Arsip Tulisan

Mental Health

Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
22 Juli

Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?” Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal: Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya. Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal […]

2 menit baca
Hanif Muflih
dalam
Relationship
•
15 Juli

Buat yang punya idola, panutan, yaitu profesional kesehatan mental, guru healing, meditasi, spiritual, kamu perlu sadar 1 hal ini, supaya nggak kehilangan dirimu sendiri. Belajar dari seseorang yang kita anggap sebagai guru, kita mengidolakannya, mengikutinya, menjadikannya sebagai panutan, menghormati guru atau siapapun, enggak berarti kita harus mengkultuskannya. Enggak berarti kita terus ngikut manut aja semua […]

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
2 Juli

Mengapa masa kecilmu memengaruhi hidupmu saat kamu dewasa?

Masa kecilmu membentuk landasan utama yang kamu gunakan saat dewasa dalam berpikir, mengelola emosi, berelasi dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan dalam berbagai hal lainnya.

Masa kecilmu menentukan “kacamata” yang kamu gunakan saat dewasa dalam melihat hidup.

Masa kecil kita memengaruhi hidup saat kita dewasa karena pada masa itulah kita pertama kali belajar tentang diri sendiri, orang lain, dan hidup ini.

Sebagai anak kecil, segala sesuatu yang kita lihat kita jadikan sebagai landasan utama, blueprint, “ooo hidup ini begini”. Kita menyerap pengalaman begitu saja dan menjadikannya kesimpulan tentang hidup ini gimana.

Contoh:

  • Kalo sering dikritik, seorang anak bisa menyimpulkan, “Aku ini selalu enggak cukup baik.”
  • Kalo sering diabaikan, bisa langsung menyimpulkan, “Perasaanku enggak penting.”
  • Kalo orang tua sering bertengkar, bisa menyimpulkan, “Ternyata relasi itu bahaya, enggak aman.”
  • Kalo ditinggalkan orang tua, bisa menyimpulkan, “Orang yang kucintai pasti akan meninggalkanku.”
  • Dan sebagainya.

Kesimpulan-kesimpulan itu tanpa disadari sering terbawa sampai kita dewasa.

Akibatnya, saat dewasa, kita sering bereaksi terhadap kehidupan saat ini berdasarkan pengalaman masa kecil, berdasarkan luka masa kecil itu.

Misalnya, pasangan berbeda pendapat sama kamu.

Reaksimu bukan cuma karena beda pendapat yang terjadi saat ini. Tapi juga dipengaruhi pengalaman masa kecil.

Contoh: karena beda pendapat itu, kamu muncul ketakutan berlebihan. Karena blueprint-mu atau “kacamatamu” adalah penolakan atau ditinggalkan yang kamu alami di masa kecil.

Masa kecil, masa lalu, memengaruhi kita karena pikiran terus membawa ingatan dan kesimpulan lama itu ke setiap pengalaman baru saat ini. Kita enggak melihat kenyataan saat ini seapaadanya, tapi kita melihatnya melalui lensa masa lalu.

Dan memahami masa kecil itu bukan untuk menyalahkan orang tua atau terus hidup di masa lalu. Tapi memahami itu untuk menyadari keterkondisian batin, pola yang udah lama terbentuk. Kita menyadari pola itu, maka otomatis kita bukanlah pola itu.

Jadi kita keluar dari pola, enggak terus mengulanginya di hidup saat kita udah dewasa ini.

Masa kecil membentuk banyak pola dalam diri kita, tapi masa kecil enggak harus menentukan gimana kita menjalani sisa hidup kita.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
1 Juli

Orang dekatmu enggak sadar, enggak peduli soal luka batin? Ini tulisan buat orang yang enggak sadar, enggak peduli soal luka batin.

Luka batin itu bukan sebatas soal kejadian yang kamu alami, tapi lebih ke gimana kondisi batinmu akibat mengalami kejadian itu.

Itulah kenapa orang bisa mengalami kejadian yang sama, tapi dampaknya beda. Yang satu kondisi batinnya bisa baik-baik aja, tapi yang satunya bisa aja terluka parah.

Karena ya itu tadi, luka batin itu bukan semata soal apa yang terjadi, tapi lebih ke gimana kejadian itu tersimpan dalam pikiran, perasaan, dan badan kita.

