Arsip Tulisan

Relationship

Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
21 Juli

“Apa sebenarnya akar penyebab konflik? Ini 1 akar penyebab konflik. Kalo kamu memahaminya, bisa membantumu mengurangi konflik. Berbagai konflik itu selain karena hal di luar diri manusia, faktor eksternal, akar penyebabnya juga kondisi batin di dalam diri manusia, faktor internal. Selama ego, keakuan begitu besar, menempatkan “aku” sebagai pusat, self centered, maka konflik akan terus […]

3 menit baca
Hanif Muflih
dalam
Relationship
•
15 Juli

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri. Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya. Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua […]

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
22 Mei

“Kamu udah sering membantu. Tapi ketika kamu butuh bantuan, enggak ada yang mau membantumu?”

Kita kadang meminta mendapatkan yang sama dengan yang kita berikan.

Kita meminta mendapatkan bantuan karena kita udah sering memberikan bantuan.

Mungkin, rasa sakit karena tidak dibantu, sebenarnya lebih disebabkan oleh ekspektasi kita: “Aku kan sudah sering memberi, jadi seharusnya ada yang memberi ke aku.”

Itu manusiawi.

Tapi kita perlu berhenti sejenak dan mulai menyadari kenyataan diri yang barangkali selama ini takut kita akui:

Kadang kita membantu bukan murni karena welas asih, cinta atau kepedulian, tapi diam-diam ada keinginan untuk merasa dianggap, diterima, diri ini penting, atau berharap suatu hari yang kita berikan itu kembali ke kita.

Masalahnya, hidup ini kan tidak selalu bekerja ibarat transaksi. Ngasih 50 maka tidak selalu akan dapat 50.

Kita mungkin pernah ngasih bantuan ke seseorang, tapi belum tentu dia punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu kita saat kita membutuhkan.

Dan ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi kita, muncullah rasa sakit. Aku sendirian. Aku tidak dianggap. Setelah semua yang kulakukan, ternyata aku hanya mendapatkan ini.

Ketika begitu bisa dicoba, kita lihat 2 hal ini:

Pertama, iya, rasa sakit itu valid.

Kita tidak perlu pura-pura kuat. Tidak perlu juga langsung lari ke jawaban-jawaban spiritual yang seolah menenangkan hati. Memang sedih ketika kita merasa tidak ada yang membantu.

Tapi kedua, jangan bangun identitas sebagai “korban yang sudah paling memberi”.

Karena ego juga licin sekali menunggangi kebaikan untuk identitas: Aku yang paling baik. Aku yang paling banyak berkorban. Akibatnya hidup kita terasa pahit karena kita terus sibuk menghitung.

Nah, sebuah catatan penting.

Pelan-pelan belajar membantu karena itu memang nilai hidupmu, bukan sebagai investasi yang kelak akan kamu dapatkan kembali.

Dan lebih dalam lagi:

Sebaik-baiknya perbuatan baik adalah perbuatan baik yang kamu lakukan tanpa kamu merasa telah berbuat baik.

Di saat yang sama, belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu seperti yang kita harapkan.

Dan sangat mungkin ternyata kamu merasa enggak ada yang membantumu ini supaya kamu mengawasi egomu sendiri yang membesarkan dirinya dengan menunggangi kebaikan.

Coba, berbuat baik, tanpa merasa telah berbuat baik.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
17 Mei

Aku Mencintaimu Tidak Sebatas Rahimmu

Ini cerita istri saya operasi mioma.

“Ini miom, Bu, dan ukurannya udah lebih besar dari rahim,” kata dokter spesialis kandungan pertama yang kami temui.

Beberapa waktu sebelumnya, istri saya, Indri, perut bawahnya terasa kenceng. Enggak sakit. Waktu menstruasi juga enggak sakit. Mensnya pun sesuai sama jadwalnya dan enggak banyak banget.

Jadi kami periksa ke dokter. Setelah denger kata dokter itu, kami masih berusaha mencernanya, merasa gamang.

Kami lalu teringat, sebelum pandemi, kami program hamil. Dokter waktu itu sempet bilang, ada miom. Masih kecil, jadi nggak pa-pa. Nanti dikeluarin sekalian pas lahiran aja. Lalu pandemi. Berjalannya waktu belum hamil, belum lahiran. Dan miom itu luput dari perhatian kami.

Kami perlu second opinion. Besoknya, pada suatu Kamis pagi, kami ke dokter spesial kandungan yang kedua. Gaya ngomongnya lebih lugas, straightforward, “Ukuran miom segini, ditambah usia juga udah segini, jadi operasinya sekalian angkat rahim aja, histerektomi.”

