sampe rumah, di meja makan, selesai makan siang, kami “sampai di dasarnya setelah dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi.”
Kami pelukan nangis senangis-nangisnya berdua 😭
Enggak tau kenapa, sorenya kami tergerak buat nyari third opinion. Akhirnya malamnya kami tekadkan dari Bekasi ke Bintaro buat periksa ke dokter spesialis kandungan ketiga.
Dokter kali ini bilang, “Operasi dulu, dibuka dulu, baru tau bisa miomnya aja yang diambil atau sekalian angkat rahim. Saya akan sangat berusaha bisa miomnya aja yang diambil.”
Kami merasa mendapat harapan, masih ada kemungkinan. Kami milih dokter ketiga ini yang mengoperasi.
Fase selanjutnya adalah jadwal operasi. Nunggu Indri mens, karena berdekatan sama jadwal mens. Selesai mens, beberapa hari setelahnya, baru operasi.
Kami sambil mulai hubungi keluarga dan temen-temen dekat.
Hari-hari di masa itu, sungguh ngaruh ke psikis kami. Kami sulit tidur. Kalau pun bisa tidur, enggak nyenyak. Menjalani hari dengan pikiran “gimana ya nanti?” “nanti jangan-jangan begini begitu.”
Bertambah berat karena di hari-hari itu, kami tetap memenuhi jadwal sesi, dan sebagainya, yang kami udah berkomitmen untuk penuhi.
Beberapa kali kami obrolin, terutama sore sehari sebelum operasi, saya nanya: “Seandainya di tengah operasi, karena kamu masih dibius, kondisinya mesti angkat rahim, maka dokternya akan nanya aku, aku mesti gimana?”
Saya sadar, saya tidak punya hak sama sekali memutuskan sendiri. Saya mesti minta izin Indri dulu. Badan Indri sepenuhnya milik Indri. Dia bilang, “Ya mau gimana lagi. Ya nggak pa-pa.” Kami melihat kedua kemungkinan itu sama-sama terbaik buat kesehatan Indri.
Tentu ada beberapa hal yang bikin dia khawatir seandainya angkat rahim. Tapi setidaknya saya berusaha hal yang berhubungan sama cinta saya ke dia enggak perlu dia khawatirkan.
Awal saya mencintai Indri, seperti orang pada umumnya mencintai seseorang, mencintai di dimensi diri konseptual, yaitu wajahnya, badannya, sifatnya, karakternya, kepribadiannya, masa lalunya, dan segala yang tampak dan ranahnya dangkal.
Namun di momen ini terlintas yang pernah saya pelajari selama ini:
“Hakikat diri kita, diri kita di level terdalam itu cinta. Aku mencintaimu itu sebenarnya berarti aku menyadari hakikat dirimu, dirimu di level terdalam. Bukan sebatas dirimu di dimensi konseptual. Dan hakikat dirimu itu sama dengan hakikat diriku. Jadi kalo aku menyakitimu sama saja aku menyakiti diriku sendiri.”
Perlahan saya peluk Indri, dan saya pun bilang: “Gimana pun nanti, aku mencintaimu tidak sebatas rahimmu.”
Keesokan harinya, pada suatu Selasa pagi, kurang lebih 05.00 WIB, operasi itu tiba.
Menunggu operasi. Seumur hidup saya, ini waktu terasa paling lama daripada biasanya. Waktu bergerak sangat lambat.
Setelah 1 jam 45 menit, saya dipanggil suster buat ketemu dokter. Ditemani kakak saya, saya melangkah dan bersiap untuk menerima apapun hasilnya. Bersyukur banget, ternyata bisa miomnya aja yang diambil dan semuanya sehat ❤️
Sekarang tinggal fase pemulihan. Kami sangat berterima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga, teman-teman yang mendoakan, bahkan meluangkan waktu buat nunggu operasi dan jenguk, kepada dokter dan para suster. Terima kasih, terima kasih, terima kasih ❤️ Buat kita semua, jaga kesehatan ya.