Luka batin itu seperti bekas paku yang menancap di kayu lalu dicabut. Bekas itu masih ada sampai sekarang meski kejadiannya udah lama berlalu.

Luka batin itu, meski kejadian melukai udah dulu di masa lalu, udah lama berlalu, tapi energi luka masih ada di dalam diri kita. Dan mengkondisikan batin kita, memprogram batin kita.

Sehingga kita bereaksi kepada apapun yang kita alami sekarang di hidup saat ini berdasarkan program itu. Apalagi saat kita ke-trigger. Kita jadi menjalani hidup berdasarkan luka.

Contoh: Seorang anak yang sering dimarahi mungkin tumbuh menjadi orang yang selalu takut berbuat salah. Seorang anak yang ditinggalkan bapaknya mungkin tumbuh dengan sering merasa kesepian. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jadi luka batin itu bisa muncul dalam berbagai bentuk: Mudah cemas atau takut, sulit mempercayai orang lain, merasa enggak berharga, people pleasing, berlebihan takut ditolak, mudah tersinggung atau marah, sulit merasa aman meskipun keadaan sebenarnya aman, dan semacamnya.

Luka batin juga enggak selalu berasal dari kejadian besar seperti kekerasan atau musibah. Kadang luka batin bisa dari pengalaman yang berulang.

Contoh: Enggak merasa dicintai, enggak didengarkan, sering dibanding-bandingkan, hidup dalam rumah yang penuh konflik, orang tua enggak hadir secara emosional, dan sebagainya.

Kalo soal pemulihan batin, tentu enggak berarti mengubah masa lalu. Karena gimana pun kita enggak bisa mengubah masa lalu.

Selalu enggak ada kabar baru dari masa lalu.

Enggak berarti juga berusaha melupakan masa lalu. Tapi menyadari ingatan sebatas ingatan, bukan kenyataan saat ini, di sini, kini.

Jadi masa lalu itu, luka itu enggak lagi mengendalikan kita dalam melihat diri sendiri, orang lain, dan dalam menjalani hidup ini.

2 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
30 April

Kata “minder” itu kata serapan dari bahasa Belanda:

Minderwaardigheidcomplex

(Kalau kamu bisa bahasa Belanda, itu bacanya gimana ya?)

Artinya kurang percaya diri, rendah diri, atau merasa tidak mampu dibandingkan orang lain.

Dulu waktu SD, saya minder karena saya mesti pakai kacamata. Sedangkan temen temen deket saya enggak ada yang pake kacamata.

Waktu kuliah di Yogya, saya minder karena saya medok. Karena temen-temen saya kuliah dari Jakarta fasih ngomong: loe-gue.

Awal saya memandu podcast, saya minder karena mesti ngobrol sama orang-orang terkenal yang dulu cuma bisa saya liat di tv.

Dan masih banyak lagi momen yang bikin saya minder.

Temen saya cerita, dia juga minder. Rasa mindernya itu berawal dari dulu dia pernah mengalami kejadian berat, yaitu dia merasa ditinggalkan sama orang tuanya. Lalu kejadian itu nempel di batinnya dalam bentuk perasaan: “Aku ditinggalkan.” Lama-lama itu jadi penyebab utama dari rasa mindernya.

Saya jadi sadar, rasa minder bisa bersumber dari pengalaman masa lalu.

Selain itu saya merasa misal pas saya ketemu orang yang saya anggap “lebih”, lebih keren, lebih sukses, lebih terkenal. Tiba-tiba saya langsung ciut, ngerasa kecil, seperti remahan rengginang.

Tapi kalo ketemu orang yang saya anggap setara sama saya, saya ya nyantai, biasa aja.

Di situ keliatan: Pikiran saya menciptakan gambaran mengenai diri saya dan menciptakan gambaran mengenai orang lain yang saya temui.

Ada gambaran ciptaan pikiran tentang diri saya sendiri dan ada gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain. Lalu dua gambaran itu dibandingin.

Kita berelasi sebatas antar gambaran ciptaan pikiran itu. Bukan berelasi antar diri kita secara nyata.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih kecil atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih besar, maka kita minder.

Kalau gambaran ciptaan pikiran tentang diri sendiri dirasa lebih besar atau gambaran ciptaan pikiran tentang orang lain dirasa lebih kecil, maka kita merasa lebih tinggi.