Seketika kami mendengarnya, kayak dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi. Tapi belum sampai di dasarnya.

Barulah sampe rumah, di meja makan, selesai makan siang, kami “sampai di dasarnya setelah dijatuhin dari tempat yang sangat tinggi.”

Kami pelukan nangis senangis-nangisnya berdua 😭

Enggak tau kenapa, sorenya kami tergerak buat nyari third opinion. Akhirnya malamnya kami tekadkan dari Bekasi ke Bintaro buat periksa ke dokter spesialis kandungan ketiga.

Dokter kali ini bilang, “Operasi dulu, dibuka dulu, baru tau bisa miomnya aja yang diambil atau sekalian angkat rahim. Saya akan sangat berusaha bisa miomnya aja yang diambil.”

Kami merasa mendapat harapan, masih ada kemungkinan. Kami milih dokter ketiga ini yang mengoperasi.

Fase selanjutnya adalah jadwal operasi. Nunggu Indri mens, karena berdekatan sama jadwal mens. Selesai mens, beberapa hari setelahnya, baru operasi.

Kami sambil mulai hubungi keluarga dan temen-temen dekat.

Hari-hari di masa itu, sungguh ngaruh ke psikis kami. Kami sulit tidur. Kalau pun bisa tidur, enggak nyenyak. Menjalani hari dengan pikiran “gimana ya nanti?” “nanti jangan-jangan begini begitu.”

Bertambah berat karena di hari-hari itu, kami tetap memenuhi jadwal sesi, dan sebagainya, yang kami udah berkomitmen untuk penuhi.

Beberapa kali kami obrolin, terutama sore sehari sebelum operasi, saya nanya: “Seandainya di tengah operasi, karena kamu masih dibius, kondisinya mesti angkat rahim, maka dokternya akan nanya aku, aku mesti gimana?”

Saya sadar, saya tidak punya hak sama sekali memutuskan sendiri. Saya mesti minta izin Indri dulu. Badan Indri sepenuhnya milik Indri. Dia bilang, “Ya mau gimana lagi. Ya nggak pa-pa.” Kami melihat kedua kemungkinan itu sama-sama terbaik buat kesehatan Indri.

Tentu ada beberapa hal yang bikin dia khawatir seandainya angkat rahim. Tapi setidaknya saya berusaha hal yang berhubungan sama cinta saya ke dia enggak perlu dia khawatirkan.

Awal saya mencintai Indri, seperti orang pada umumnya mencintai seseorang, mencintai di dimensi diri konseptual, yaitu wajahnya, badannya, sifatnya, karakternya, kepribadiannya, masa lalunya, dan segala yang tampak dan ranahnya dangkal.

Namun di momen ini terlintas yang pernah saya pelajari selama ini:

“Hakikat diri kita, diri kita di level terdalam itu cinta. Aku mencintaimu itu sebenarnya berarti aku menyadari hakikat dirimu, dirimu di level terdalam. Bukan sebatas dirimu di dimensi konseptual. Dan hakikat dirimu itu sama dengan hakikat diriku. Jadi kalo aku menyakitimu sama saja aku menyakiti diriku sendiri.”

Perlahan saya peluk Indri, dan saya pun bilang: “Gimana pun nanti, aku mencintaimu tidak sebatas rahimmu.”

Keesokan harinya, pada suatu Selasa pagi, kurang lebih 05.00 WIB, operasi itu tiba.

Menunggu operasi. Seumur hidup saya, ini waktu terasa paling lama daripada biasanya. Waktu bergerak sangat lambat.

Setelah 1 jam 45 menit, saya dipanggil suster buat ketemu dokter. Ditemani kakak saya, saya melangkah dan bersiap untuk menerima apapun hasilnya. Bersyukur banget, ternyata bisa miomnya aja yang diambil dan semuanya sehat ❤️

Sekarang tinggal fase pemulihan. Kami sangat berterima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga, teman-teman yang mendoakan, bahkan meluangkan waktu buat nunggu operasi dan jenguk, kepada dokter dan para suster. Terima kasih, terima kasih, terima kasih ❤️ Buat kita semua, jaga kesehatan ya.

4 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
15 Mei

Gimana kamu menyikapi orang yang egonya besar?

Mungkin batinmu terluka karena orang yang egonya besar. Atau kondisi batinmu masih terluka, belum pulih dan mesti berinteraksi sama orang yang egonya besar.

