Seringkali “kamu mencintai dia” itu sebenarnya bukan “kamu mencintai dia”. Tapi hanyalah “kamu takut kehilangan dia”. Ke orang tuamu, keluargamu, pasanganmu, atau anakmu. Seringkali yang kita sebut “cinta” dan “mencintai”, sebenarnya hanyalah pembesaran ego yang ingin memiliki. “Jadi… kamu benar-benar mau pindah?” tanya Neva pelan. Arka mengangguk, tersenyum tipis, “Sudah waktunya, Va. Tawaran itu datang […]
Relasi bukan cuma soal orang lain. Relasi juga cermin yang menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Kumo menatap layar ponsel. Pesan terakhir ke Mila masih belum dibalas. Sudah delapan jam. “Dia marah, ya?” “Aku salah apa?” “Atau aku nggak penting lagi buat dia?” Pikiran-pikiran itu datang silih berganti. Perutnya mual, dadanya sesak. Ia melempar ponsel ke sofa. Arka […]
“Tipe kepribadianku ini, desain kepribadianku itu, aku tu orang yang begini begitu ina inu.” Yang kamu pikir kamu, bukanlah kamu. Pernahkah kamu benar-benar bertanya pada diri sendiri: “Siapa aku?”? Bukan dalam arti nama, pekerjaan, status, tipe desain kepribadian, atau pun image citra mengenai diri kita yang diciptakan pikiran. Tapi lebih ke: Siapa “aku” yang sesungguhnya? […]
Luka trauma lama bisa muncul lagi, tapi kamu bukan luka itu. Kalau kamu terus menganggap dirimu adalah luka itu, kamu akan terus terjebak dalam cerita lama yang tak ada akhirnya. Saatnya sadar: Kamu bukan cerita itu. Kamu bukan awan. Kamu adalah langit yang lebih luas dari luka. Dinda duduk di mejanya, menatap layar laptop kosong. […]
Selama kamu berkata ‘Aku ingin’, maka kamu sebenarnya juga sedang berkata ‘Aku belum punya’. Selama merasa kurang, manifestasi hanya menguatkan rasa kurang. Mulailah dari sadar penuh hadir utuh, merasa cukup dan utuh, di sini-kini. Teman saya mengaduk kopinya, menatap kosong. “Aku udah coba berdoa, afirmasi tiap hari, tulis semua di jurnal,” katanya pelan. “Aku bilang […]
Perselingkuhan tidak hanya sebagai skandal moral, tapi sebagai tanda adanya isu yang lebih dalam. Perselingkuhan bukan hanya soal hadirnya orang ketiga. Pasangan yang berselingkuh, yang membuka pintu juga bertanggung jawab, bukan hanya yang datang dan mengetuknya. Yang mengkhianati bukan orang ketiga. Yang mengkhianati adalah dia yang pernah berjanji setia. Di sudut ruang kerja itu, duduk Restu […]
Kamu bilang ‘iya’ karena beneran kamu mau, atau karena kamu takut bilang ‘tidak’?” “Kalau memang enggak mau, belajarlah bilang “tidak”. Karena kalau kita terus-terusan enggak bilang “tidak” dan terpaksa berkata “iya” demi orang lain, maka tubuh kitalah yang akan berkata “tidak” dalam bentuk sakit fisik.” Malam itu, teman saya duduk di hadapan saya, menarik napas […]
Bahagia yang muncul lalu lenyap, datang dan pergi itu bukan bahagia, itu cuma kondisi pikiran. Bahagia itu esensi alami diri kita (the nature of our being), jadi bahagia itu sejatinya senantiasa ada. Kami duduk berdua di pojok toko buku kecil. Lorong-lorong penuh rak kayu yang seolah menyapa tiap ada yang lewat. Bau kertas buku memenuhi […]
Ketika muncul emosi marah, tunda reaksi marahmu. Daripada luka terjadi tanpa bisa diperbaiki kembali. Daripada yang tersisa hanya penyesalan. “Kamu tipe yang kalo marah langsung meledak? Tunda dulu, ini alasannya…” Di sebuah coffee shop kecil yang sepi di sudut kota, dua sahabat lama duduk berhadapan: Adam dan Rama. Hari itu suasana berbeda. Saking sudah lama mereka ngobrol, […]
“Kamu bisa aja udah ugal-ugalan mencintai seseorang, tapi dia enggak merasa dicintai sama sekali. Karena luka batin, trauma masa lalunya membuat dia sulit menerima cinta.” Malam sudah larut. Di kamarnya yang sempit dan penuh buku, Rafi menatap layar ponsel yang menyala. Panggilan masuk: Dian. Dia menghela napas, lalu menekan tombol hijau. “Ya… halo.” Suara Dian terdengar […]
Menemani perjalanan batin kembali ke rumah diri. Berbagi renungan tentang kejernihan pikiran, melepaskan keterikatan rasa, dan menghargai ritme hening kehidupan sehari-hari.
Sapaan hangat di akhir pekan. Satu tulisan untuk menemani ruang pulih.