Jadi minder atau enggak minder itu cuma berdasar gambaran diri ciptaan pikiran, berdasar identitas yang dibangun pikiran. Bukan berdasar hakikat diri.

Gambaran diri itu dipengaruhi masa lalu, status, jabatan, gelar, dan sebagainya.

Semakin kita nempel di gambaran diri itu, semakin gampang kita minder. Karena gambaran diri itu rentan kita bandingkan.

Solusinya yang lebih mendalam bukan jadi “lebih besar”, bukan besarin gambaran diri ciptaan pikiran, tapi justru menyadari dimensi diri, hakikat diri yang lebih dalam daripada gambaran diri, yaitu the deep I, dimensi being.

Ada dimensi diri, yaitu being, yang lebih dalam daripada sekadar gambaran diri ciptaan pikiran.

Nggak sebatas “siapa aku menurut pikiran dengan berbagai labelnya”, tapi “siapa hakikat diriku tanpa semua label.”

Dengan begitu, minder akan surut. Gimana kita ketemu orang berubah. Mau ketemu “orang besar” atau “orang kecil”, jadi minim dorongan buat merasa lebih kecil atau lebih besar. Semua sama aja.

Karena kita enggak lagi melihat orang lain berdasar perbandingan. Hubungan jadi lebih simpel, ya jadi sekadar antar manusia sama manusia.

3 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Spirituality
•
28 Februari

Menurutmu, tanpa identitas, label, gelar, tipe kepribadian, desain manusia yang dikategorikan, “aku adalah ini, aku adalah itu,” tanpa diri secara konseptual… Siapa yang kita sebut sebagai “aku”? Siapa “aku”? Siapa sebenar-benarnya “aku”? Sudah lama saya itu penasaran sekaligus bingung dengan jawaban dari pertanyaan: “Siapa aku?” “Siapa sebenar-benarnya aku ini?”. Saking bingungnya, jawabannya saya bawa bercanda: […]

5 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
27 Februari

Putusnya sebuah hubungan seringkali tidak datang layaknya ledakan yang keras. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada teriakan. Melainkan kesepian yang aneh hingga menjelma jadi perasaan kosong. Seperti rumah yang masih berdiri, tapi penghuninya sudah lama pergi. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi ada yang terasa hilang. Bukan cuma seseorang, tapi diri sendiri juga terasa […]

6 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Relationship
•
26 Februari

Kalau kamu selalu mikirin orang lain, lalu kapan kamu mikirin dirimu sendiri? Jujur pada diri sendiri itu penting. Menyadari dulu perasaan yang muncul di dalam diri itu lebih utama daripada selalu tergesa bereaksi menyenangkan orang lain. Iya, sering kita udah tau itu, tapi cuma berhenti di tau, nggak berlanjut ke dilakukan. Suatu sore, seorang teman […]

5 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mindfulness
•
17 Oktober

Trauma bisa membuat kita hanya hidup di kepala. Akibatnya kita terus waspada, terus siaga, seolah tidak pernah benar-benar aman. Senja itu saya duduk di sebuah taman. Orang-orang sibuk dengan ponselnya, ada juga yang saling berbicara tapi tanpa benar-benar mendengar. Saya memperhatikan langit yang berubah warna, tetapi pikiran saya sendiri justru juga sedang berisik, saling berkejaran, […]

4 menit baca
Adjie Santosoputro
dalam
Mental Health
•
15 Oktober

Badan seolah punya program bahasanya sendiri: lewat detak jantung, napas, atau ketegangan di bagian tertentu. Trauma masa lalu mempengaruhi program itu. Badan sering lebih jujur dari pikiran. Badan Lebih Dulu Bereaksi Beberapa waktu lalu saya duduk di sebuah coffee shop, menikmati kopi sambil menunggu teman. Musik pelan terdengar, orang-orang sibuk dengan laptop masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara […]

4 menit baca

Adjie Santosoputro

Praktisi Hening & Penulis

Menemani perjalanan batin kembali ke rumah diri. Berbagi renungan tentang kejernihan pikiran, melepaskan keterikatan rasa, dan menghargai ritme hening kehidupan sehari-hari.

Surat Sadar

Sapaan hangat di akhir pekan. Satu tulisan untuk menemani ruang pulih.

Tersimpan untuk Nanti
0
Belum ada tulisan yang disimpan. Ketuk ikon penanda untuk membaca di waktu hening.