Gimana ilmu kesadaran menyikapi hal itu? Ini yang sebaiknya kamu lakukan.

Setiap orang punya dimensi hakikat dan dimensi ego (diri konseptual).

Ketika kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, maka kita kayak ditarik membesar juga ego kita. Ego seringkali nyari temen bermain ego yang lain.

Kalo ego kita ketarik membesar, jadi temen bermain ego dia, maka kita langsung reaktif melawan, agresif.

Kita reaktif melawan, agresif itulah yang ego dia inginkan. Kita masih jadi bagian dari arena permainan yang diciptakan ego dia.

Selama kita masih reaktif melawan, agresif, itu berarti kita lebih berada di dimensi ego. Ego kita berarti ikutan membesar. Membesarnya “aku” yang melawan dia.

Lalu sebaiknya gimana?

Nggak reaktif melawan, nggak agresif.

Tapi bukan berarti juga pasif pasrah lho ya. Bukan. Lebih ke kita bener-bener nggak ngikutin permainan ego dia yang narik ego kita buat ikutan membesar. Kita lebih terhubung di dimensi hakikat diri. Sehingga ego dia kehilangan temen bermain.

Dia kayak “menggonggong ke angin”. Enggak ada ego kita, enggak ada “aku” di sana yang dia gonggongin.

Dinamika energi dalam interaksinya jadi berubah.

Bisa terjadi sebelumnya interaksinya keras jadi melunak. Sebelumnya defensif jadi melonggar. Bahkan mungkin akhirnya dia sendiri yang sadar lalu minta maaf.

Itu berarti kita “menang”? Enggak sih. Lebih karena kita nggak ngikutin permainan ego dia. Ego dia nggak punya temen bermain, nggak punya lawan.

Ketenangan batin enggak hanya ada saat kita berinteraksi sama orang yang nyenengin.

Saat kita berinteraksi sama orang yang egonya besar, ketenangan batin pun sebenarnya senantiasa ada di dalam diri kita.

Kayak langit senantiasa ada apapun bentuk dan warna awannya. Bahkan ketika ketutupan awan hitam, langit senantiasa ada di balik awan.

Kita akan terhubung sama ketenangan batin itu kalo kita nggak reaktif melawan, nggak agresif, nggak ngikutin permainan ego dia.

Dan kita bisa tau, bisa merasakan kalo orang egonya besar, tanpa menghakimi dia.

Tapi ini tricky-nya, kalo kita reaktif melawan, agresif, pingin mengubah dia, pingin benerin dia, itu biasanya berasal dari ego kita.

Akibatnya, ego ketemu ego. Ego dia malah seneng karena punya temen bermain.

Stop feeding his/her ego.

Oya di balik ego dia yang besar, di balik ucapan dan perbuatan dia, sebenarnya ada dimensi diri dia yang lebih dalam, yang sama dengan dimensi terdalam diri kita, yaitu hakikat diri, yaitu kesadaran, true nature.

Kalo kita berinteraksi berlandaskan kesadaran tentang dimensi diri dia yang lebih dalam ini, nggak sebatas dimensi ego dia, maka interaksinya jadi beda.

Kata-kata yang kita ucapkan mungkin sama, tapi rasanya, energinya beda.

Dan kadang mungkin bisa terjadi, itu cukup bisa bikin dia pelan-pelan sadar, bikin dia “bangun” dari dimensi egonya ke dimensi hakikat diri.

Kalo pun itu enggak terjadi, nggak masalah. Terpenting ego kita nggak ikut membesar. Kita nggak ngikutin permainan ego dia.

3 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
1 Mei

Ada yang nanya saya: “Hal yang menyakitkan bagi saya adalah sahabat saya mau menikah tahun ini. Dan dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”.

Saya terganggu dengan minta maaf itu karena saya tidak merasa ditinggal, saya tidak mau merasa dikasihani.

Ada perasaan marah dan kurang nyaman yang ingin saya luapkan. Bagaimana menyikapi ini dengan sadar?”

Saya mau bilang dulu:

“Menikah bukan berarti menang, dan belum/tidak menikah bukan berarti kalah. Hidup bukan kompetisi. Tiap kita punya jatah rute cerita hidup yang unik. Enggak bisa dibandingkan.

Kalau nilai diri ditentukan dari status, maka hidup akan selalu jadi ajang membandingkan. Tapi kalau nilai diri tidak bergantung pada status, maka menikah atau belum/tidak menikah, dua-duanya cuma momen dalam hidup, bukan ukuran siapa lebih menang.”

Lalu kenapa orang melihat hidup sebagai kompetisi?

