Ini 1 penyebab utama selalu merasa kurang, selalu rakus kayak koruptor, bahkan dalam healing dan spiritual. Hampir semua usaha manusia untuk meraih, mendapatkan (becoming) yang sifatnya psikis, bahkan terus-terusan pingin lebih lagi dan lagi, itu bersumber dari ada perasaan kurang, kayak ada lubang, kosong di dalam dirinya. Di batas tertentu, usaha meraih, mendapatkan (becoming) ini […]
Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri. Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya. Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua […]
Kamu punya konsep di pikiranmu tentang Tuhan, merasa konsep itu paling benar & kamu berkonflik, berantem, agresif sama orang karena itu?
Konsep di pikiranmu tentang Tuhan itu bukanlah Tuhan.
Kita sering terjebak mengira bahwa konsep tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri.
Akibatnya: Kita gampang berkonflik karena merasa konsep kita tentang Tuhan itu paling benar.
Kita melekat (attach) pada kata, simbol, atau doktrin daripada pada pengalaman langsung akan kedamaian, cinta, atau kesadaran.
Tanpa sadar kita menjadikan Tuhan sebagai alat untuk membesarkan ego kita, sebagai objek pikiran. Padahal Tuhan itu tidak terbatas (infinite), berada di luar jangkauan pikiran.
Kita merasa udah tau, bahkan paling tau, jadi kita nggak punya kerendahan hati untuk terus membuka diri, terus belajar di hidup ini.
Kalau kita terjebak pada konsep tentang Tuhan, kita bisa kehilangan keterhubungan dengan realitas hidup saat ini, di sini-kini yang sedang kita alami.
Momen di sini-kini adalah tempat “yang tidak terbatas” (God’s infinite being) selalu ada. Cuma kitanya aja yang terlalu sibuk untuk menyadari-Nya.
Saat kita memberi nama pada sesuatu yang tak terbatas (infinite), yaitu kita menyebutnya “Tuhan”, lalu kita membentuk konsep di pikiran mengenai itu, sebenarnya itu hanyalah cara pikiran manusia yang terbatas (finite) mencoba memahami sesuatu yang jauh melampaui dirinya (infinite).
Jadi itu hanyalah “yang terbatas (finite)” berusaha memahami “yang tidak terbatas (infinite)”.
Tuhan atau realitas sejati itu bersifat tidak terbatas (infinite).
Masalahnya, setiap nama, konsep, atau pun definisi itu pasti membatasi.
Karena itu, apa pun nama, konsep, definisi yang diberikan pikiran tidak akan pernah benar-benar menggambarkan Tuhan yang tidak terbatas.
Seringkali kita beranggapan kita, “aku” sebagai pihak yang terpisah dengan Tuhan. Ada “aku” dan ada Tuhan. “Aku” berusaha berelasi dan memahami Tuhan.
Padahal, pada level terdalam, sebenarnya yang ada hanyalah “yang tidak terbatas”, God’s infinite being, Tuhan, realitas sejati, kesadaran, being.
Diri kita, pikiran kita, yang terbatas (finite) selalu enggak bisa akurat dalam memberi nama, membentuk konsep mengenai “yang tidak terbatas, God’s infinite being”.
Jadi, daripada sibuk di ranah pikiran, dengan memberi nama dan terjebak dalam konsep mengenai Tuhan, lalu merasa paling benar, berkonflik, berantem, agresif… lebih penting di ranah rasa, dengan mengalami dan menyadari “yang tidak terbatas” itu secara langsung.
Analoginya kayak peta dan wilayah sebenarnya.
Kalo peta kita anggap sama persis dengan wilayah sebenarnya, maka kita berhenti menjelajah dan kita mempertahankan asumsi bahwa peta kita sepenuhnya paling benar.
Peta bukanlah wilayah sebenarnya.
Kata “Tuhan” bukanlah Tuhan itu sendiri. Nama hanyalah peta, hanyalah petunjuk, sedangkan kenyataannya jauh lebih luas daripada apa yang bisa dipikirkan atau diucapkan.
Menurutmu, tanpa identitas, label, gelar, tipe kepribadian, desain manusia yang dikategorikan, “aku adalah ini, aku adalah itu,” tanpa diri secara konseptual… Siapa yang kita sebut sebagai “aku”? Siapa “aku”? Siapa sebenar-benarnya “aku”? Sudah lama saya itu penasaran sekaligus bingung dengan jawaban dari pertanyaan: “Siapa aku?” “Siapa sebenar-benarnya aku ini?”. Saking bingungnya, jawabannya saya bawa bercanda: […]
Ketika Dunia Terlalu Bising Pernah nggak sih merasa capek banget dengan dunia? Bangun pagi, buka ponsel, isinya berita perang, komentar penuh kebencian, orang pamer pencapaian, politik yang itu-itu lagi. Kadang saya merasa dunia ini seperti keramaian pasar yang penuh teriakan, dan saya cuma ingin menutup telinga. Tapi anehnya, mau nggak mau, saya tetap harus hidup […]
Proses memulihkan trauma terasa menakutkan itu enggak selalu karena lukanya, tapi karena kita melarikan diri dari rasa kosong. Ada pagi-pagi tertentu di mana saya bangun dengan dada sesak, pikiran kusut, dan tubuh rasanya berat sekali untuk bergerak. Tidak ada peristiwa besar yang terjadi malam sebelumnya, tapi rasa takut itu muncul begitu saja. Anehya, saat saya […]
Selama ini menjalani hidup, kamu beneran sadar… atau autopilot, kayak zombie? Iya, kamu wakeful, tapi apakah kamu mindful? Seringkali kita mengira sudah “sadar”. Misalnya, saat marah lalu bilang, “Aku sadar kok kalau aku lagi marah.” Atau ketika sedih lalu merasa, “Aku tahu perasaanku sekarang.” Tapi, pernahkah kamu perhatikan… Saat marah atau sedih itu terjadi, apakah benar benar ada kesadaran? […]
Sejak kecil, barangkali setiap kita pernah mengalami satu momen yang sampai sekarang terus kita ingat. Tidak selalu momen besar seperti peristiwa kecelakaan atau bencana. Justru sebaliknya, momen itu bisa jadi kelihatan sederhana, bahkan begitu biasa, hingga mungkin orang lain enggak akan menganggapnya penting. Mungkin kamu waktu itu masih SD. Pulang sekolah, pernah bawa nilai ulangan […]
Meski udah mendapatkan yang dulu kita inginkan (pasangan, pekerjaan, pencapaian), maka kita akan tetap saja kembali merasa kosong. Kenapa begitu ya? Pernah nggak, merasa udah mendapatkan yang kamu inginkan, tapi tetap ada ruang kosong di dalam hati? Punya pasangan, karier oke, bisa liburan ke mana pun, tapi entah kenapa, ada rasa yang seperti belum lengkap. […]

Menemani perjalanan batin kembali ke rumah diri. Berbagi renungan tentang kejernihan pikiran, melepaskan keterikatan rasa, dan menghargai ritme hening kehidupan sehari-hari.
Rata-rata 4.8 menit dihabiskan untuk membaca satu renungan secara utuh tanpa terburu-buru.
Sapaan hangat di akhir pekan. Satu refleksi esensial yang ditulis langsung oleh Mas Adjie untuk menemani ruang bernapas Anda.