Itu nggak muncul tiba-tiba sih. Ada beberapa kemungkinan yang bikin orang begitu:

  • Program sosial. Dari kecil, banyak yang “diprogram” bahwa hidup ini berlevel: sekolah, lalu kerja, lalu menikah, lalu punya anak, dst.
  • Kebutuhan validasi. Menikah sering jadi simbol “laku”, “dipilih”, “berhasil secara relasi”. Buat sebagian orang, ini jadi cara membuktikan harga diri. Bukan cuma ke orang lain, tapi juga ke dirinya sendiri.
  • Cara pikir yang kompetitif. Karena terbiasa membandingkan: karier, penghasilan, pencapaian, termasuk relasi.

Kembali ke… Gimana menyikapi perasaan terganggu, marah, kurang nyaman karena ucapan minta maaf itu dengan sadar?

Bisa dengan sadari dulu reaksi batin yang muncul: “Oh, ini rasa tersinggung.” Nggak perlu langsung diluapkan atau ditolak.

Lalu pisahkan fakta vs drama ciptaan pikiran: faktanya sahabat mau menikah, dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”. Titik. Tapi biasanya pikiran menciptakan drama tambahan.

Lihat kemungkinan lain juga: bisa jadi dia cuma canggung atau berusaha menjaga perasaan, bukan merendahkan kamu.

Dengan begitu, kamu bisa merespon dari kesadaran, bukan reaksi emosional. Kalau mau kamu sampaikan ke dia, kamu bisa ngomong, “Aku nggak merasa ditinggal kok, jadi nggak perlu khawatir ya.”

Jadi ringkasnya, jaga agar kamu enggak larut tenggelam dalam drama tambahan ciptaan pikiran. Sehingga responmu jadi lebih bijak dan tetap menjaga persahabatan.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
27 Februari

Putusnya sebuah hubungan seringkali tidak datang layaknya ledakan yang keras. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada teriakan. Melainkan kesepian yang aneh hingga menjelma jadi perasaan kosong. Seperti rumah yang masih berdiri, tapi penghuninya sudah lama pergi. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi ada yang terasa hilang. Bukan cuma seseorang, tapi diri sendiri juga terasa […]

6 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
26 Februari

Kalau kamu selalu mikirin orang lain, lalu kapan kamu mikirin dirimu sendiri? Jujur pada diri sendiri itu penting. Menyadari dulu perasaan yang muncul di dalam diri itu lebih utama daripada selalu tergesa bereaksi menyenangkan orang lain. Iya, sering kita udah tau itu, tapi cuma berhenti di tau, nggak berlanjut ke dilakukan. Suatu sore, seorang teman […]

5 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
7 Oktober

Banyak orang tumbuh dengan “kursi kosong” dalam hidupnya. Rasa kehilangan, kesepian, atau tidak hadirnya sosok yang seharusnya hadir semasa kecil. Ruang kosong itu sering muncul lagi di hubungan, pekerjaan, bahkan mempengaruhi kesehatan fisik. Kita perlu menemui kosong dan perlahan belajar menerima kosong sebagai kosong. Sejak kecil, saya terbiasa melihat satu kursi kosong di ruang makan. […]

3 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
5 Oktober

Trauma berakibat membentuk narasi diri yang terluka: “Aku enggak layak dicintai,” “Aku enggak penting,” dan sebagainya. Dan kita tanpa sadar memakai narasi diri itu untuk menjalani hidup ini. Pada suatu malam, saya duduk sendirian di kamar, memandang kosong ke langit-langit. Tiba-tiba muncul pikiran di kepala yang berawal samar lalu perlahan menguat, “Kamu enggak layak dicintai.” […]

3 menit baca
Adjie Santosoputro duduk hening

Adjie Santosoputro

Praktisi Hening & Penulis

Menemani perjalanan batin kembali ke rumah diri. Berbagi renungan tentang kejernihan pikiran, melepaskan keterikatan rasa, dan menghargai ritme hening kehidupan sehari-hari.

Ritme Hening Pekan Ini
18k Pencari Batin

Rata-rata 4.8 menit dihabiskan untuk membaca satu renungan secara utuh tanpa terburu-buru.

Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
Min

Surat Sadar Mingguan

Sapaan hangat di akhir pekan. Satu refleksi esensial yang ditulis langsung oleh Mas Adjie untuk menemani ruang bernapas Anda.

Tersimpan untuk Nanti
0
Belum ada tulisan yang disimpan. Ketuk ikon penanda untuk membaca di waktu hening.